Yogyakarta, Mata4.com — Dari perbukitan kering di Dusun Siluk, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, muncul potensi agribisnis yang mulai menguat dan memberi harapan baru bagi perekonomian masyarakat setempat, yakni tembakau Kedu Sili. Varietas tembakau lokal yang memiliki aroma khas dan kualitas daun yang unggul ini kini kembali menjadi tumpuan penghasilan utama petani di wilayah perbukitan, sekaligus memperkuat identitas ekonomi daerah Bantul.
Asal-usul dan Karakteristik Tembakau Kedu Sili
Tembakau Kedu Sili merupakan tanaman tembakau varietas lokal yang tumbuh di lahan perbukitan dengan ketinggian sekitar 200-400 meter di atas permukaan laut. Ciri khas tembakau ini terletak pada warna daun yang cerah, ketebalan daun, serta aroma yang kuat namun tidak menyengat, sehingga banyak diminati oleh para perajin rokok tradisional, khususnya jenis klembak menyan.
Budidaya tembakau ini sudah dilakukan oleh masyarakat Siluk secara turun-temurun. Menurut Wagimin (54), petani sekaligus tokoh masyarakat di Siluk, tembakau ini sangat cocok dengan kondisi lahan berbatu dan iklim yang relatif kering di perbukitan tersebut.
“Lahan kami tidak cocok untuk padi atau sayur, tapi tembakau ini justru tumbuh subur di sini. Kami pelajari sejak lama bagaimana cara menanam dan mengolahnya agar kualitasnya bagus,” ujarnya.
Proses Budidaya yang Menjaga Kearifan Lokal
Petani di Siluk mengandalkan metode tradisional dalam proses penanaman tembakau, mulai dari penyemaian biji di persemaian khusus, penanaman di lahan berbatu, hingga panen dan penjemuran daun di bawah sinar matahari.
“Penjemuran daun tembakau adalah tahap paling penting. Kami jemur secara bertahap selama 10-15 hari sampai daun benar-benar kering dan siap dipasarkan,” kata Sumarni (38), salah satu petani perempuan yang tergabung dalam kelompok tani setempat.
Musim kemarau yang cukup panjang tahun ini sangat membantu proses penjemuran sehingga menghasilkan daun tembakau dengan kualitas yang baik, warna cerah, dan tekstur yang tidak mudah rapuh.
Kontribusi Ekonomi terhadap Masyarakat
Keberhasilan budidaya tembakau Kedu Sili telah memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan masyarakat di Siluk. Data dari Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Bantul menunjukkan peningkatan produktivitas tembakau sebesar 12% selama dua tahun terakhir, dengan luas lahan tanaman mencapai 200 hektar.
Menurut Wagimin, harga jual tembakau Kedu Sili di tingkat petani mencapai Rp35.000 hingga Rp50.000 per kilogram, jauh lebih menguntungkan dibandingkan hasil panen tanaman lain di lahan serupa, seperti jagung dan singkong.
“Ini membantu kami memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah dan Potensi Pengembangan
Pemerintah Kabupaten Bantul melalui DPPKP aktif memberikan pendampingan teknis dan fasilitasi bagi petani tembakau Kedu Sili. Kepala Bidang Tanaman Perkebunan, Sumarno, SP, menuturkan bahwa program pendampingan bertujuan agar petani dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas produk secara berkelanjutan.
“Kami mendorong pembentukan kelompok tani tembakau agar mereka mendapat pelatihan, bantuan bibit unggul, serta akses pasar yang lebih luas,” jelas Sumarno.
Lebih lanjut, pemerintah daerah tengah mengeksplorasi pengembangan agrowisata berbasis tembakau Kedu Sili. Desa wisata ini akan menampilkan proses budidaya tembakau, pengolahan tradisional, hingga produk akhir berupa daun tembakau siap jual dan rokok tradisional.
Peluang Pasar dan Tantangan yang Dihadapi
Tembakau Kedu Sili tidak hanya diminati pasar lokal DIY dan Jawa Tengah, tetapi juga mulai menjangkau pasar nasional dan peluang ekspor ke beberapa negara Asia Tenggara. Namun, tantangan yang dihadapi petani masih cukup besar, antara lain keterbatasan fasilitas pengemasan modern, akses langsung ke pasar yang minim, serta ketergantungan pada pengepul yang menentukan harga.
Sri Purwani, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Bantul, mengatakan pemerintah sedang mengupayakan pembentukan koperasi tembakau sebagai solusi untuk memperkuat posisi tawar petani.
“Dengan koperasi, petani bisa mengelola pemasaran dan pengemasan secara mandiri, meningkatkan nilai tambah produk, serta mengurangi ketergantungan pada perantara,” katanya.
Pemerintah juga tengah menginisiasi program sertifikasi produk tembakau untuk menjaga mutu dan keaslian, yang diharapkan dapat membuka akses pasar ekspor secara legal dan terstandarisasi.
Harapan Petani untuk Masa Depan
Para petani berharap pemerintah daerah terus memberikan perhatian dan dukungan, termasuk dalam regulasi terkait budidaya tembakau yang sering kali menjadi isu nasional. Mereka menginginkan kepastian pasar, pelatihan pengolahan dan pengemasan, serta bantuan modal usaha.
Sutarmi (48), petani perempuan yang aktif di kelompok tani Siluk, berharap tembakau Kedu Sili bisa tetap tumbuh sebagai komoditas lokal yang bermanfaat bagi banyak orang.
“Kami ingin budidaya ini terus lestari dan dapat memberikan kesejahteraan bagi keluarga kami,” katanya penuh harap.
Membangun Identitas Ekonomi dan Budaya Lokal
Selain nilai ekonomi, tembakau Kedu Sili juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Imogiri dan Bantul secara luas. Tradisi menanam, memanen, dan mengolah tembakau diwariskan secara turun-temurun dan menjadi simbol kearifan lokal yang patut dijaga.
Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Indra Wijaya, menambahkan bahwa pengembangan agrowisata tembakau tidak hanya sebagai sarana ekonomi, tapi juga pelestarian budaya.
“Melalui agrowisata, wisatawan bisa belajar langsung proses tradisional menanam dan mengolah tembakau, sekaligus menikmati keindahan alam perbukitan Siluk,” ujarnya.

