Jakarta, Mata4.com — Hari itu, langit Jakarta tampak redup seolah turut merasakan duka. Di Rumah Duka Sentosa, Kompleks RSPAD Gatot Soebroto, suasana syahdu menyelimuti setiap langkah yang dilalui Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, saat hendak memberikan penghormatan terakhir kepada Kwik Kian Gie.
Dengan kesunyian yang menghangatkan hati, Prabowo tiba sekitar pukul 13.30 WIB, mengenakan pakaian safari hitam klasik, tanpa pendamping seremonial formal yang biasa terlihat. Seketika, suasana berubah hening—hingga daun-daun bunga karangan yang berjejer di sepanjang jalur masuk seolah merunduk memberi hormat.
Kedatangan yang Tenang dan Mendalam
Presiden Prabowo tidak memasuki rumah duka dengan langkah gegap gempita. Ia masuk melalui pintu B, berjalan pelan, mengisi buku tamu dengan khidmat, lalu langsung menuju ruang persemayaman jenazah. Di depan peti jenazah Kwik Kian Gie, Prabowo melakukan doa singkat, menundukkan kepala, dan memberikan salam perpisahan—sebuah gestur yang penuh kehormatan dan kesedihan halus yang menyatu dengan atmosfer duka keluarga almarhum.
Ia juga menyempatkan diri berbincang singkat dengan anggota keluarga, menunjukkan betapa pentingnya kehadiran personal dalam momen berat ini. Ini bukan gestur politik semata, melainkan penghormatan kepada sosok guru ekonomi bangsa.
Pra-Kedatangan: Ungkapan Duka dari Media Sosial hingga Karangan Bunga
Sebelum turun ke lokasi, Prabowo menyampaikan rasa duka melalui unggahan dalam Instagram Story resmi prabowo, menampilkan potret hitam-putih Kwik Kian Gie disertai pesan singkat tetapi menohok:
“Turut berduka cita atas wafatnya Kwik Kian Gie. 11 Januari 1935 – 28 Juli 2025″.
Tak hanya itu, Prabowo juga mengirimkan karangan bunga bertuliskan belasungkawa dari Presiden Republik Indonesia. Kiriman tersebut tiba lebih awal, tepat di tengah hamparan bunga dari tokoh nasional lain seperti Megawati Soekarnoputri, Gibran Rakabuming, Sri Mulyani, Airlangga Hartarto, Mahfud MD, hingga Luhut Pandjaitan. Pesan di karangan bunga ini berbicara satu hal: penghormatan yang datang dari hati dan keluarga negara.

www.service-ac.id
Tokoh Bangsa Menghantarkan Kehilangan
Bukan hanya Prabowo, banyak tokoh nasional terlihat datang melayat ke rumah duka antara Selasa (29 Juli) hingga Rabu (30 Juli). Di antaranya adalah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), hingga Yasonna Laoly yang mewakili Megawati Soekarnoputri karena ketua umum PDIP tak bisa hadir secara langsung.
Airlangga mengenang Kwik sebagai “ekonom dan nasionalis” yang mampu memandu transit krisis pasca-1998 menuju stabilitas ekonomi berkelanjutan. Sri Mulyani menyebutnya sebagai sosok dengan integritas tinggi yang meninggalkan jejak kebijakan berorientasi rakyat kecil.
Sementara Ganjar Pranowo dan tokoh lain menjadikan kata-kata Kwik sebagai panutan: “Suara kritismu akan terus menjadi panutan”. Suasana melayat dipenuhi karangan bunga dari berbagai pimpinan dan institusi, lambang betapa besarnya pengaruh Kwik bagi bangsa.
Jejak Hidup dan Warisan Kwik Kian Gie
Dilahirkan di Juwana, Pati, Jawa Tengah pada 11 Januari 1935, Kwik Kian Gie sempat meniti pendidikan di University of Indonesia hingga Erasmus University Rotterdam. Ia pernah menjabat sebagai Menko Ekonomi (1999–2000) di bawah Presiden Abdurrahman Wahid dan Kepala Bappenas di era Presiden Megawati (2001–2004).
Tokoh yang vokal tersebut dikenal sebagai pendiri LBPP LP3ES (sekarang IBII/Kwik Kian Gie School of Business), pengkritik kebijakan rezim Orde Baru, dan guru ekonom muda yang konsisten bersuara demi rakyat.
Rencana Penghormatan Terakhir
Prosesi kremasi jenazah akan dilakukan secara tertutup pada Kamis, 31 Juli 2025 pukul 11.00 WIB. Hanya keluarga inti yang hadir, namun kehadiran Prabowo dan tokoh lainnya menjadi representasi duka bangsa yang besar atas kepergian seorang guru bangsa.
Kesimpulan
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di rumah duka Kwik Kian Gie bukan hanya gestur kenegaraan, melainkan penghormatan secara pribadi—sebagai pemimpin terhadap sosok yang membentuk pikiran bangsa. Momen itu menggambarkan dedikasi, integritas, dan keteguhan moral yang diwariskan sang ekonom kepada generasi selanjutnya.
Kwik Kian Gie telah berpulang. Tapi pemikirannya akan terus hidup sebagai cermin nurani bangsa, diingat oleh mereka yang melihat bahwa suara kritis dan keberpihakan pada rakyat adalah warisan paling abadi.
