Jakarta, Mata4.com – Pemerintah mencatat adanya tren penurunan harga beras yang semakin meluas. Pada pekan pertama September 2025, harga beras turun di 105 kabupaten/kota, meningkat dari hanya 58 daerah pada periode sebelumnya. Sementara itu, jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga berkurang signifikan, dari 214 menjadi 100 kabupaten/kota.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjelaskan bahwa penurunan harga beras merupakan hasil dari serangkaian intervensi, termasuk distribusi beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) melalui Perum Bulog, serta operasi pasar di sejumlah wilayah.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut capaian ini sebagai bukti sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. “Stabilisasi harga beras penting bagi masyarakat. Pemerintah terus berupaya agar harga tetap terjangkau,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Data BPS menunjukkan harga beras medium di beberapa zona pemantauan mengalami koreksi. Di Zona 1 turun menjadi Rp15.393 per kilogram, Zona 2 menjadi Rp16.448 per kilogram, dan Zona 3 Rp19.688 per kilogram. Beberapa daerah yang mencatat penurunan signifikan antara lain Kutai Timur (9,37 persen), Lamongan, Serdang Bedagai, Morowali Utara, dan Tapanuli Selatan.
Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi menyatakan pihaknya memperluas jaringan penjualan SPHP ke pasar tradisional, ritel modern, outlet Bulog, hingga koperasi desa. Langkah ini dilakukan melalui kerja sama lintas lembaga, termasuk dengan TNI dan Polri, agar beras terjangkau lebih mudah diakses masyarakat.
Meski tren penurunan terjadi, pemerintah tetap mengingatkan potensi gejolak harga akibat faktor cuaca, produksi, dan dinamika pasar global. Untuk itu, pengawasan distribusi dan pasokan akan terus diperkuat agar stabilisasi dapat berlanjut.
Dengan perkembangan ini, pemerintah berharap harga beras di pasar semakin terkendali, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah situasi ekonomi yang masih penuh tantangan.
