Jakarta, Mata4com — Indonesia menyumbang sekitar 58 persen produksi minyak sawit global dengan volume hingga 51,6 juta ton per tahun. Namun, besarnya produksi tersebut belum sepenuhnya ditopang oleh kekuatan petani swadaya yang masih menghadapi berbagai keterbatasan di lapangan.
Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia bersama WWF-Indonesia dalam Dialog Nasional Kemandirian Pangan 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (23/4/2026). Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah konkret dalam memperbaiki tata kelola sawit nasional.
Dari total tutupan sawit nasional seluas 16,83 juta hektare, sekitar 40 persen di antaranya dikelola oleh petani swadaya. Kelompok ini dinilai masih menghadapi tantangan serius, mulai dari rendahnya produktivitas, keterbatasan akses terhadap bibit unggul dan pupuk, hingga persoalan legalitas lahan dan pembiayaan.
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, menegaskan bahwa kelapa sawit tetap menjadi komoditas strategis yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan dan energi nasional. Namun, ia mengakui bahwa perbaikan tata kelola menjadi langkah mendesak untuk menjaga daya saing di pasar global.
“Penguatan tata kelola yang inklusif, transparan, dan akuntabel menjadi kunci untuk menjaga daya saing global sekaligus memastikan kesejahteraan pekebun dan ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Menurutnya, transformasi yang didorong pemerintah akan difokuskan pada optimalisasi lahan yang sudah ada melalui intensifikasi, bukan sekadar perluasan. Selain itu, pemerintah juga menargetkan penyelesaian hambatan utama petani, seperti legalitas lahan, akses pembiayaan, serta distribusi sarana produksi.
Sementara itu, CEO WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda, menekankan bahwa peningkatan produktivitas harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Ia menilai pendekatan berkelanjutan melalui pendampingan petani menjadi kunci utama.
“Melalui praktik budidaya yang lebih baik, produktivitas dapat ditingkatkan tanpa harus membuka lahan baru. Ini penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan produksi dan pelestarian lingkungan,” kata Aditya.
Diskusi dalam forum tersebut berlangsung dari hulu hingga hilir, mencakup kebijakan nasional hingga tantangan implementasi di lapangan. Salah satu sorotan utama adalah masih terbatasnya pendampingan serta akses layanan bagi petani swadaya, yang berpengaruh terhadap rendahnya produktivitas.
Melalui forum ini, pemerintah dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat menghasilkan langkah konkret lintas sektor untuk mempercepat transformasi sawit nasional. Upaya tersebut diarahkan agar manfaat industri sawit tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar, tetapi juga oleh petani swadaya sebagai bagian penting dari rantai produksi nasional.
