Medan,, Mata4.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, kembali menegaskan pentingnya penguatan ekosistem riset di lingkungan perguruan tinggi sebagai pilar utama dalam strategi pertumbuhan ekonomi nasional. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam acara Forum Nasional Inovasi dan Transformasi Pendidikan Tinggi yang digelar di Jakarta, dan dihadiri oleh para rektor, akademisi, peneliti, pejabat pemerintah daerah, serta pelaku industri.
Dalam pidatonya, Stella menyampaikan bahwa peran universitas saat ini telah melampaui fungsi tradisionalnya sebagai lembaga pendidikan semata. Perguruan tinggi, menurutnya, harus mampu menjadi pusat riset dan inovasi yang tidak hanya relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan global, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap kebutuhan dan tantangan nasional.
“Universitas bukan hanya tempat belajar dan mengajar, tetapi juga motor inovasi bangsa. Ketika riset dikembangkan secara serius dan strategis, maka kampus bisa menjadi tulang punggung transformasi ekonomi Indonesia,” ujar Stella di hadapan ratusan peserta forum.
Transformasi Riset: Dari Kampus Menuju Lapangan
Stella menjelaskan bahwa selama ini, banyak hasil riset dari perguruan tinggi yang hanya berhenti sebagai laporan akademik atau jurnal ilmiah. Padahal, potensi kontribusinya terhadap kebijakan publik, pengembangan industri, serta pemberdayaan masyarakat sangat besar. Oleh karena itu, ia mendorong agar hasil riset kampus bisa lebih dihilirkan ke sektor-sektor produktif.
“Kita ingin riset tidak hanya menjadi bahan seminar atau syarat kenaikan pangkat dosen. Tapi bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan di daerah, bisa dijadikan teknologi oleh pelaku usaha, atau bisa membantu petani, nelayan, dan UMKM di desa,” jelasnya.
Stella juga menyinggung perlunya sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah. Ia menyatakan bahwa Pemda seharusnya menjadi pengguna aktif hasil riset, bukan sekadar mitra simbolis.
Riset Sebagai Motor Ekonomi: Belajar dari Negara Maju
Wamen Stella mencontohkan bagaimana universitas-universitas kelas dunia telah berperan besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di negaranya. Ia menyebut nama-nama seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Stanford University, yang bukan hanya mencetak lulusan unggulan, tapi juga melahirkan teknologi baru, perusahaan rintisan (start-up), dan model bisnis inovatif.
“Lihat bagaimana MIT berkontribusi terhadap perekonomian Amerika Serikat. Salah satu studi menunjukkan bahwa alumni dan teknologi yang lahir dari MIT berkontribusi pada penciptaan jutaan lapangan kerja dan triliunan dolar pendapatan,” ucap Stella.
Menurutnya, ekosistem serupa perlu dibangun di Indonesia, dengan menyesuaikan konteks dan tantangan lokal. Ia percaya bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk membangun ekosistem riset yang kuat jika diberikan dukungan kebijakan, pembiayaan, dan kolaborasi yang baik.
Investasi Riset: Pemerintah Siapkan Rp1,8 Triliun
Dalam rangka memperkuat infrastruktur dan ekosistem riset nasional, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah mengalokasikan dana riset sebesar Rp1,8 triliun untuk tahun anggaran 2025. Dana ini difokuskan pada delapan bidang prioritas nasional, termasuk pertanian presisi, energi bersih, transformasi digital, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta tata kelola lingkungan.
“Pendanaan ini bukan sekadar proyek. Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Kita ingin universitas-universitas tidak lagi menjadi menara gading, tapi menjadi pusat inovasi yang membumi,” tutur Stella.
Selain dana hibah riset, kementerian juga menyediakan program insentif berupa matching fund, kolaborasi internasional, dan pelatihan manajemen penelitian untuk meningkatkan kapasitas riset di perguruan tinggi, terutama di luar Pulau Jawa.
Kolaborasi Strategis: Triple Helix Pendidikan, Industri, dan Pemerintah
Dalam forum yang sama, Wamen Stella juga mengajak para pelaku industri dan pemerintah daerah untuk menjalin kolaborasi dengan kampus dalam kerangka triple helix — yaitu kerja sama antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah. Ia menilai, tanpa keterlibatan aktif dari ketiga pihak ini, hasil riset sulit untuk diimplementasikan secara luas.
“Kita tidak bisa berharap riset kampus berdampak nyata kalau tidak ada yang mengadopsi dan mendanai penerapannya. Perlu sinergi antara kampus, dunia usaha, dan pemerintah,” tambahnya.
Stella juga menyebut bahwa kementerian telah menyiapkan platform digital khusus untuk menghubungkan para peneliti dengan pelaku industri dan Pemda agar kerja sama bisa dijalankan secara transparan dan berkelanjutan.
Tantangan: SDM Terbatas, Data Lemah, dan Budaya Riset Belum Mengakar
Meski berbagai upaya telah dilakukan, Stella tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi dalam penguatan riset di perguruan tinggi Indonesia. Beberapa di antaranya adalah:
- Terbatasnya jumlah dosen dan peneliti yang fokus pada riset terapan
- Keterbatasan infrastruktur dan laboratorium di kampus-kampus daerah
- Minimnya kolaborasi antar-kampus dan lembaga riset
- Belum adanya sistem yang mampu mengukur dampak ekonomi dari riset secara komprehensif
“Kita perlu membangun budaya riset di kampus, bukan hanya karena tuntutan akreditasi, tapi karena sadar bahwa riset adalah bagian dari solusi bangsa. Untuk itu, kita juga butuh sistem insentif dan pengukuran kinerja yang adil dan akurat,” kata Stella.
Mendorong Pemda Berperan Aktif dalam Pemanfaatan Riset
Dalam kesempatan terpisah, Wamen Stella juga meminta pemerintah daerah untuk ikut berinvestasi dalam pengembangan riset kampus di wilayahnya. Ia mengusulkan agar Pemda bisa mengalokasikan sebagian dana APBD untuk mendanai riset-riset yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
“Daerah bisa dan seharusnya mendanai riset-riset lokal. Misalnya riset tentang ketahanan pangan, mitigasi bencana, pengembangan wisata, dan lain sebagainya. Ini bukan beban, melainkan investasi sosial jangka panjang,” jelasnya.
Penutup: Riset Bukan Pilihan, Melainkan Keperluan Strategis
Menutup pernyataannya, Stella menyampaikan bahwa riset di perguruan tinggi bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan sarana strategis dalam memperkuat kemandirian bangsa. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi agar hasil riset benar-benar berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan ekonomi nasional.
“Kalau kita ingin Indonesia naik kelas, maka investasi di pendidikan tinggi dan riset adalah salah satu jalannya. Kita tidak boleh puas hanya menjadi pasar. Kita harus jadi pelaku, jadi inovator, jadi penggerak,” pungkasnya.

