Hong Kong, Mata4.com — Seluruh aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) dihentikan sementara selama 36 jam sejak Senin dini hari (waktu setempat) akibat terjangan Topan Ragasa, badai tropis berkekuatan tinggi yang diprediksi menjadi salah satu topan paling merusak di Asia Timur dalam beberapa tahun terakhir.
Keputusan penghentian operasional ini diumumkan secara resmi oleh Otoritas Bandara Hong Kong menyusul peringatan cuaca ekstrem yang dikeluarkan oleh Hong Kong Observatory (HKO). Lembaga pengamatan cuaca nasional tersebut menetapkan sinyal peringatan level 10 — tingkat tertinggi dalam sistem peringatan badai tropis di wilayah tersebut.
“Langkah ini diambil demi keselamatan penumpang, awak pesawat, dan seluruh staf bandara. Kami akan terus mengevaluasi kondisi cuaca dan operasional akan dibuka kembali setelah situasi dinyatakan aman,” ujar juru bicara Otoritas Bandara dalam pernyataan tertulis yang diterima media.
Lebih dari 1.000 Penerbangan Terdampak
Data terakhir menyebutkan bahwa sedikitnya 1.100 jadwal penerbangan — termasuk penerbangan internasional dan domestik — dibatalkan atau ditunda. Ribuan penumpang yang sebelumnya telah tiba di terminal keberangkatan langsung diarahkan untuk meninggalkan kawasan bandara dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Maskapai besar seperti Cathay Pacific, Emirates, Singapore Airlines, dan China Airlines telah menyampaikan pemberitahuan resmi terkait perubahan jadwal penerbangan, serta membuka opsi penjadwalan ulang atau pengembalian dana untuk penumpang terdampak.
Beberapa penumpang, termasuk wisatawan asing, mengungkapkan kebingungan dan frustrasi akibat pembatalan mendadak ini. Namun sebagian besar mengaku memahami bahwa keputusan ini diambil demi keselamatan bersama.
“Saya sempat panik, tapi pihak maskapai cukup cepat memberikan informasi dan bantuan. Sekarang saya menginap di hotel dekat bandara sambil menunggu penerbangan pengganti,” ujar Anna Taylor, warga negara Inggris yang hendak pulang ke London.
Topan Ragasa: Dampak dan Ancaman
Topan Ragasa terbentuk di Samudra Pasifik Barat dan bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan angin rata-rata 160–180 km/jam. Hujan deras, gelombang laut tinggi, dan angin kencang mulai dirasakan di pesisir selatan Tiongkok, Makau, dan wilayah barat Taiwan sejak Minggu malam.
Menurut analisis dari Badan Meteorologi Nasional Tiongkok, topan ini akan melintasi wilayah pesisir Tiongkok selatan dan secara bertahap melemah dalam 48–72 jam ke depan. Namun, sebelum melemah, Ragasa diprediksi akan membawa kerusakan besar pada infrastruktur, khususnya di wilayah padat penduduk seperti Hong Kong dan Shenzhen.
Pemerintah Hong Kong telah menginstruksikan penutupan seluruh sekolah, perkantoran, dan layanan transportasi umum selama topan berlangsung. Beberapa pusat perbelanjaan besar dan tempat wisata juga telah ditutup untuk sementara.
Pusat Evakuasi dan Tim Darurat Disiagakan
Sebagai bagian dari kesiapsiagaan, pemerintah setempat telah membuka lebih dari 40 pusat evakuasi yang tersebar di seluruh wilayah administratif Hong Kong. Warga yang tinggal di kawasan rawan longsor dan banjir diminta untuk segera mengungsi dan menghindari area terbuka atau tepi laut.
Tim gabungan dari Kepolisian Hong Kong, Dinas Pemadam Kebakaran, serta Palang Merah setempat telah dikerahkan untuk berjaga di lokasi-lokasi strategis. Sementara itu, rumah sakit dan fasilitas medis meningkatkan kapasitas layanan darurat mereka untuk mengantisipasi lonjakan pasien.
“Kami tidak ingin mengulangi kejadian tahun-tahun lalu di mana badai menyebabkan korban jiwa. Kali ini, kami ambil langkah cepat,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Hong Kong, Leo Chan, dalam konferensi pers.
Tanggapan Pemerintah dan Komunitas Internasional
Pejabat Eksekutif Hong Kong, John Lee, menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil merupakan bagian dari prosedur tanggap darurat yang telah disiapkan sejak dini. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah, menghindari penyebaran informasi tidak valid, dan mematuhi seluruh imbauan dari otoritas resmi.
Komunitas internasional juga mulai menyoroti perkembangan situasi di Hong Kong. Beberapa konsulat asing, termasuk dari Amerika Serikat, Inggris, dan Australia telah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negaranya yang saat ini berada di Hong Kong atau berencana bepergian ke sana.
Kedutaan Besar Indonesia di Hong Kong juga telah mengeluarkan imbauan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) untuk tetap tenang, memantau informasi resmi, dan menghubungi hotline darurat jika membutuhkan bantuan.
“Kami siap membantu WNI yang terdampak, termasuk penjadwalan ulang penerbangan atau kebutuhan darurat lainnya,” kata Konsul Jenderal RI di Hong Kong dalam pernyataan tertulis.
Dampak Ekonomi dan Proyeksi Pemulihan
Penghentian operasional bandara selama 36 jam ini diperkirakan akan berdampak pada rantai logistik dan sektor pariwisata di Hong Kong. Sebagai salah satu bandara tersibuk di Asia, HKIA melayani lebih dari 70 juta penumpang per tahun sebelum pandemi COVID-19.
Penutupan sementara ini juga berpotensi menunda pengiriman barang, termasuk kebutuhan medis, logistik makanan, dan komoditas ekspor-impor lainnya.
Namun, pihak otoritas memastikan bahwa pemulihan operasional akan dilakukan secepat mungkin setelah kondisi dinyatakan aman. Pemeriksaan teknis terhadap landasan pacu, menara pengawas, serta sistem navigasi akan dilakukan sebelum penerbangan dilanjutkan.
Kesimpulan
Topan Ragasa menjadi pengingat kuat bahwa bencana alam dapat menghentikan aktivitas global dalam hitungan jam. Keputusan otoritas Hong Kong untuk menghentikan penerbangan di Bandara Internasional menjadi bukti bahwa keselamatan nyawa lebih utama daripada kepentingan ekonomi jangka pendek.

