Jakarta, 22 Juli 2025 — Dalam beberapa bulan terakhir, pasar keuangan Indonesia menunjukkan dinamika yang menggembirakan, terutama di sektor surat utang negara. Salah satu fenomena yang menjadi sorotan adalah meningkatnya minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN), khususnya seri dengan tenor panjang. Aliran dana asing yang deras ke instrumen ini menjadi sinyal positif atas kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia.
Data terbaru dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa hingga pertengahan Juli 2025, dana asing yang masuk ke pasar SBN mencapai angka yang signifikan, yakni lebih dari Rp60 triliun secara year-to-date. Menariknya, sebagian besar dari dana ini terkonsentrasi pada SBN dengan tenor 10 tahun ke atas, seperti seri FR0098 dan FR0100, yang kini menjadi incaran utama pelaku pasar global.
Daya Tarik SBN Tenor Panjang di Mata Investor Asing
Kecenderungan investor asing untuk memborong SBN tenor panjang tidak lepas dari beberapa faktor fundamental yang memperkuat persepsi positif terhadap perekonomian nasional. Dalam konteks global yang masih diliputi ketidakpastian, Indonesia justru tampil sebagai salah satu pasar berkembang yang menawarkan stabilitas, return yang menarik, serta outlook ekonomi jangka panjang yang menjanjikan.
Beberapa faktor yang menjadi pendorong utama antara lain:
1. Stabilitas Makroekonomi yang Terjaga
Selama tiga tahun terakhir, Indonesia berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pengelolaan fiskal. Defisit APBN terus dijaga di bawah 3% terhadap PDB, sesuai amanat Undang-Undang Keuangan Negara. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di kisaran 5% per tahun, meski di tengah tantangan global seperti perlambatan ekonomi Tiongkok dan konflik geopolitik di Timur Tengah serta Eropa Timur.
2. Tren Penurunan Suku Bunga Global
Siklus suku bunga global mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, terutama dari bank sentral utama seperti The Fed yang memberikan sinyal dovish terkait prospek penurunan Fed Funds Rate pada semester II 2025. Hal ini mendorong investor global untuk mencari alternatif investasi di negara berkembang yang menawarkan yield lebih tinggi namun tetap stabil. SBN Indonesia, dengan rating investasi yang solid, menjadi salah satu pilihan utama.
3. Inflasi yang Terkendali dan Stabil
Tingkat inflasi Indonesia tetap terkendali di kisaran 2,8% secara tahunan (yoy) per Juni 2025, berada dalam target sasaran inflasi BI sebesar 2,5% ± 1%. Stabilitas harga memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga suku bunga acuan pada level 5,75%, yang relatif atraktif bagi investor pendapatan tetap. Dengan inflasi yang rendah, real yield dari SBN Indonesia tetap kompetitif dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.
4. Pengelolaan Utang Negara yang Prudent
Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam mengelola utang secara hati-hati (prudent). Debt to GDP ratio Indonesia saat ini berada di kisaran 38%, jauh di bawah batas aman internasional sebesar 60%. Selain itu, struktur utang yang mayoritas berdenominasi rupiah dan berbunga tetap mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar dan biaya pembiayaan.
Respons Pasar dan Dampak Ekonomi
Kondisi ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pasar obligasi domestik. Yield SBN tenor 10 tahun, misalnya, mengalami penurunan dari 6,80% pada awal tahun menjadi 6,35% pada pertengahan Juli. Penurunan yield ini menunjukkan peningkatan harga obligasi, yang menjadi cerminan permintaan tinggi dari investor.
Masuknya modal asing ke pasar surat utang negara juga memperkuat posisi cadangan devisa Indonesia. Data dari Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Juni 2025 mencapai USD 144,2 miliar, cukup untuk membiayai 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Hal ini turut memperkokoh stabilitas nilai tukar rupiah yang tetap berada di kisaran Rp15.600–15.700 per dolar AS dalam dua bulan terakhir.
Lebih dari itu, peningkatan permintaan terhadap SBN juga berimbas pada penurunan biaya pinjaman di sektor riil. Pemerintah dan pelaku usaha kini dapat mengakses pembiayaan dengan suku bunga yang lebih rendah, mendorong ekspansi ekonomi jangka menengah.
Perhatian terhadap Risiko Potensial
Meskipun tren saat ini menunjukkan arah yang positif, tidak berarti pasar bebas dari risiko. Beberapa hal yang tetap perlu diwaspadai antara lain:
- Normalisasi Kebijakan Moneter Global: Jika inflasi di negara maju kembali meningkat, bank sentral seperti The Fed dapat memperketat kembali kebijakan moneter, yang bisa memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
- Ketegangan Geopolitik: Ketegangan antara AS dan Tiongkok atau konflik yang belum mereda di Ukraina dan Timur Tengah dapat memicu volatilitas pasar keuangan global, termasuk di pasar obligasi.
- Ketergantungan terhadap Investor Asing: Meski saat ini menguntungkan, ketergantungan terhadap dana asing juga mengandung risiko sudden reversal. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong partisipasi investor domestik, termasuk melalui penguatan pasar ritel seperti SBN ritel dan ORI.
Langkah Strategis Pemerintah dan Bank Indonesia
Untuk menjaga kepercayaan investor dan memperkuat ketahanan pasar obligasi, pemerintah dan BI terus melakukan koordinasi erat dalam bauran kebijakan fiskal dan moneter. Beberapa langkah yang telah dan akan terus dilakukan antara lain:
- Penerbitan SBN yang Terukur dan Terdiversifikasi: Pemerintah menyesuaikan strategi penerbitan berdasarkan kondisi pasar, termasuk menurunkan frekuensi lelang saat likuiditas terbatas, dan memperluas basis investor melalui instrumen syariah dan ritel.
- Intervensi Stabilisasi Rupiah oleh BI: Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valas dan pembelian SBN di pasar sekunder bila diperlukan.
- Penguatan Infrastruktur Pasar Keuangan: Termasuk pengembangan platform e-SBN, peningkatan transparansi harga, dan integrasi sistem perdagangan yang memungkinkan likuiditas lebih tinggi dan akses yang lebih luas.
Kesimpulan
Fenomena derasnya aliran dana asing ke SBN tenor panjang menunjukkan kepercayaan investor global terhadap fondasi ekonomi Indonesia. Ini bukan hanya kabar baik bagi pasar obligasi, tetapi juga bagi keseluruhan perekonomian nasional, karena memungkinkan pembiayaan pembangunan dengan biaya yang lebih efisien dan stabil.
Namun demikian, dinamika global yang bergerak cepat mengharuskan Indonesia untuk tetap adaptif dan hati-hati. Penguatan sektor keuangan domestik, diversifikasi basis investor, serta koordinasi kebijakan yang erat antar-lembaga menjadi kunci agar momentum ini tidak hanya bertahan sementara, tetapi berkelanjutan dalam jangka panjang.
