Oplus_16908288
Bekasi, Mata4.com – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menegaskan pentingnya menghentikan segera konflik internal yang terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menurutnya, perselisihan yang berlarut-larut tidak hanya menciptakan citra buruk bagi organisasi, tetapi juga menguras energi serta berpotensi merembet ke kepengurusan NU di tingkat bawah.
Lili menekankan bahwa soliditas struktur NU di daerah harus tetap terjaga. Ia mengingatkan bahwa membawa-bawa pengurus wilayah dan cabang ke dalam pertikaian elite pusat hanya akan memperluas masalah dan dapat mengancam keutuhan organisasi. Ia menilai, konflik yang terjadi sudah cukup menyita perhatian publik, dan tidak boleh dibiarkan menjadi pemicu perpecahan di berbagai tingkatan.
Menurut Lili, salah satu langkah yang paling bijak adalah mendorong adanya islah antara kubu yang bertikai. Usulan ini juga telah disampaikan oleh berbagai kalangan, termasuk para kiai khos, yang menginginkan penyelesaian damai. Ia menyebut bahwa dialog terbuka dan mencari jalan tengah merupakan solusi terbaik agar konflik bisa disudahi dengan pendekatan win-win solution.
Di sisi lain, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, atau Gus Yahya, sebelumnya menegaskan bahwa keputusan Rapat Harian Syuriyah yang diklaim mencopot dirinya tidak memiliki dasar hukum yang sah. Menurutnya, keputusan itu diambil secara sepihak tanpa memberi kesempatan baginya untuk melakukan klarifikasi. Karena itu, ia menilai proses tersebut secara materiil tidak dapat diterima.

Gus Yahya menekankan bahwa sikapnya bukan untuk mempertahankan kepentingan pribadi, melainkan untuk menjaga ketertiban dan tatanan organisasi PBNU yang telah berjalan. Ia memperingatkan bahwa keputusan yang dibuat tanpa kewenangan berpotensi mengguncang fondasi organisasi dan memunculkan dualisme kepemimpinan, yang akan sangat berbahaya bagi NU.
Lebih lanjut, Gus Yahya menyebut bahwa ia dan jajaran Pengurus Harian bertekad mempertahankan marwah organisasi dari tindakan sepihak yang dapat merusak tatanan. Ia menegaskan bahwa menjaga kesatuan PBNU adalah prioritas utama, terutama di tengah dinamika internal yang cukup panas dalam beberapa pekan terakhir.
Seiring dengan semakin menguatnya dorongan dari para tokoh, kiai khos, dan masyarakat Nahdliyin, langkah menuju islah menjadi semakin relevan. Penyelesaian konflik melalui dialog terbuka dan musyawarah dinilai sebagai jalan terbaik untuk memulihkan stabilitas organisasi serta memastikan PBNU kembali fokus pada pengabdian sosial dan keagamaan.
Dengan pentingnya peran PBNU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, para pihak diharapkan mampu menahan diri, mengutamakan kepentingan organisasi, serta meletakkan ego personal demi menjaga keutuhan jam’iyah. Konflik yang terus berlanjut hanya akan memberi ruang bagi munculnya perpecahan dan melemahkan peran PBNU dalam kehidupan kebangsaan.
Harapan besar kini bertumpu pada upaya penyelesaian melalui islah, agar konflik internal ini segera berakhir dan PBNU dapat kembali bergerak dengan harmoni serta semangat persatuan yang menjadi ciri khasnya.
