Jakarta, Mata4.com — Sepak bola kerap dipandang sebagai permainan 90 menit di atas lapangan, sekadar adu strategi dan fisik demi meraih kemenangan. Namun bagi tiga pilar muda Timnas Indonesia — Marselino Ferdinan, Rafael Struick, dan Justin Hubner — sepak bola adalah lebih dari itu. Ini adalah bentuk perjuangan, pembuktian diri, serta wujud pengabdian terhadap bangsa dan identitas nasional.
Ketiganya merupakan bagian dari generasi muda yang kini mengisi posisi inti dalam skuad Garuda, di bawah arahan pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong. Dalam wawancara resmi usai sesi latihan di Stadion Madya, Jakarta, ketiganya berbagi pandangan tentang makna yang mereka rasakan saat mengenakan seragam Tim Nasional Indonesia.
Marselino Ferdinan: Dari Surabaya untuk Merah Putih
Marselino Ferdinan (21), gelandang serang yang telah malang melintang di berbagai kelompok usia Timnas, menyebut bahwa setiap kali tampil di lapangan, ia membawa beban moral yang besar. Bagi pemain kelahiran Surabaya ini, menjadi bagian dari Timnas bukan hanya soal teknis bermain, tapi juga soal tanggung jawab dan harapan rakyat.
“Saya dibesarkan dalam lingkungan sederhana. Bisa masuk Timnas adalah pencapaian besar, tapi juga amanah. Saya tahu, banyak anak di luar sana bermimpi seperti saya. Jadi saya harus bermain dengan hati, bukan hanya otot,” ujar Marselino.
Ia juga menekankan pentingnya karakter dan mentalitas juang dalam membela Timnas. “Permainan kami bisa jadi inspirasi. Anak-anak kecil menonton kami bukan hanya untuk hiburan, tapi juga belajar semangat dan nilai perjuangan.”
Marselino telah mencatatkan lebih dari 30 caps di berbagai ajang internasional, dan dikenal sebagai pemain yang memiliki visi permainan yang matang meski usianya masih muda.
Rafael Struick: Menyatukan Dua Dunia, Setia pada Satu Bendera
Rafael Struick (22) adalah penyerang kelahiran Belanda yang memutuskan membela Indonesia melalui proses naturalisasi. Bagi Rafael, pilihan tersebut bukan hanya soal kesempatan bermain di level internasional, tetapi karena ikatan emosional dan historis dengan tanah leluhurnya.
“Saya tumbuh di lingkungan yang beragam, dan Indonesia selalu menjadi bagian dari cerita keluarga saya. Saat datang ke sini dan melihat semangat pendukung Timnas, saya langsung merasa bahwa ini rumah kedua saya,” tutur Rafael.
Ia juga menambahkan bahwa sepak bola adalah medium pemersatu budaya, dan Timnas adalah contoh nyata dari keberagaman yang harmonis. “Kami berasal dari latar belakang berbeda, tapi di lapangan kami satu. Kami punya tujuan yang sama: membawa kebanggaan untuk Indonesia.”
Sejak memperkuat Timnas, Rafael tampil konsisten dan telah mencetak gol-gol penting di laga internasional, termasuk dalam kualifikasi Piala Asia dan turnamen regional.
Justin Hubner: Bek Tangguh dari Eropa, Berjiwa Garuda
Satu lagi nama yang menjadi sorotan adalah Justin Hubner (22), bek tengah yang juga berdarah Belanda-Indonesia. Saat ini bermain di liga Eropa, Hubner menjadi tulang punggung lini pertahanan Timnas dengan gaya bermain disiplin dan tenang.
Meski tumbuh dan mengasah kemampuan sepak bola di Eropa, Hubner mengaku merasakan pengalaman emosional yang berbeda saat bergabung dengan Timnas Indonesia.
“Di Eropa, saya bermain dengan profesionalisme tinggi, tapi saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia sebelum pertandingan, rasanya sangat berbeda. Ada kebanggaan, ada emosi, dan ada rasa tanggung jawab yang tidak saya temukan di tempat lain,” ucap Hubner.
Ia juga menyebut adaptasi gaya bermain sebagai tantangan yang membentuk karakternya. “Gaya bermain di Asia Tenggara lebih cepat, lebih fisikal. Saya belajar beradaptasi dan saya menikmati proses itu. Ini bagian dari pengabdian saya,” tambahnya.
Lebih dari Sekadar 90 Menit
Bagi ketiga pemain ini, sepak bola bukanlah ruang kosong yang hanya diisi oleh statistik, skor, atau trofi. Lebih dari itu, sepak bola menjadi wadah untuk mengungkapkan rasa cinta tanah air, semangat kebersamaan, dan pengabdian terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Pelatih Shin Tae-yong dalam pernyataan resminya memuji etos kerja dan mentalitas tiga pemain tersebut. Ia menyebut mereka sebagai simbol generasi baru Timnas Indonesia yang tidak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga memiliki kedewasaan dalam memaknai peran mereka di tim nasional.
“Marselino, Rafael, dan Hubner adalah contoh pemain yang bermain dengan hati. Mereka tidak hanya mengejar kemenangan, tapi juga kehormatan,” ujar Shin.
Pandangan Pengamat: Pemain Muda Sebagai Agen Persatuan
Pengamat olahraga dan budaya dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Diah Nuraini, menilai bahwa pendekatan emosional dan nasionalis dari pemain muda seperti Marselino, Rafael, dan Hubner bisa menjadi elemen penting dalam pembangunan karakter bangsa melalui olahraga.
“Ketika pemain muda menunjukkan sikap cinta tanah air dan tanggung jawab sosial, itu bisa berdampak luas. Anak-anak muda bisa meniru mereka, dan sepak bola menjadi media pembelajaran karakter,” kata Dr. Diah.
Menurutnya, sepak bola tidak hanya punya fungsi hiburan, tapi juga sosial dan budaya. “Ketika Timnas bermain, mereka bukan hanya mewakili PSSI, tapi seluruh rakyat Indonesia. Dan ketika pemain memaknainya sebagai pengabdian, maka akan tercipta hubungan emosional yang kuat antara tim dan pendukung,” tambahnya.
Menatap Masa Depan Sepak Bola Indonesia
Dengan masih banyak agenda besar ke depan, termasuk kualifikasi Piala Dunia dan persiapan Piala Asia, keberadaan trio muda ini menjadi harapan baru bagi publik sepak bola Tanah Air. Konsistensi, kerja keras, dan semangat nasionalisme mereka dinilai bisa menjadi fondasi bagi kebangkitan prestasi Timnas Indonesia.
Di tengah tekanan ekspektasi publik dan tantangan regenerasi pemain, Marselino, Rafael, dan Justin menunjukkan bahwa pemain muda Indonesia mampu tampil tidak hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai panutan yang menginspirasi.
Bagi mereka, sepak bola memang bukan sekadar pertandingan di lapangan. Ia adalah panggung perjuangan dan jalan pengabdian. Dan di pundak mereka, harapan bangsa terus disemai.

