Penyakit Diam-Diam Ini Bisa Merusak Organ Vital Anda Jika Tak Dikendalikan
Jakarta, 28 Juli 2025 – Hipertensi atau tekanan darah tinggi selama ini dikenal sebagai penyebab utama penyakit jantung dan stroke. Namun, banyak yang belum menyadari bahwa hipertensi juga merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya gagal ginjal kronis, sebuah kondisi serius yang bisa mengancam nyawa jika tidak ditangani sejak dini.
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal, mengganggu fungsi filtrasi, hingga akhirnya menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara progresif. Jika tidak ditangani dengan benar, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir, yang memerlukan cuci darah (hemodialisis) atau transplantasi ginjal.
Bagaimana Hipertensi Merusak Ginjal?
Menurut dr. Rina Andayani, SpPD-KGH, spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, ginjal memiliki jutaan pembuluh darah kecil yang berfungsi menyaring limbah dan cairan dari darah. Hipertensi menyebabkan tekanan berlebih pada pembuluh-pembuluh ini, sehingga lama kelamaan rusak dan kehilangan kemampuan menyaring secara optimal.
“Ginjal dan tekanan darah sangat erat hubungannya. Ketika tekanan darah terus-menerus tinggi, pembuluh darah ginjal bisa menebal, menyempit, atau mengeras. Akibatnya, aliran darah ke ginjal terganggu dan ginjal mulai kehilangan fungsi,” jelas dr. Rina.
Gagal Ginjal Kronis: Penyakit yang Sering Tak Disadari
Salah satu tantangan terbesar dari gagal ginjal akibat hipertensi adalah minimnya gejala pada tahap awal. Banyak pasien tidak menyadari ginjalnya bermasalah hingga fungsi organ tersebut menurun drastis.
Beberapa gejala awal gagal ginjal yang perlu diwaspadai antara lain:
- Pembengkakan pada kaki, pergelangan, atau wajah
- Sering buang air kecil, terutama malam hari
- Mudah lelah dan sulit berkonsentrasi
- Tekanan darah semakin sulit dikontrol
- Mual, hilang nafsu makan, atau rasa logam di mulut

www.service-ac.id
Siapa yang Berisiko?
Beberapa kelompok berisiko tinggi mengalami kerusakan ginjal akibat hipertensi, antara lain:
- Penderita hipertensi kronis tanpa pengobatan teratur
- Lansia (usia >60 tahun)
- Pasien diabetes mellitus
- Perokok berat
- Orang dengan riwayat keluarga gagal ginjal
Cegah Sejak Dini, Kendalikan Tekanan Darah
Para dokter menyarankan masyarakat untuk rutin memeriksa tekanan darah, minimal sebulan sekali bagi yang sehat, dan lebih sering jika sudah memiliki riwayat hipertensi. Langkah pencegahan lainnya mencakup:
- Mengurangi konsumsi garam (maksimal 5 gram per hari)
- Berhenti merokok dan mengurangi alkohol
- Mengatur berat badan ideal
- Rutin berolahraga (30 menit per hari)
- Menghindari stres berlebihan
- Menjalani pengobatan hipertensi sesuai anjuran dokter
“Jangan anggap enteng tekanan darah tinggi. Banyak pasien datang ke kami ketika ginjalnya sudah rusak 70–80%, padahal sebenarnya bisa dicegah,” tambah dr. Rina.
Tes Fungsi Ginjal yang Bisa Dilakukan
Untuk mendeteksi dini kerusakan ginjal akibat hipertensi, masyarakat dapat melakukan pemeriksaan sederhana seperti:
- Tes kreatinin darah (menilai fungsi ginjal)
- eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate)
- Urinalisis (melihat kebocoran protein dalam urin)
Pemeriksaan ini bisa dilakukan di fasilitas layanan kesehatan, baik Puskesmas maupun rumah sakit.
Kesimpulan
Hipertensi bukan sekadar masalah tekanan darah. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa merusak ginjal secara perlahan tanpa disadari. Dengan mengenali risikonya dan mengubah gaya hidup lebih sehat, masyarakat dapat melindungi ginjalnya dari kerusakan permanen. Ingat, lebih baik mencegah daripada harus menjalani cuci darah seumur hidup.
