Bekasi, Mata4.com — Anggota DPRD Kota Bekasi, Tanti Herawati, menjadi narasumber dalam forum diskusi kelompok terfokus (FGD) bertajuk “Burnout tapi Gak Makeout” yang digelar oleh Swaka Social Movement pada Sabtu (14/2).
Diskusi ini mengangkat fenomena burnout yang kian dekat dengan kehidupan pekerja muda di perkotaan, khususnya generasi Z (Gen Z).
Perwakilan Swaka, Syafiq Rahman, menjelaskan bahwa burnout kini menjadi isu yang banyak dialami anak muda di kota besar. Lingkungan kerja yang dinilai toxic, jam kerja panjang, tekanan produktivitas, serta kaburnya batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sering dianggap hal wajar.
Padahal, menurutnya kondisi tersebut dapat memicu kelelahan emosional, hilangnya motivasi, dan penurunan performa kerja.
“Burnout tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga sistem kerja dan lingkungan perkotaan yang menuntut terus-menerus,” ujarnya.
Rendahnya literasi kesehatan mental membuat kondisi ini kerap dinormalisasi, terutama pada Gen Z yang berada di fase awal karier dan rentan tekanan.
Istilah “burnout tapi gak makeout” digunakan untuk menggambarkan situasi ketika tenaga dan waktu terkuras, namun tidak diikuti peningkatan kesejahteraan maupun kualitas hidup. Karena itu, penanganannya dinilai tidak cukup hanya dari sisi personal, melainkan perlu pendekatan struktural dan kolaborasi lintas sektor.

Dalam forum tersebut, Tanti Herawati yang juga anggota DPRD Kota Bekasi menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam merespons isu ini, terutama bagi Gen Z di Kota Bekasi.
Ia mendorong beberapa langkah konkret, antara lain:
- Menghadirkan program kesehatan mental di sekolah.
- Mendorong kegiatan ekstrakurikuler untuk membantu mengurangi stres.
- Memperkuat pendidikan karakter guna meningkatkan keterampilan sosial dan emosional.
- Membangun kerja sama dengan orang tua dalam memantau kondisi anak.
- Menyediakan fasilitas sekolah yang nyaman dan mendukung.
Menurutnya, burnout merupakan persoalan serius yang dapat memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas generasi muda. Karena itu, program penanganan perlu terus dikembangkan agar lebih efektif dan tepat sasaran.
Diskusi ini juga menekankan pentingnya kesadaran Gen Z terhadap kesehatan mental, serta keberanian untuk mencari dukungan saat menghadapi tekanan. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi muda.
Melalui FGD ini, diharapkan isu burnout tidak lagi dipandang sepele, melainkan menjadi perhatian bersama demi keberlanjutan karier dan kualitas hidup Gen Z di masa depan.
