Jakarta, Mata4.com – Industri otomotif Indonesia mencatat tonggak sejarah baru dengan menjadi negara pengekspor mobil terbesar ke Vietnam. Prestasi ini menjadikan Indonesia sebagai pemasok utama kendaraan ke negara tersebut, mengungguli Thailand dan China yang selama ini mendominasi pasar otomotif Vietnam.
Berdasarkan data resmi dari Departemen Bea Cukai Vietnam, tercatat bahwa sepanjang Januari hingga Agustus 2025, Vietnam mengimpor lebih dari 58.000 unit mobil dari Indonesia. Jumlah tersebut mencerminkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menempatkan Indonesia di peringkat teratas dalam daftar negara pengekspor mobil ke Vietnam.
Sementara itu, Thailand yang sebelumnya dikenal sebagai pusat produksi otomotif utama di Asia Tenggara, kini berada di posisi kedua, disusul oleh China yang menempati peringkat ketiga.
Tren Positif Ekspor Otomotif Indonesia
Keberhasilan ini dianggap sebagai cerminan dari meningkatnya daya saing industri otomotif Indonesia di pasar regional. Model kendaraan yang diekspor umumnya berasal dari segmen kendaraan penumpang berkapasitas kecil hingga menengah, seperti low Multi Purpose Vehicle (MPV) dan hatchback, yang diproduksi oleh pabrikan otomotif global di Indonesia, antara lain Toyota, Mitsubishi, dan Honda.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi, mengatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari sinergi antara industri dan pemerintah dalam memperluas pasar ekspor otomotif.
“Mobil buatan Indonesia telah melalui berbagai uji kualitas dan mampu memenuhi standar internasional. Pencapaian ini menunjukkan bahwa kendaraan produksi nasional tidak hanya diterima, tetapi juga diminati di luar negeri, termasuk di Vietnam,” ujar Yohannes dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Selasa (16/9).
Faktor-Faktor yang Mendorong Pertumbuhan Ekspor
Beberapa faktor yang turut berkontribusi terhadap peningkatan ekspor mobil ke Vietnam antara lain:
- Tarif Impor Rendah dalam Kerangka Perdagangan Bebas ASEAN
- Melalui skema ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), kendaraan yang diekspor antarnegara ASEAN dapat menikmati pembebasan tarif bea masuk, sehingga mobil dari Indonesia lebih kompetitif dibandingkan negara non-ASEAN.
- Efisiensi Produksi dan Rantai Pasok
- Pabrik otomotif di Indonesia mampu memproduksi kendaraan dengan skala besar dan biaya efisien, berkat dukungan ekosistem industri komponen dalam negeri yang terus berkembang.
- Penyesuaian Produk dengan Preferensi Pasar Vietnam
- Produsen menyesuaikan fitur, desain, dan spesifikasi kendaraan dengan kebutuhan serta daya beli masyarakat Vietnam, yang umumnya menyukai mobil hemat bahan bakar, berkapasitas 5–7 penumpang, dan berharga terjangkau.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian RI, Taufiek Bawazier, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil nyata dari strategi penguatan industri otomotif nasional yang berbasis ekspor.
“Kinerja ekspor otomotif ke Vietnam adalah bukti bahwa Indonesia mampu menjadi basis produksi dan ekspor kendaraan bermotor, tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi juga untuk memenuhi pasar internasional,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (15/9).
Peran Pemerintah dalam Mendorong Ekspor Otomotif
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan terus mendorong perluasan pasar ekspor kendaraan dengan berbagai langkah strategis, di antaranya:
- Memberikan insentif bagi industri otomotif berbasis ekspor.
- Memfasilitasi kerja sama bilateral dan regional dalam perdagangan kendaraan bermotor.
- Meningkatkan standardisasi produk untuk memenuhi regulasi negara tujuan ekspor.
- Menyederhanakan proses perizinan dan logistik untuk mempercepat distribusi.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri juga dilakukan dalam pengembangan kendaraan berbasis listrik (EV), yang ke depan diharapkan menjadi bagian dari ekspor otomotif Indonesia ke berbagai negara, termasuk Vietnam.
Proyeksi Ekspor dan Tantangan ke Depan
Gaikindo memperkirakan bahwa total ekspor mobil dari Indonesia pada tahun 2025 dapat mencapai 500.000 unit, dengan Vietnam sebagai salah satu kontributor utama. Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi oleh industri otomotif nasional, seperti:
- Ketatnya persaingan dari negara-negara produsen lain, termasuk China yang terus memperluas pasar ekspor.
- Fluktuasi nilai tukar mata uang dan harga bahan baku global.
- Perubahan regulasi di negara tujuan ekspor, termasuk standar emisi dan keselamatan.
Untuk itu, pelaku industri diharapkan terus berinovasi dalam hal teknologi, efisiensi produksi, serta adaptasi terhadap dinamika pasar global.
Respons Vietnam terhadap Ekspor dari Indonesia
Menurut laporan media setempat di Vietnam, mobil asal Indonesia mendapat sambutan positif dari konsumen karena dianggap memiliki nilai yang seimbang antara harga dan fitur, serta layanan purnajual yang didukung oleh jaringan dealer resmi di berbagai kota.
Model-model seperti Toyota Avanza, Mitsubishi Xpander, dan Honda Brio disebut sebagai kendaraan yang paling banyak diimpor dari Indonesia dan cukup populer di kalangan keluarga muda dan pengguna baru di Vietnam.
Kesimpulan
Pencapaian Indonesia sebagai negara pengekspor mobil terbesar ke Vietnam menandai keberhasilan strategi penguatan industri otomotif berbasis ekspor. Ini merupakan sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok kendaraan bermotor di kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, tantangan global dan kompetisi pasar akan terus meningkat. Namun dengan sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, serta dukungan dari kebijakan yang tepat, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempertahankan dan bahkan memperluas dominasinya di pasar otomotif kawasan.

