Bekasi, Mata4com – SD Global Persada Mandiri Kota Bekasi terus memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah melalui kegiatan simulasi gempa bumi yang dilaksanakan secara rutin. Program ini telah berjalan sejak 2025 dan hingga kini telah terlaksana sebanyak lima kali, bekerja sama dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Memasuki tahun 2026, sekolah tersebut mulai melaksanakan simulasi secara mandiri. Hal ini dilakukan setelah para tenaga pendidik dan siswa sebelumnya mendapatkan pelatihan langsung dari Basarnas.
Kepala Sekolah SD Global Persada Mandiri, Clara Renawati, menjelaskan bahwa kegiatan simulasi diawali dengan pembekalan teori kepada seluruh siswa. Dalam tahap ini, siswa diberikan pemahaman terkait proses terjadinya gempa bumi serta langkah-langkah penyelamatan diri yang tepat.
“Setelah pengarahan teori, kami memastikan kehadiran siswa melalui absensi, lalu simulasi dimulai sesuai prosedur yang telah diajarkan,” ujar Clara.
Dalam praktiknya, siswa dilatih untuk segera melindungi diri saat gempa terjadi, seperti melindungi kepala, menjauhi kaca jendela, serta berlindung di bawah meja. Selain itu, siswa juga diajarkan posisi tangan yang benar untuk melindungi kepala dan tubuh dari potensi cedera.
Setelah situasi dinyatakan aman, siswa diarahkan untuk keluar kelas secara tertib mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul yang telah ditentukan. Instruksi diberikan melalui suara komando, sirine, serta panduan alur evakuasi, termasuk penggunaan tangga secara aman.
Penanggung jawab tanggap darurat sekolah, Devi Oktavia, menambahkan bahwa simulasi ini juga melibatkan seluruh siswa tanpa terkecuali, termasuk anak berkebutuhan khusus.
“Pada awalnya, anak-anak berkebutuhan khusus sempat panik dan kebingungan. Namun, seiring berjalannya waktu dan latihan yang berulang, tahun ini mereka sudah mulai terbiasa dan mampu mengikuti prosedur dengan lebih baik,” jelas Devi.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi penting mengingat wilayah Bekasi termasuk dalam kategori rawan bencana. Oleh karena itu, kesiapan sejak dini dinilai menjadi kunci untuk meminimalisir risiko korban, khususnya di kalangan anak-anak.
“Tujuan utama kami adalah memastikan seluruh siswa memahami langkah penyelamatan diri sehingga tidak ada korban jika terjadi bencana,” tambahnya.
Ke depan, pihak sekolah berencana menjadikan simulasi gempa sebagai agenda rutin yang dilaksanakan setiap bulan guna memperkuat respons cepat dan kesiapan seluruh warga sekolah dalam menghadapi situasi darurat.
