Madrid, Mata4.com – Etape terakhir ajang balap sepeda bergengsi La Vuelta a España 2025 yang seharusnya berlangsung di pusat kota Madrid pada Minggu (14/9), terpaksa dibatalkan menyusul aksi protes besar-besaran dari kelompok pro-Palestina. Aksi massa yang memblokir sebagian besar rute lomba tersebut menjadi alasan utama dihentikannya lomba sebelum garis finis. Kejadian ini memicu perhatian dunia, karena berimbas langsung pada salah satu kompetisi olahraga terbesar di Eropa dan mengundang reaksi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Spanyol dan Israel.
Aksi Massa Blokir Jalur Balap
Berdasarkan laporan dari penyelenggara lomba dan aparat keamanan, aksi unjuk rasa dimulai sejak pagi hari, ketika ribuan orang mulai memadati rute balapan di berbagai titik strategis. Mereka membawa bendera Palestina, spanduk berisi pesan solidaritas, serta menyerukan tuntutan agar tim Israel‑Premier Tech didiskualifikasi dari lomba.
Pihak kepolisian mengerahkan ribuan personel untuk mengamankan jalannya lomba, namun situasi memanas ketika sekelompok demonstran menembus barikade dan masuk ke jalur balap. Situasi tersebut menimbulkan risiko tinggi bagi para pembalap dan kru tim, sehingga panitia memutuskan menghentikan lomba secara resmi, sekitar 55 kilometer sebelum finis.
Hingga pembatalan diumumkan, lomba belum memasuki area pusat kota yang telah disiapkan untuk upacara podium. Akibatnya, upacara penutupan tidak digelar, dan para pembalap meninggalkan arena tanpa perayaan kemenangan seperti yang lazim dilakukan dalam tradisi balap sepeda Grand Tour.
Keputusan Penyelenggara dan Reaksi Pembalap
Dalam pernyataan resminya, pihak penyelenggara menyampaikan bahwa keselamatan seluruh peserta merupakan prioritas utama. Mereka menyesalkan situasi yang terjadi, namun menilai keputusan pembatalan sudah tepat demi mencegah eskalasi lebih lanjut.
“Dengan sangat menyesal kami mengumumkan bahwa etape ke-21 La Vuelta 2025 tidak dapat dilanjutkan. Kondisi lapangan tidak memungkinkan lomba digelar dengan aman dan tertib. Kami meminta maaf kepada para atlet, penonton, dan seluruh pihak yang terlibat,” demikian pernyataan resmi panitia.
Meski etape terakhir tidak terselesaikan, hasil klasemen umum tetap dinyatakan sah berdasarkan posisi hingga etape ke-20. Pembalap asal Denmark, Jonas Vingegaard, diumumkan sebagai juara umum, namun ia tidak mendapatkan kesempatan untuk berdiri di podium sebagai bentuk penghormatan akhir.
Latar Belakang Protes: Penolakan terhadap Tim Israel
Aksi protes yang terjadi di Madrid merupakan puncak dari serangkaian demonstrasi yang telah berlangsung sejak awal kompetisi. Kelompok-kelompok pro-Palestina di Spanyol menyuarakan penolakan terhadap kehadiran tim Israel‑Premier Tech, menyusul meningkatnya ketegangan dan kekerasan di Jalur Gaza dalam beberapa bulan terakhir.
Demonstran menilai bahwa keterlibatan tim asal Israel di ajang internasional merupakan bentuk normalisasi terhadap tindakan militer yang dilakukan oleh pemerintah Israel di Palestina. Mereka menyerukan agar entitas atau perwakilan dari negara tersebut dilarang berpartisipasi dalam kompetisi olahraga internasional selama konflik masih berlangsung.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia dan kelompok sipil turut mendukung seruan ini. Beberapa di antaranya menyatakan bahwa olahraga tidak seharusnya dipisahkan dari tanggung jawab moral terhadap hak asasi manusia.
