Pinrang, Sulawesi Selatan, 28 Juli 2025 — Di sebuah desa kecil di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, puluhan anak-anak Sekolah Dasar (SD) menjalani perjuangan berat setiap hari hanya untuk bisa bersekolah. Mereka harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer melewati jalan yang rusak parah, berlubang dan licin ketika hujan turun, hanya demi menuntut ilmu.
Perjalanan Penuh Tantangan Setiap Pagi
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, para siswa sudah mulai meninggalkan rumah mereka. Mereka berjalan beriringan, kadang sambil berpegangan tangan agar tidak terjatuh di jalan yang licin atau berlubang. Rute yang mereka tempuh bukanlah jalan setapak yang mulus, melainkan jalan desa yang sudah lama tak tersentuh perbaikan.
Salah satu siswa, Fajar (10), bercerita dengan polos, “Kalau jalan kering, debunya banyak sampai masuk ke hidung dan mulut. Kalau hujan, kami harus hati-hati supaya tidak terpeleset.” Meski lelah dan kadang sakit kaki, Fajar tidak pernah absen sekolah karena ia ingin menjadi dokter suatu hari nanti.
Kondisi Jalan yang Memburuk dan Menghambat Pendidikan
Kerusakan jalan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Lubang-lubang besar yang terbentuk akibat minimnya pemeliharaan membuat akses kendaraan menjadi sangat sulit. Akibatnya, banyak keluarga yang memilih tidak mengantar anaknya menggunakan sepeda motor atau kendaraan lain karena memang tidak memungkinkan.
“Kami sudah lapor ke pemerintah daerah berulang kali, tapi belum ada perbaikan yang berarti. Jalan ini sangat berbahaya terutama saat musim hujan. Kadang anak-anak terpaksa berhenti dulu di tengah jalan kalau kondisi terlalu licin,” ujar Kepala Dusun Desa Setempat, Pak Hasan.
Tidak hanya menjadi hambatan fisik, kondisi jalan yang buruk ini juga berdampak pada semangat dan konsentrasi belajar anak-anak. Sesampainya di sekolah, beberapa siswa terlihat lelah dan lesu, sementara guru-guru berusaha memberikan semangat agar mereka tetap fokus.

www.service-ac.id
Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Warga
Perjalanan jauh dan sulit ini juga berdampak pada kehidupan keluarga dan perekonomian warga desa. Orang tua harus mengatur waktu dan tenaga ekstra untuk mengantar atau menjemput anaknya, yang seringkali memakan waktu berjam-jam. Beberapa orang tua mengeluhkan bahwa waktu produktif mereka berkurang hanya untuk memastikan anak-anak mereka bisa pergi ke sekolah dengan selamat.
“Kalau jalan sudah diperbaiki, kami yakin anak-anak akan lebih rajin dan sekolah tidak menjadi beban berat,” kata ibu dari dua siswa SD tersebut. Selain itu, akses jalan yang buruk juga menghambat pengiriman kebutuhan pokok dan fasilitas kesehatan ke desa tersebut.
Upaya dan Harapan Warga Desa
Warga desa bersama-sama berupaya mencari solusi sementara, seperti membuat jalan setapak yang lebih aman dan gotong royong membersihkan area berlumpur. Namun, upaya ini belum cukup mengatasi permasalahan utama, yaitu perbaikan jalan yang memadai dan berkelanjutan.
“Kami berharap pemerintah bisa segera turun tangan memperbaiki jalan ini. Jangan sampai anak-anak kami kehilangan kesempatan untuk belajar hanya karena akses yang buruk,” tambah Pak Hasan dengan nada harap.
Respon Pemerintah dan Rencana Perbaikan
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pinrang menyatakan bahwa pihaknya sudah memetakan kondisi jalan dan berencana mengalokasikan anggaran untuk perbaikan pada tahun anggaran berikutnya. Namun, ia juga mengakui bahwa perbaikan jalan memang memerlukan waktu dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
“Kami memahami kondisi ini sangat mendesak. Kami akan berupaya mempercepat proses perbaikan dan mencari solusi sementara agar akses menuju sekolah menjadi lebih aman,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Pentingnya Infrastruktur Pendidikan untuk Masa Depan Anak Bangsa
Kisah siswa SD di Pinrang ini menjadi pengingat pentingnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur, terutama di daerah terpencil. Akses jalan yang baik bukan hanya soal kemudahan transportasi, melainkan juga penentu utama keberhasilan pendidikan dan kualitas hidup generasi penerus.
Pendidikan adalah hak setiap anak dan harus dijamin oleh negara. Jalan yang rusak bukan hanya menjadi penghambat fisik, tapi juga menjadi simbol ketimpangan pembangunan yang harus segera diatasi.
Kesimpulan
Perjalanan kaki 5 km yang harus ditempuh anak-anak SD di Pinrang demi bersekolah mencerminkan semangat dan ketangguhan mereka dalam menghadapi tantangan. Namun, kondisi ini tidak boleh terus berlangsung tanpa solusi nyata. Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi memperbaiki infrastruktur agar anak-anak mendapatkan kesempatan belajar yang layak dan aman.
Semoga perhatian yang semakin meningkat dari berbagai pihak akan membawa perubahan positif dan memastikan bahwa tidak ada lagi anak Indonesia yang harus berjuang melewati jalan rusak demi pendidikan.
