Tegal, Mata4.com — Pemerintah Kota Tegal mengambil langkah proaktif di tengah situasi nasional yang memanas akibat gelombang unjuk rasa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Melalui kunjungan langsung ke sejumlah sekolah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tegal memberikan motivasi kepada pelajar agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan-ajakan untuk ikut dalam aksi demonstrasi, terutama yang berpotensi ditunggangi kepentingan politik tertentu.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi muda yang kerap menjadi sasaran propaganda di tengah situasi politik dan sosial yang memanas. Dalam beberapa insiden di wilayah lain, keterlibatan pelajar dalam aksi massa sempat berujung pada kekerasan dan pelanggaran hukum, yang tentu merugikan masa depan para siswa itu sendiri.
Sekda: Siswa Harus Jadi Pelopor Perdamaian, Bukan Korban Situasi
Dalam kunjungannya ke beberapa SMA di wilayah Kota Tegal, Sekda disambut hangat oleh para siswa dan guru. Ia menyampaikan bahwa sekolah harus tetap menjadi tempat yang aman dan kondusif untuk belajar, bukan ruang yang terpolarisasi oleh isu-isu politik.
“Kami hadir untuk menguatkan semangat kalian. Negara butuh generasi muda yang cerdas dan kritis, tapi juga bijaksana. Jangan sampai kalian terbawa arus oleh provokasi yang tidak kalian pahami sepenuhnya,” kata Sekda saat memberikan sambutan di hadapan ratusan siswa.
Ia menambahkan bahwa dalam sejarah demokrasi, pelajar memang punya peran penting. Namun, peran itu harus dilakukan secara sadar, melalui proses pendidikan dan pembentukan karakter, bukan melalui aksi destruktif yang mengorbankan keamanan dan masa depan mereka sendiri.
Upaya Edukatif di Tengah Dinamika Sosial
Kunjungan ini dikemas dalam bentuk dialog terbuka, di mana siswa diperbolehkan bertanya dan menyampaikan pendapat mereka mengenai situasi yang sedang berlangsung. Banyak siswa yang mengaku penasaran mengenai hak mereka dalam menyampaikan aspirasi, serta batasan hukum yang berlaku jika mereka terlibat dalam demonstrasi.
Dinas Pendidikan Kota Tegal juga turut memberikan pengarahan mengenai pentingnya literasi digital dan selektif dalam menyerap informasi, terutama di media sosial. Siswa diminta untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, apalagi sampai terlibat dalam ajakan aksi yang bersifat provokatif.
“Kami melihat adanya peningkatan narasi ajakan turun ke jalan yang beredar di media sosial, termasuk yang menyasar pelajar. Maka dari itu, kami hadir langsung untuk menjelaskan risikonya,” jelas Kepala Dinas Pendidikan Kota Tegal dalam kesempatan yang sama.
Guru dan Sekolah Apresiasi Langkah Pemerintah Daerah
Para guru menyambut positif inisiatif pemerintah daerah ini. Menurut mereka, pendekatan persuasif dan edukatif jauh lebih efektif dalam membina karakter siswa dibandingkan pendekatan larangan semata.
“Kehadiran pemerintah di sekolah memberi semangat tersendiri bagi kami sebagai pendidik. Anak-anak juga jadi lebih paham bahwa negara memperhatikan mereka secara langsung, bukan hanya memberi aturan,” ujar salah satu kepala sekolah.
Guru-guru juga diimbau untuk aktif memantau diskusi siswa di lingkungan sekolah, termasuk di dunia maya, dan memberikan bimbingan agar para pelajar tidak terpapar narasi radikal atau agitasi politik yang berlebihan.
Siswa: Kami Butuh Penjelasan, Bukan Sekadar Larangan
Beberapa siswa yang diwawancarai mengungkapkan bahwa mereka memang sempat menerima ajakan untuk ikut turun ke jalan, namun merasa ragu karena belum memahami sepenuhnya tujuan dan dampaknya.
“Tadi kami dijelaskan tentang bagaimana menyampaikan pendapat secara aman dan bertanggung jawab. Jadi sekarang kami lebih paham, dan tahu bahwa aksi itu bukan satu-satunya cara,” kata Aulia, siswi kelas XI di salah satu SMA negeri.
Siswa lainnya mengaku senang karena merasa suaranya didengar. Mereka menilai pendekatan dialog terbuka seperti ini lebih efektif daripada larangan keras yang selama ini justru membuat mereka penasaran atau merasa dikekang.
Konteks Lebih Luas: Pelajar Jadi Sasaran Propaganda?
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah pengamat politik dan pendidikan menyampaikan keprihatinan mengenai kecenderungan keterlibatan pelajar dalam aksi-aksi protes yang diorganisir melalui media sosial. Pola ini mirip dengan fenomena demonstrasi pelajar pada tahun-tahun sebelumnya, di mana pelajar kerap dimobilisasi tanpa pemahaman menyeluruh atas isu yang diangkat.
Pemerintah daerah bersama satuan pendidikan di berbagai wilayah kini bekerja sama untuk memastikan agar pelajar tidak menjadi korban dari konflik kepentingan yang tidak mereka pahami. Di Jawa Tengah, sebagian sekolah bahkan telah mengadakan apel bersama bertajuk “Pendidikan Demokrasi Sehat” untuk menguatkan nilai kebangsaan dan tanggung jawab sosial di kalangan siswa.
Penutup
Kunjungan Sekda Tegal ke sekolah-sekolah di tengah situasi sosial yang dinamis menunjukkan pendekatan pemerintah daerah yang lebih empatik dan edukatif. Langkah ini diharapkan menjadi contoh bahwa menjaga keamanan dan masa depan pelajar tidak selalu harus dengan pendekatan represif, melainkan melalui komunikasi, edukasi, dan kehadiran langsung.
Pemerintah daerah, satuan pendidikan, orang tua, dan masyarakat secara luas diharapkan dapat terus bersinergi agar pelajar Indonesia tumbuh sebagai generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga matang dalam bersikap di tengah perubahan sosial yang cepat.

