Jakarta, Mata4.com – Dalam forum bergengsi South and Southeast Asia Forum on Energy (SAFE) 2025 yang digelar di Jakarta, PT Pertamina (Persero) menegaskan kembali komitmennya untuk mempercepat transisi energi hijau dan mencapai target Net Zero Emission (NZE) dalam jangka panjang. Komitmen ini sejalan dengan target pemerintah Indonesia yang ingin mengurangi emisi karbon secara signifikan demi mendukung agenda pembangunan berkelanjutan dan menghadapi tantangan perubahan iklim global.
SAFE 2025: Momentum Strategis untuk Energi Berkelanjutan
SAFE 2025 menjadi platform penting yang mempertemukan para pemangku kepentingan di sektor energi dari berbagai negara Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk pemerintah, badan usaha, akademisi, dan organisasi internasional. Dalam forum ini, Pertamina memanfaatkan kesempatan untuk memaparkan strategi dan langkah nyata yang telah dan akan dijalankan dalam mendorong energi bersih dan teknologi rendah karbon.
“Forum ini memberikan ruang bagi kami untuk bertukar ide, belajar dari pengalaman negara lain, serta memperkuat sinergi dalam mengakselerasi transisi energi berkelanjutan,” ungkap Direktur Utama Pertamina.
Roadmap Pertamina Menuju Net Zero Emission
Pertamina menyusun roadmap komprehensif yang fokus pada beberapa pilar strategis guna mengurangi jejak karbon dan mendukung energi hijau:
1. Pengembangan Energi Terbarukan
Pertamina memperluas portofolio energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), tenaga angin, dan bioenergi. Proyek-proyek baru yang ramah lingkungan terus dijajaki dan diimplementasikan, dengan target peningkatan kapasitas terpasang yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
2. Optimalisasi Efisiensi Energi dan Pengurangan Emisi
Perusahaan mengimplementasikan teknologi efisiensi energi di seluruh operasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Penggunaan sistem digital dan automasi membantu mengidentifikasi dan menekan pemborosan energi.
3. Investasi pada Teknologi Hijau dan Inovasi
Pertamina mengalokasikan anggaran besar untuk riset dan pengembangan teknologi hijau, termasuk green hydrogen, kendaraan listrik, serta teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture Utilization and Storage/CCUS). Upaya ini diharapkan membuka peluang baru sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
4. Kolaborasi Multi-Stakeholder
Perusahaan aktif menjalin kemitraan strategis dengan pemerintah, lembaga internasional, pelaku industri, dan komunitas lokal. Kerjasama ini bertujuan mempercepat adopsi energi bersih, memperkuat regulasi yang mendukung, dan mengembangkan kapasitas sumber daya manusia.
Dukungan Kebijakan Pemerintah dan Regulasi
Pertamina menilai dukungan regulasi dan kebijakan pemerintah sangat penting dalam mempercepat transisi energi. Kebijakan fiskal seperti insentif pajak, subsidi energi terbarukan, serta regulasi yang mendukung energi bersih menjadi kunci keberhasilan program Net Zero Emission.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun terus berupaya menyelaraskan kebijakan nasional dengan target emisi, serta memperkuat kerjasama internasional dalam rangka mitigasi perubahan iklim.
Tantangan dan Upaya Menghadapi Hambatan
Meski optimis, Pertamina menyadari bahwa perjalanan menuju Net Zero Emission bukan tanpa tantangan. Hambatan utama meliputi:
- Teknologi yang Masih Berkembang: Beberapa teknologi hijau masih dalam tahap pengembangan dan perlu adaptasi lebih lanjut agar dapat diterapkan secara masif.
- Pendanaan yang Besar: Investasi di bidang energi baru terbarukan dan teknologi rendah karbon membutuhkan dana besar dan strategi pembiayaan yang matang.
- Perubahan Paradigma Industri: Mengubah kultur kerja dan pola investasi di sektor energi membutuhkan waktu serta komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan.
Pertamina menegaskan akan terus melakukan inovasi, peningkatan kapasitas SDM, serta memperkuat budaya perusahaan yang mendukung transformasi energi hijau.
Perspektif Pakar dan Akademisi
Pakar energi dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Setyawati, memberikan apresiasi terhadap langkah Pertamina yang semakin serius dalam mengadopsi energi bersih dan teknologi hijau.
“Pertamina sebagai perusahaan energi nasional memiliki peran strategis dalam memimpin transisi energi di Indonesia. Komitmen mereka sangat penting untuk mencapai target nasional dan mendukung upaya global dalam mitigasi perubahan iklim,” ujar Dr. Rina.
Ia juga menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat dalam mendukung transformasi ini agar dampak sosial dan ekonomi dapat diminimalkan.
Harapan Masyarakat dan Agenda Ke Depan
Masyarakat dan para pemangku kepentingan berharap agar Pertamina dan seluruh industri energi dapat menjalankan komitmen mereka secara transparan dan bertanggung jawab. Partisipasi aktif publik dalam pengawasan dan dukungan terhadap kebijakan energi hijau juga menjadi aspek penting agar transisi energi berlangsung adil dan berkelanjutan.
Ke depan, forum seperti SAFE diharapkan dapat terus menjadi ajang penting untuk memperkuat kerja sama regional dalam menghadapi tantangan energi dan perubahan iklim yang bersifat global.
Kesimpulan
Ajang SAFE 2025 menegaskan posisi Pertamina sebagai pelopor transformasi energi hijau di Indonesia. Melalui strategi yang jelas, investasi inovatif, dan kolaborasi erat dengan berbagai pihak, perusahaan ini berupaya mewujudkan visi energi berkelanjutan dan target Net Zero Emission.
Langkah ini tidak hanya mendukung agenda nasional, tetapi juga berkontribusi pada upaya global dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim.

