Jakarta, Mata4.com — Status ibu kota negara resmi berpindah ke Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Pergeseran itu menandai babak baru bagi Jakarta. Tidak lagi menjadi pusat pemerintahan, kota metropolitan ini diarahkan untuk tampil sebagai kota global, pusat ekonomi, bisnis, perdagangan, hingga jasa internasional. Namun, di balik semangat modernisasi, ada pesan penting dari para budayawan, akademisi, dan masyarakat: transformasi Jakarta harus tetap melekatkan identitas budaya Betawi.
Budaya Betawi sebagai Ruh Kota
Budaya Betawi dianggap sebagai ruh Jakarta. Bahasa sehari-hari, kesenian tradisional seperti lenong, tanjidor, dan ondel-ondel, hingga kuliner khas kerak telor dan soto Betawi, semuanya menjadi identitas yang tak tergantikan. “Jakarta bisa jadi kota modern, bahkan kota global. Tapi jangan sampai kehilangan jati dirinya. Budaya Betawi harus tetap hidup dan menjadi wajah Jakarta,” kata seorang budayawan Betawi dalam sebuah diskusi kebudayaan.
Seiring pesatnya pembangunan, kekhawatiran muncul bahwa budaya Betawi akan semakin terpinggirkan. Generasi muda lebih akrab dengan budaya populer global ketimbang tradisi lokal. Jika tidak ada langkah serius, dikhawatirkan identitas asli Jakarta hanya akan tinggal kenangan.
Komitmen Pemerintah Daerah
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menegaskan komitmennya menjaga warisan Betawi. Berbagai program pelestarian digulirkan, mulai dari penguatan regulasi kebudayaan, pembangunan taman budaya, hingga revitalisasi kawasan bersejarah. Festival budaya Betawi, pameran seni, hingga lomba kuliner tradisional rutin digelar untuk memberi ruang bagi komunitas lokal mengekspresikan diri.
“Transformasi Jakarta tidak boleh melupakan budaya lokal. Kami ingin pembangunan tetap sejalan dengan upaya pelestarian budaya Betawi. Identitas inilah yang membuat Jakarta berbeda dengan kota-kota lain,” kata seorang pejabat Pemprov DKI Jakarta.
Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal
Di bidang pariwisata, Pemprov DKI juga melihat potensi besar dari budaya Betawi. Kuliner, busana tradisional, hingga pertunjukan seni bisa dikemas menjadi daya tarik wisata yang unik. Kehadiran ondel-ondel di festival internasional, misalnya, tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana diplomasi budaya.
Pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal ini sejalan dengan tren global yang mengedepankan pengalaman otentik. Wisatawan cenderung mencari hal-hal khas dan berbeda, bukan sekadar gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan modern.

Tantangan Modernisasi
Meski begitu, tantangan menjaga budaya Betawi di tengah arus modernisasi tidaklah mudah. Urbanisasi yang tinggi membuat Jakarta menjadi rumah bagi berbagai etnis dan budaya. Globalisasi juga menghadirkan gaya hidup baru yang sering kali menggeser tradisi lama.
Pengamat perkotaan menekankan pentingnya keseimbangan. Menurut mereka, pembangunan infrastruktur modern seperti MRT, LRT, dan kawasan bisnis elite tetap bisa dikolaborasikan dengan elemen budaya lokal. Misalnya, penataan ruang publik yang memuat ornamen Betawi atau penamaan jalan dan stasiun dengan istilah lokal.
Harapan untuk Masa Depan
Ke depan, Jakarta diharapkan dapat menjadi contoh kota modern yang tidak kehilangan akar budayanya. Dengan memadukan modernitas dan tradisi, Jakarta bisa tampil sebagai kota yang inklusif, berdaya saing, namun tetap memiliki karakter kuat.
“Kalau budaya Betawi hilang, Jakarta akan kehilangan rohnya. Maka penting sekali bagi pemerintah, komunitas, dan warga Jakarta untuk bersama-sama merawat budaya ini,” tutur seorang akademisi Universitas Negeri Jakarta.
Menjaga Warisan di Tengah Transformasi
Transformasi Jakarta memang membawa banyak peluang, tetapi juga risiko. Oleh karena itu, menjaga keberlanjutan budaya Betawi tidak boleh dipandang sebagai beban, melainkan sebagai investasi identitas. Setiap festival budaya, setiap kuliner tradisional, setiap pertunjukan seni, adalah bagian dari mozaik besar yang membentuk wajah Jakarta.
Dengan tetap melekatkan budaya Betawi dalam proses pembangunan, Jakarta bukan hanya sekadar kota global. Ia akan menjadi kota yang unik, membanggakan, dan relevan di mata dunia, sekaligus tetap akrab dan bermakna bagi warganya sendiri.
