Jakarta, Mata4.com – Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, kembali menjadi sorotan media dan publik. Bukan karena isu politik atau kebijakan pemerintahan, melainkan karena kisah pendidikannya yang tak lazim dibandingkan jalur pendidikan tokoh politik kebanyakan. Gibran diketahui menempuh pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di luar negeri sebanyak dua kali, yakni di Singapura dan Australia, sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi di dua negara berbeda pula.
Fakta ini menarik perhatian banyak pihak, terutama karena jejak pendidikan lintas negara ini cukup jarang ditempuh oleh tokoh publik di Indonesia, terlebih oleh figur yang kini menempati posisi kedua tertinggi di pemerintahan. Kisah ini pun memunculkan kembali diskusi mengenai pentingnya pendidikan global dan pengalaman lintas budaya dalam membentuk kepemimpinan masa depan.
Dibekali Pendidikan Dasar di Solo
Gibran Rakabuming Raka lahir pada 1 Oktober 1987 di Surakarta, Jawa Tengah, sebagai anak pertama dari pasangan Joko Widodo dan Iriana Joko Widodo. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota kelahirannya dan menjalani pendidikan dasar di SD Negeri 16 Mangkubumen Lor, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Surakarta, yang dikenal sebagai salah satu SMP negeri favorit di kota tersebut.
Pada masa itu, tidak banyak yang memperkirakan Gibran akan menempuh pendidikan di luar negeri, mengingat gaya hidup Presiden Joko Widodo dan keluarga dikenal sederhana dan dekat dengan masyarakat. Namun, keputusan untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri tampaknya menjadi bagian dari strategi pendidikan jangka panjang keluarga Jokowi, untuk membekali anak-anak mereka dengan pengalaman global.
Langkah Awal ke Luar Negeri: Singapura
Setelah lulus SMP, Gibran dikirim ke luar negeri untuk menempuh pendidikan SMA. Negara tujuan pertamanya adalah Singapura, sebuah negara tetangga yang dikenal dengan sistem pendidikan maju dan berbasis disiplin tinggi. Gibran mulai bersekolah di Orchard International School, sebuah institusi pendidikan dengan kurikulum internasional berbahasa Inggris.
Di sana, ia menjalani pembelajaran dengan pendekatan global yang lebih menekankan pada pengembangan soft skills, kemampuan berpikir kritis, dan penguasaan bahasa asing—terutama Bahasa Inggris. Masa ini menjadi tonggak awal Gibran beradaptasi dengan lingkungan lintas budaya dan sistem pendidikan modern yang berbeda dari Indonesia.
Melanjutkan SMA Kedua Kali di Australia
Menariknya, setelah beberapa waktu di Singapura, Gibran kembali berpindah negara untuk melanjutkan SMA di Australia, sebuah keputusan yang menambah lapisan baru dalam pengalaman akademiknya. Di Australia, ia menempuh pendidikan di Uptown High School, tempat ia menyelesaikan pendidikan menengah atas secara penuh.
Keputusan untuk “dua kali menjalani pendidikan SMA” bukan berarti Gibran gagal menyelesaikan yang pertama, melainkan merupakan bentuk penyesuaian sistem pendidikan antarnegara dan kemungkinan strategi untuk menyempurnakan jenjang akademik sesuai kurikulum universitas yang diincar.
Pendidikan di Australia memperluas wawasannya, baik dari sisi akademik maupun sosial. Negara tersebut dikenal dengan pendekatan pendidikan yang seimbang antara teori, praktik, dan pembentukan karakter. Di sinilah Gibran mulai memperdalam minatnya pada bidang bisnis dan manajemen.
Pendidikan Tinggi: Dari Singapura ke Australia
Setelah menyelesaikan SMA, Gibran sempat kembali ke Singapura untuk melanjutkan studi di Management Development Institute of Singapore (MDIS), mengambil jurusan manajemen bisnis. MDIS adalah institusi swasta yang terkenal dengan program-program kerja sama dengan kampus internasional dan orientasi dunia kerja.
Namun, tak lama berselang, Gibran kembali berpindah negara—kali ini untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di University of Technology Sydney (UTS), Australia. Di UTS, ia menyelesaikan studi sarjananya di bidang Manajemen dan Bisnis, yang kemudian menjadi dasar kuat bagi Gibran dalam menekuni dunia wirausaha di tanah air.
Kembali ke Indonesia dan Membangun Usaha
Sekembalinya dari Australia, Gibran tidak langsung terjun ke dunia politik seperti kebanyakan anak pejabat. Ia memilih membangun usaha kuliner yang dimulai dari bawah. Usaha pertamanya adalah Chilli Pari, sebuah jasa katering di Solo. Kemudian ia memperluas bisnisnya dengan brand seperti Markobar (Martabak Kota Barat) dan Goola, yang menawarkan minuman lokal dalam kemasan modern.
Kehidupan Gibran sebagai pengusaha muda cukup dikenal publik sebelum akhirnya memutuskan masuk ke dunia politik dan mencalonkan diri sebagai Wali Kota Surakarta pada 2020, lalu menjadi Wakil Presiden pada 2024.
Komitmen terhadap Pendidikan di Indonesia
Sebagai wakil kepala negara, Gibran kerap menyuarakan pentingnya pendidikan berkualitas yang merata di seluruh daerah. Ia juga dikenal mendorong digitalisasi pendidikan, penguatan kurikulum kewirausahaan, dan akses pendidikan vokasi untuk generasi muda. Dalam berbagai kesempatan, ia menyampaikan bahwa pengalaman pendidikannya di luar negeri tidak hanya membuka wawasan, tetapi juga memberinya pemahaman akan pentingnya sistem pendidikan yang membentuk karakter dan kemampuan adaptif.
“Pendidikan bukan sekadar teori, tapi bagaimana kita belajar untuk beradaptasi dan berkolaborasi,” ujar Gibran dalam salah satu forum kepemudaan awal tahun ini.
Penutup
Riwayat pendidikan Gibran Rakabuming Raka memang berbeda dari kebanyakan tokoh politik di Indonesia. Dua kali menempuh SMA di luar negeri—di Singapura dan Australia—serta menamatkan pendidikan tinggi di dua negara dengan sistem pendidikan maju, menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Langkah ini menunjukkan komitmen keluarga terhadap pendidikan global serta kesiapan Gibran untuk terlibat dalam urusan publik dengan bekal pengetahuan dan pengalaman lintas budaya. Kini, sebagai Wakil Presiden RI, ia membawa semangat perubahan, termasuk dalam reformasi sistem pendidikan nasional yang lebih adaptif, inklusif, dan berbasis keterampilan abad ke-21.