Sikap Pemerintah Spanyol: Hargai Kebebasan Berekspresi
Pemerintah Spanyol memberikan tanggapan resmi terhadap aksi demonstrasi dan pembatalan etape final. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, menyatakan bahwa mobilisasi massa yang terjadi merupakan bentuk kebebasan berekspresi rakyat, yang dijamin oleh konstitusi negara.
“Kami memahami bahwa banyak warga Spanyol merasa terdorong untuk menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina. Ini adalah bentuk komitmen terhadap nilai-nilai hak asasi manusia, yang menjadi bagian dari prinsip demokrasi kita,” ujar Sánchez dalam konferensi pers.
Wakil Perdana Menteri, Yolanda Díaz, menyampaikan pernyataan yang lebih tegas. Ia mengatakan bahwa partisipasi tim dari negara yang tengah melakukan tindakan kekerasan terhadap warga sipil seharusnya ditinjau ulang. Menurutnya, ajang olahraga tidak bisa menjadi ruang netral ketika pelanggaran hak asasi manusia tengah berlangsung.
Pernyataan tersebut mengundang respons dari sejumlah pihak, termasuk pemerintah Israel dan organisasi olahraga internasional.
Israel dan Komunitas Internasional Bereaksi
Pemerintah Israel menyayangkan insiden yang menyebabkan batalnya etape terakhir La Vuelta a España. Mereka juga mengecam pernyataan pejabat pemerintah Spanyol yang dianggap memberi legitimasi terhadap aksi yang mengganggu jalannya kompetisi olahraga.
Dalam pernyataan yang dirilis Kementerian Luar Negeri Israel, disebutkan bahwa olahraga seharusnya menjadi sarana pemersatu, bukan arena untuk menyebarkan kebencian atau mendorong boikot. Pemerintah Israel juga mempertanyakan keamanan bagi atlet-atlet mereka dalam kompetisi internasional di masa depan jika insiden serupa kembali terjadi.
Di sisi lain, sejumlah organisasi HAM internasional justru menilai bahwa aksi massa di Madrid adalah contoh nyata dari meningkatnya kesadaran global terhadap isu Palestina. Mereka menyebut bahwa respons pemerintah Spanyol mencerminkan dukungan terhadap prinsip keadilan dan kemanusiaan.
Pengaruh terhadap Dunia Olahraga
Pembatalan etape final La Vuelta a España 2025 menjadi preseden yang langka dalam dunia olahraga internasional. Biasanya, demonstrasi politik tidak sampai menyebabkan penghentian ajang besar seperti Grand Tour, kecuali dalam kondisi darurat.
Kejadian ini memunculkan perdebatan tentang sejauh mana politik boleh dan bisa dipisahkan dari olahraga. Beberapa pihak menyatakan bahwa netralitas dalam olahraga penting dijaga, sementara yang lain berpendapat bahwa dunia olahraga tidak bisa menutup mata terhadap situasi kemanusiaan yang mendesak.
Pihak penyelenggara kejuaraan sepeda dunia (UCI) hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kejadian ini. Namun, diskusi di internal organisasi olahraga kemungkinan akan berlangsung dalam waktu dekat, terutama terkait keamanan atlet dan kebijakan partisipasi tim dari negara yang sedang berkonflik.
Penutup
Insiden yang terjadi dalam penutupan La Vuelta a España 2025 bukan hanya menjadi catatan sejarah dalam dunia balap sepeda, tetapi juga mempertegas bagaimana olahraga, politik, dan opini publik kini saling bersinggungan. Di satu sisi, pembatalan lomba disayangkan oleh banyak pihak karena merusak semangat sportivitas. Di sisi lain, aksi massa menunjukkan bahwa publik memiliki kekuatan untuk menyuarakan kepedulian terhadap isu-isu global melalui berbagai cara, termasuk melalui arena olahraga.

