Indramayu, Mata4.com – Kasus pembunuhan satu keluarga di Kelurahan Paoman, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menjadi tragedi yang mengguncang masyarakat. Lima anggota keluarga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan terkubur dalam satu liang di halaman belakang rumah mereka. Kepolisian mengonfirmasi bahwa peristiwa tersebut diduga kuat merupakan kasus pembunuhan berencana.
Peristiwa ini memunculkan duka mendalam, sekaligus kekhawatiran masyarakat luas, mengingat para korban terdiri dari tiga orang dewasa dan dua anak di bawah umur.
Awal Mula Penemuan: Warga Curiga karena Rumah Sepi
Pada hari Senin, 1 September 2025, sekitar pukul 17.00 WIB, sejumlah warga yang tinggal di sekitar rumah korban merasa curiga. Rumah keluarga tersebut tampak sepi selama beberapa hari, dan bau tak sedap mulai tercium dari area belakang rumah.
Kecurigaan warga meningkat karena korban, yang dikenal cukup aktif dalam lingkungan, tidak terlihat beraktivitas seperti biasa. Warga kemudian memutuskan untuk masuk ke rumah dan menemukan adanya gundukan tanah mencurigakan di halaman belakang. Dari gundukan itu terlihat bagian tubuh manusia.
Warga segera melaporkan temuan tersebut ke aparat kepolisian. Tim gabungan dari Polres Indramayu dan Polda Jawa Barat langsung melakukan olah TKP dan penggalian. Hasilnya, ditemukan lima jenazah dalam satu liang berukuran sekitar 4 meter x 1,5 meter dengan kedalaman ±4 meter.
Identitas Para Korban
Pihak kepolisian mengidentifikasi lima jenazah tersebut sebagai satu keluarga yang terdiri dari:
- S (76) – kakek, pemilik rumah.
- B (±45) – anak kandung S.
- E (±40) – istri dari B.
- Seorang anak perempuan (7 tahun).
- Seorang bayi perempuan (sekitar 8–10 bulan).
Kelima jenazah langsung dibawa ke rumah sakit untuk proses identifikasi lanjutan dan autopsi oleh tim forensik guna mengetahui penyebab pasti kematian.
Kondisi Penguburan Mengindikasikan Perencanaan
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, kelima jenazah tersebut diduga telah meninggal dunia lebih dari 48 jam sebelum ditemukan. Posisi jasad di dalam liang menunjukkan adanya pengurutan penguburan, dimulai dari korban dewasa hingga anak-anak, dengan posisi tubuh ditumpuk dalam satu lubang.
Kapolres Indramayu menyebut bahwa cara penguburan korban yang sistematis, serta kedalaman lubang yang cukup besar, mengindikasikan bahwa pembunuhan ini telah direncanakan sebelumnya oleh pelaku.
“Pola penguburan menunjukkan adanya persiapan. Kedalaman dan urutan penguburan tidak mungkin dilakukan secara spontan,” ujar Kapolres dalam keterangan pers.
Penangkapan Dua Terduga Pelaku
Selang beberapa hari setelah penemuan, aparat kepolisian berhasil menangkap dua orang terduga pelaku yang diduga terlibat langsung dalam kasus ini. Keduanya berinisial R (35) dan P (29), warga Kabupaten Indramayu. Penangkapan dilakukan di dua lokasi berbeda di wilayah Kedokan Bunder dan sekitarnya, setelah pelaku sempat melarikan diri.
Dalam pemeriksaan awal, R diduga menjadi otak pelaku, sementara P turut membantu dalam proses pembunuhan dan penguburan korban. Polisi masih melakukan pendalaman terhadap motif dan keterlibatan pihak lain.
Dugaan Motif: Konflik Keuangan
Dari informasi sementara yang dihimpun, diketahui bahwa R memiliki hubungan bisnis dengan salah satu korban, B. R sempat menyewa kendaraan milik B namun terjadi perselisihan setelah kendaraan yang disewa mengalami kerusakan. Ketika R meminta uang sewa dikembalikan, permintaannya ditolak oleh B karena uang tersebut sudah digunakan untuk keperluan keluarga.
R kemudian diduga menyusun rencana pembunuhan bersama P. Keduanya mendatangi rumah korban dengan maksud konfrontasi, namun berakhir dengan tindak kekerasan yang menyebabkan seluruh penghuni rumah tewas.
Namun, kepolisian menekankan bahwa informasi ini masih bersifat dugaan dan belum dapat disimpulkan sebagai motif pasti. Proses pendalaman keterangan dan penyelidikan forensik masih berlangsung.
Reaksi Masyarakat dan Pemerintah Daerah
Warga sekitar mengaku sangat terkejut dan berduka atas tragedi ini. Salah satu tetangga, yang enggan disebutkan namanya, menyebut bahwa keluarga korban dikenal sebagai orang baik, ramah, dan tidak pernah terdengar memiliki konflik terbuka dengan siapa pun.
“Kami tidak percaya ini terjadi di lingkungan kami. Keluarga itu ramah dan sering membantu warga. Sangat menyedihkan,” ujar warga setempat.
Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui Dinas Sosial juga telah memberikan bantuan kepada keluarga korban dan turut mendampingi proses pemakaman.
Langkah Lanjut Penegakan Hukum
Pihak kepolisian menyatakan komitmennya untuk mengusut tuntas kasus ini secara profesional dan transparan. Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, termasuk melalui media sosial, agar tidak mengganggu proses hukum dan menimbulkan kegaduhan.
Kapolres juga menegaskan bahwa setiap informasi akan dikonfirmasi dan diumumkan secara resmi kepada publik melalui jalur komunikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Etika dalam Pemberitaan
Dalam memberitakan kasus ini, media diminta mematuhi prinsip Kode Etik Jurnalistik, antara lain:
- Mengedepankan asas praduga tak bersalah terhadap terduga pelaku.
- Tidak menampilkan identitas korban anak-anak secara gamblang demi melindungi hak dan privasi keluarga.
- Tidak menyudutkan kelompok atau individu tanpa dasar hukum yang jelas.
- Menyajikan informasi yang akurat dan bersumber resmi.
Penutup
Kasus pembunuhan satu keluarga di Indramayu ini merupakan tragedi kemanusiaan yang menyita perhatian publik. Penegakan hukum harus berjalan dengan adil dan transparan, sementara masyarakat diharapkan tetap tenang, tidak terprovokasi, dan tidak terjebak dalam spekulasi.
Kejadian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya penyelesaian konflik secara damai, serta perlunya kewaspadaan dan solidaritas sosial di lingkungan tempat tinggal.

