Jakarta, 28 Juli 2025 – Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini merilis laporan terbaru mengenai komponen penyusun garis kemiskinan di Indonesia. Dalam laporan tersebut, terungkap bahwa selain kebutuhan pokok seperti beras dan bahan makanan lainnya, barang-barang non-makanan seperti rokok dan bahkan produk perawatan diri atau skincare turut menjadi penyumbang garis kemiskinan nasional.
Laporan ini menjadi sorotan publik karena menggambarkan pola konsumsi rumah tangga miskin yang tidak hanya berfokus pada pangan, tetapi juga mencakup kebutuhan non-pangan yang bersifat fungsional dan personal. Pemahaman terhadap komponen ini penting untuk melihat bagaimana strategi penanggulangan kemiskinan perlu disesuaikan dengan realitas sosial dan budaya masyarakat.

www.service-ac.id
Beras Masih Jadi yang Utama
Seperti tahun-tahun sebelumnya, beras tetap menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Konsumsi beras yang tinggi mencerminkan ketergantungan masyarakat terhadap bahan pokok ini sebagai sumber utama kalori harian.
Menurut data BPS, proporsi pengeluaran rumah tangga miskin untuk beras mencapai lebih dari 20% dari total pengeluaran makanan, menjadikannya indikator utama dalam penghitungan garis kemiskinan.
Rokok: Kontributor Kontroversial
Yang cukup mengejutkan adalah posisi rokok kretek filter yang kembali masuk dalam daftar utama penyumbang garis kemiskinan. Bahkan dalam beberapa kasus, pengeluaran untuk rokok bisa melampaui pengeluaran untuk protein hewani seperti telur atau daging ayam.
BPS mencatat bahwa rokok menyumbang sekitar 10–12% dari garis kemiskinan di beberapa wilayah. Fakta ini menunjukkan bahwa rumah tangga miskin masih mengalokasikan sebagian signifikan dari anggaran mereka untuk konsumsi rokok.
Fenomena ini menuai kritik dari banyak pihak, terutama kalangan pemerhati kesehatan dan kesejahteraan sosial. “Pengeluaran rokok pada rumah tangga miskin bisa menggeser anggaran untuk makanan bergizi atau pendidikan anak,” ujar Dr. Lestari Wulandari, peneliti sosial dari LIPI.
Skincare dan Produk Perawatan Diri
Menariknya, BPS juga mencatat adanya kontribusi dari barang-barang non-makanan seperti sabun mandi, pasta gigi, hingga produk perawatan kulit (skincare) dalam komponen garis kemiskinan.
Meskipun persentasenya tidak sebesar bahan makanan, keberadaan produk-produk ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar rumah tangga tidak hanya soal makan, tetapi juga tentang menjaga kebersihan dan penampilan diri. Ini mengindikasikan adanya dimensi martabat dan citra sosial yang tetap dipertahankan oleh masyarakat miskin.
“Barang-barang seperti sabun, sampo, dan bahkan pelembap kulit dianggap sebagai kebutuhan minimal untuk tetap diterima secara sosial. Ini bukan soal gaya hidup, tapi soal harga diri,” ujar Sari Oktaviani, sosiolog dari Universitas Indonesia.
Pentingnya Pemahaman Pola Konsumsi
Penyusunan garis kemiskinan oleh BPS tidak hanya berdasarkan jumlah pengeluaran, tetapi juga memperhitungkan jenis dan pola konsumsi masyarakat. Garis kemiskinan dibagi menjadi dua komponen:
- Garis Kemiskinan Makanan (GKM): mencakup kebutuhan energi minimum sebesar 2.100 kilokalori per kapita per hari.
- Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM): mencakup kebutuhan dasar lain seperti perumahan, pendidikan, transportasi, dan perawatan pribadi.
Dengan memahami komposisi ini, pemerintah dan pemangku kebijakan bisa lebih tepat dalam menyusun program bantuan sosial dan intervensi kemiskinan yang sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Kesimpulan
Laporan BPS mengungkap fakta bahwa kemiskinan bukan hanya soal kekurangan pangan, tapi juga tentang bagaimana masyarakat miskin membagi pengeluaran mereka untuk kebutuhan hidup yang lebih luas. Beras masih menjadi prioritas utama, namun konsumsi rokok dan produk perawatan diri menunjukkan adanya aspek sosial dan psikologis dalam kehidupan masyarakat miskin.
Pemerintah diharapkan dapat menggunakan data ini sebagai acuan dalam menyusun strategi penanggulangan kemiskinan yang lebih komprehensif dan berbasis pada realitas keseharian warga miskin, bukan hanya pada angka dan asumsi ekonomi semata.
