Jakarta, Mata4.com – Wakil Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Dr. Siti Nurhasanah, angkat bicara terkait kekhawatiran masyarakat mengenai pelaksanaan Tes Kompetensi Awal (TKA) yang saat ini berlangsung di berbagai sekolah di seluruh Indonesia. Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (8/9), Wamendikdasmen secara tegas menegaskan bahwa hasil dari TKA tidak akan menjadi penentu kelulusan siswa pada jenjang pendidikan saat ini.
Fungsi dan Tujuan Tes Kompetensi Awal
Dr. Siti Nurhasanah menjelaskan bahwa Tes Kompetensi Awal merupakan salah satu instrumen evaluasi yang berfungsi sebagai alat diagnostik untuk mengetahui kemampuan dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah dan akan dipelajari. Menurutnya, TKA dirancang agar guru dapat memahami kondisi awal siswa pada setiap awal tahun ajaran baru sehingga dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran.
“TKA tidak dirancang untuk menjadi ujian akhir atau penentu kelulusan. Melainkan, hasilnya akan menjadi bahan bagi guru dan sekolah untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dan menyesuaikan metode pengajaran demi meningkatkan kualitas pembelajaran,” ujar Dr. Siti.
Meredam Kekhawatiran dan Misinformasi di Masyarakat
Kekhawatiran masyarakat, khususnya para orang tua dan siswa, muncul setelah tersebarnya berbagai informasi yang salah kaprah mengenai peran TKA. Beberapa pihak mengira bahwa nilai TKA akan menjadi faktor penentu kelulusan, yang menyebabkan kecemasan berlebihan di kalangan pelajar.
Wamendikdasmen menegaskan pentingnya masyarakat untuk memperoleh informasi dari sumber resmi agar tidak terjebak pada berita hoaks atau informasi yang belum diverifikasi kebenarannya. “Kami mengimbau agar seluruh pihak, baik siswa, orang tua, maupun pendidik, selalu merujuk pada informasi resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi agar tidak terjadi kesalahpahaman,” katanya.
Peran Guru dan Sekolah dalam Mendukung Proses Pembelajaran
Selain itu, Dr. Siti mengingatkan bahwa peran guru dan sekolah sangat krusial dalam mendampingi siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan memanfaatkan hasil TKA, guru dapat mengidentifikasi area mana yang perlu mendapat perhatian khusus serta memberikan bimbingan tambahan bagi siswa yang membutuhkan.
“Penting bagi guru untuk menggunakan hasil tes ini secara konstruktif, bukan sebagai alat hukuman atau diskriminasi terhadap siswa,” tambahnya.
Komitmen Pemerintah dalam Sistem Pendidikan yang Adil dan Berkualitas
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terus berkomitmen untuk memperbaiki sistem evaluasi pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan dan keadilan bagi seluruh peserta didik di Indonesia. Pemerintah secara konsisten berupaya menciptakan kebijakan yang mendukung suasana belajar yang kondusif dan meminimalisir tekanan berlebih pada siswa.
“Pendidikan adalah fondasi bangsa, dan setiap kebijakan yang kami buat bertujuan untuk memberikan kesempatan terbaik bagi setiap anak Indonesia meraih potensi maksimalnya,” kata Dr. Siti.
Pesan untuk Orang Tua dan Siswa
Dalam kesempatan yang sama, Wamendikdasmen mengimbau agar orang tua memberikan dukungan moral dan psikologis kepada anak-anak mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Menurutnya, suasana belajar yang tenang dan bebas dari tekanan berlebihan sangat penting untuk perkembangan optimal siswa.
“Orang tua diharapkan untuk tidak ikut menambah beban pikiran siswa dengan kekhawatiran yang tidak berdasar. Mari kita dukung anak-anak kita agar tetap semangat belajar dan percaya diri,” ujarnya.
Langkah Selanjutnya
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai fungsi dan tujuan TKA. Selain itu, kementerian juga mengoptimalkan pelatihan bagi guru agar dapat memanfaatkan hasil tes dengan efektif dalam proses pembelajaran.
“Transparansi dan komunikasi yang baik menjadi kunci agar masyarakat dapat memahami tujuan dan manfaat setiap kebijakan pendidikan yang diterapkan,” tutup Dr. Siti.

