Bekasi, Mata4.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perhatian dunia setelah menyatakan keyakinannya bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky “hampir” menyetujui rencana pemerintahannya untuk mengakhiri perang dengan Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat (21/11) di Ruang Oval ketika Trump menjamu Wali Kota New York City terpilih, Zohran Mamdani.
Trump memberikan batas waktu hingga 27 November bagi Zelensky untuk memberikan jawaban terkait usulan perdamaian yang diajukan Washington. Menurutnya, langkah tersebut merupakan cara efektif untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung sejak Februari 2022.
“Kami pikir kami punya cara untuk mencapai perdamaian, dia harus menyetujuinya,” ujar Trump. “Saya pikir mereka sudah cukup dekat, tetapi saya tidak ingin memprediksi.”
Pernyataan itu muncul setelah Zelensky mengatakan bahwa Kiev sedang mengintensifkan pembahasan dengan Washington mengenai proposal penyelesaian perang. Diskusi tersebut menyusul panggilan telepon selama hampir satu jam antara Zelensky dan Wakil Presiden AS JD Vance, serta Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll.
Dalam pernyataan resminya melalui Telegram, Zelensky menyebut bahwa kedua pihak telah membahas “banyak detail usulan pihak Amerika untuk mengakhiri perang,” sambil menekankan bahwa Ukraina berusaha memastikan solusi yang “bermartabat dan benar-benar efektif untuk mencapai perdamaian abadi.”

Zelensky juga menegaskan bahwa Ukraina selalu menghormati keinginan Presiden AS untuk mengakhiri pertumpahan darah. Ia menyambut positif setiap proposal yang dinilai realistis, sambil menekankan pentingnya menjaga komunikasi konstan antara kedua negara.
Selain itu, Zelensky menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kesediaan Washington untuk bekerja sama, termasuk kolaborasi dengan negara-negara Eropa melalui koordinasi keamanan nasional. Kiev berharap pendekatan multilateral ini dapat membuka jalan menuju kesepakatan damai yang berkelanjutan.
Diskusi intensif ini berlangsung di tengah spekulasi mengenai bentuk final proposal AS serta tekanan diplomatik terhadap Kiev. Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa AS mempertimbangkan menahan bantuan militer dan intelijen jika Ukraina tidak menyetujui rencana tersebut. Meski demikian, seorang pejabat AS menolak memberikan detail, namun mengakui bahwa terdapat “tersirat kuat” bahwa Washington menginginkan Kiev menyetujuinya.
“Setiap perubahan akan diputuskan oleh presiden sendiri,” kata pejabat itu kepada Anadolu, menegaskan bahwa keputusan final tetap berada di tangan Trump.
Ketegangan diplomatik ini menambah dinamika baru dalam upaya mengakhiri konflik Ukraina–Rusia yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun. Dengan batas waktu 27 November yang semakin dekat, perhatian dunia tertuju pada bagaimana Zelensky dan pemerintahnya akan merespons tekanan diplomatik dari Washington serta apakah proposal tersebut benar-benar dapat menghadirkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
