Indramayu, Mata4.com – Di sebuah rumah sederhana di Desa Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, seorang bocah perempuan bernama Vika tengah menjalani perjuangan hidup yang tidak ringan. Di usianya yang baru menginjak delapan tahun, Vika harus melawan penyakit berat berupa pembengkakan kelenjar getah bening yang kini berkembang menjadi tumor di leher hingga bagian dada.
Penyakit yang dideritanya bermula dari benjolan kecil yang tumbuh di leher bagian kiri. Awalnya, keluarga menduga benjolan itu hanya pembengkakan biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, benjolan tersebut membesar dan menyebar hingga ke bagian dada, membuat Vika mengalami kesulitan bernapas, menelan makanan, bahkan berbicara.
Kondisi Semakin Memburuk
Menurut keterangan ibunya, Vika kini lebih banyak berbaring karena tubuhnya sering lemas. Aktivitas bermain, belajar, dan bersosialisasi pun nyaris berhenti total. Tubuh mungilnya terlihat semakin kurus, namun ben
jolan di leher dan dadanya kian menonjol.
“Sudah hampir tiga bulan ini Vika tidak bisa sekolah. Setiap malam dia kesakitan, sesak napas, dan sering menangis,” ujar sang ibu dengan suara lirih saat ditemui di kediamannya.
Keluarga telah membawa Vika ke puskesmas setempat, lalu dirujuk ke RSUD Indramayu untuk pemeriksaan lanjutan. Namun, fasilitas dan peralatan medis terbatas membuat tim dokter menyarankan agar Vika dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas onkologi anak di tingkat provinsi. Sayangnya, biaya menjadi kendala utama.
Terbentur Biaya, BPJS Tidak Cukup
Meskipun Vika telah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, keluarga menyebut tidak semua tindakan medis dan obat-obatan yang dibutuhkan ditanggung penuh. Mereka harus menyediakan biaya tambahan untuk transportasi rujukan, penginapan selama di luar kota, serta kebutuhan medis lainnya yang bersifat spesifik.
“Kami bukan tidak mau bawa ke rumah sakit besar, tapi kami benar-benar tidak mampu. Suami saya hanya buruh tani harian. Uang makan saja kadang pas-pasan,” tutur ibunya.
Sang ayah, yang bekerja sebagai buruh tani lepas, hanya mendapatkan penghasilan jika ada panggilan kerja. Dalam sebulan, mereka hanya mengandalkan sisa penghasilan tak tetap untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pengobatan dasar.
Warga dan Relawan Bergerak
Melihat kondisi Vika yang semakin memburuk, warga setempat dan sejumlah relawan kemanusiaan mulai bergerak. Mereka melakukan penggalangan dana secara swadaya di lingkungan desa, dan sebagian lainnya menginisiasi kampanye donasi melalui media sosial.
Kepala Desa Sukra, dalam keterangannya, mengatakan bahwa pihak desa telah mengupayakan bantuan dengan mengirimkan laporan ke Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu. Mereka juga turut memfasilitasi komunikasi antara keluarga dan rumah sakit rujukan agar proses rujukan berjalan lancar.
“Kami ikut prihatin dan akan berupaya sekuat tenaga untuk mendampingi keluarga. Vika adalah anak kami juga,” ujar kepala desa setempat.
Harapan Akan Uluran Tangan
Keluarga Vika berharap ada lebih banyak pihak yang mengetahui kondisi ini dan bersedia memberikan bantuan, baik melalui donasi langsung maupun perhatian dari lembaga sosial dan instansi pemerintah. Mereka tidak meminta yang muluk-muluk, hanya ingin putri mereka mendapatkan pengobatan yang layak dan kesempatan untuk sembuh.
“Vika anak yang ceria. Dulu dia sangat aktif di sekolah. Sekarang, dia hanya bisa tidur dan memegang lehernya yang sakit,” ungkap salah satu guru Vika di sekolah dasar tempat ia belajar.
Meski dalam kondisi terbatas, semangat dan kasih sayang orang tua serta dukungan dari lingkungan menjadi kekuatan tersendiri bagi Vika. Ia tetap berusaha tersenyum meski tubuhnya digerogoti penyakit.
Catatan Redaksi
Berita ini ditulis dengan tujuan kemanusiaan dan mengedepankan prinsip jurnalistik yang etis. Identitas lengkap pasien anak tidak disebarkan untuk menjaga privasi. Informasi disusun berdasarkan keterangan keluarga, pihak desa, dan relawan yang terlibat dalam penanganan kasus ini.
Informasi Donasi
Bagi masyarakat yang ingin membantu proses pengobatan Vika, donasi dapat disalurkan melalui rekening atau platform resmi yang dikelola oleh tim relawan kemanusiaan “Indramayu Peduli” atau melalui pemerintah desa setempat. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui akun media sosial @IndramayuPeduli atau menghubungi nomor kontak resmi perangkat desa Sukra.

