Masalembu, Mata4.com – Di tengah kehidupan masyarakat nelayan yang bergantung sepenuhnya pada laut, tradisi Rokat Tase kembali digelar secara khidmat di Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Tradisi ini merupakan ritual tahunan yang telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat pesisir Madura.
Rokat Tase memiliki makna spiritual yang dalam, yakni sebagai wujud rasa syukur atas limpahan hasil laut sekaligus sebagai permohonan keselamatan dan perlindungan dari segala mara bahaya selama menjalani aktivitas melaut. Dalam konteks sosial, ritual ini juga menjadi momen penting mempererat tali persaudaraan dan solidaritas antarwarga.
Asal Usul dan Makna Filosofis Rokat Tase
Secara bahasa, “Rokat” berarti tolak bala atau menolak marabahaya, sementara “Tase” berarti laut dalam bahasa Madura. Jadi, Rokat Tase dapat diartikan sebagai ritual pembersihan atau penolak bala khusus di laut.
Menurut Sejarawan Lokal Masalembu, tradisi ini berakar sejak ratusan tahun lalu, sebagai upaya masyarakat pesisir yang menyadari betul risiko dan ketidakpastian dalam melaut. Ritual ini menjadi sarana komunikasi spiritual antara manusia dan alam, serta sebagai ungkapan ketaatan dan ketergantungan pada Tuhan Yang Maha Esa.
“Laut bagi kami bukan hanya sumber penghidupan, tapi juga makhluk hidup yang harus dihormati. Rokat Tase mengajarkan kami untuk hidup harmonis dengan alam,” ungkapnya.
Rangkaian Acara yang Sakral dan Terstruktur
Pelaksanaan Rokat Tase selalu dimulai dengan persiapan matang oleh tokoh adat dan tokoh agama. Masyarakat berkumpul di balai desa untuk memulai doa bersama dan pembacaan zikir yang dipimpin oleh ustadz setempat. Doa ini bertujuan memohon keselamatan bagi seluruh nelayan dan keluarganya.
Setelah doa, warga membawa sesaji berupa hasil bumi, seperti nasi tumpeng, buah-buahan, kue tradisional, serta hewan ternak seperti kambing atau ayam. Sesaji ini diarak dalam prosesi yang meriah menuju pantai.
Perahu-perahu nelayan yang telah dihias dengan warna-warni tradisional siap mengantarkan sesaji ke tengah laut. Saat pelarungan, warga menatap ke arah laut dengan harapan doa mereka dikabulkan dan laut senantiasa aman dan memberi berkah.
Peran Sosial dan Spiritualitas dalam Rokat Tase
Ritual Rokat Tase bukan hanya sekadar kegiatan seremonial. Menurut H. Sulaiman, tokoh adat Masalembu, kegiatan ini memperkuat ikatan sosial masyarakat.
“Setiap tahun kami bersatu, melupakan perbedaan, menyatukan doa dan harapan. Ini menguatkan persaudaraan dan solidaritas, hal yang sangat penting dalam menghadapi kerasnya kehidupan di laut,” jelasnya.
Rokat Tase juga menjadi ajang pengingat nilai-nilai religius dan kultural yang mengajarkan rasa syukur dan kesederhanaan. Upacara ini mengajarkan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan manusia hanya sebagai pengelola yang bertanggung jawab.
Pelibatan Generasi Muda untuk Pelestarian Tradisi
Sadar bahwa modernisasi dan digitalisasi membawa dampak perubahan budaya, warga Masalembu secara aktif melibatkan generasi muda dalam tradisi ini. Anak-anak dan remaja dilibatkan sebagai peserta aktif dalam berbagai prosesi, seperti pembawa sesaji, penari, dan pemandu acara.
Umi Rofi’ah, seorang guru yang menginisiasi program pengenalan budaya tradisional di sekolah, mengatakan:
“Kami ingin anak-anak mengenal akar budaya mereka dan merasa bangga akan warisan leluhur. Dengan melibatkan mereka langsung, kami harap tradisi ini akan terus hidup dan berkembang.”
Sekolah setempat juga memasukkan pendidikan budaya lokal dalam kurikulum sebagai upaya pelestarian yang sistematis.
Pengembangan Pariwisata Budaya Berbasis Rokat Tase
Pemerintah Kabupaten Sumenep, melalui Dinas Pariwisata, melihat potensi besar Rokat Tase sebagai daya tarik wisata budaya yang unik. Oleh karena itu, tradisi ini dimasukkan ke dalam kalender wisata budaya tahunan dengan dukungan penyelenggaraan yang lebih terstruktur dan promosi yang masif.
Acara pendukung seperti pentas musik tradisional saronen, pertunjukan tari topeng, bazar kuliner laut, dan pameran kerajinan tangan lokal turut digelar untuk memberikan pengalaman lengkap bagi wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Sumenep, Hj. Lilik Sundari, menuturkan:
“Rokat Tase tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan pariwisata budaya yang berkembang, pendapatan warga terutama nelayan dan pengrajin dapat meningkat.”
Dimensi Lingkungan dan Ekologis Tradisi
Selain aspek budaya dan sosial, Rokat Tase juga mengandung pesan penting terkait kelestarian lingkungan laut. Dr. Ahmad Zaini, pakar budaya dan lingkungan dari Universitas Trunojoyo Madura, menyoroti bahwa ritual pelarungan sesaji membawa pesan simbolis bahwa laut harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
“Pesan ekologi yang tersirat dalam Rokat Tase sangat penting di era krisis lingkungan saat ini. Masyarakat nelayan menyadari bahwa keseimbangan ekosistem laut harus dijaga agar keberlangsungan hidup mereka tetap terjamin,” ujar Dr. Zaini.
Pesan ini selaras dengan prinsip keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Seperti banyak tradisi lokal lainnya, Rokat Tase menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pengaruh globalisasi, perubahan pola pikir masyarakat, hingga risiko kehilangan generasi muda yang beralih ke budaya modern.
Namun, dengan dukungan bersama antara tokoh adat, pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat luas, tradisi ini diharapkan mampu bertahan dan berkembang.
“Pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat, terutama generasi muda. Kami berharap Rokat Tase akan tetap menjadi warisan berharga yang menguatkan jati diri dan kearifan lokal Madura,” pungkas H. Sulaiman.
Kesimpulan
Rokat Tase merupakan warisan budaya yang kaya makna dan memiliki nilai spiritual, sosial, ekologis, serta ekonomi yang sangat relevan bagi masyarakat pesisir Madura. Ritual ini mengajarkan pentingnya rasa syukur, keharmonisan dengan alam, serta solidaritas sosial.
Melalui pelestarian dan pengembangan yang berkelanjutan, Rokat Tase dapat terus menjadi identitas budaya yang menginspirasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya nasional.

