Surabaya, Mata4.com – Langkah Tim Nasional Indonesia U23 menuju putaran final Piala Asia U23 2026 resmi terhenti. Kekalahan tipis 0-1 dari tuan rumah Korea Selatan dalam laga terakhir Grup B Kualifikasi AFC U23, yang berlangsung di Seoul World Cup Stadium pada Rabu malam waktu setempat, menjadi pukulan telak bagi harapan Garuda Muda untuk berlaga di turnamen bergengsi Asia tersebut.
Gol semata wayang dalam pertandingan itu dicetak oleh penyerang Korea Selatan pada menit ke-68, memanfaatkan kesalahan koordinasi lini pertahanan Indonesia. Meskipun tampil disiplin dan menunjukkan semangat tinggi, tim asuhan Shin Tae-yong belum mampu menandingi dominasi teknis dan pengalaman lawan yang merupakan salah satu tim terkuat di level usia muda Asia.
Jalannya Pertandingan: Pertahanan Disiplin, Serangan Terbatas
Laga dimulai dengan tempo tinggi, dengan Korea Selatan langsung mengambil inisiatif menyerang. Sejak menit awal, tuan rumah mendominasi penguasaan bola, dengan pendekatan taktik pressing tinggi dan kombinasi umpan cepat yang menekan pertahanan Indonesia.
Indonesia, di sisi lain, tampil dengan pendekatan pragmatis. Shin Tae-yong menurunkan formasi bertahan 5-4-1 yang fokus menjaga kedalaman dan mempersempit ruang gerak lawan. Strategi ini terbukti cukup efektif selama 45 menit pertama, dengan sejumlah penyelamatan krusial dari kiper Ernando Ari yang tampil sebagai tembok terakhir Garuda Muda.
Peluang Indonesia datang melalui serangan balik cepat, terutama lewat pergerakan Marselino Ferdinan dan Jeam Kelly Sroyer. Namun, minimnya dukungan dari lini kedua membuat penyelesaian akhir Indonesia tidak cukup tajam.
Kebobolan di Babak Kedua, Tekanan Tak Berbuah Gol
Korea Selatan baru berhasil memecah kebuntuan di babak kedua, tepatnya menit ke-68. Sebuah umpan terobosan dari sisi kanan pertahanan Indonesia gagal diantisipasi, dan striker tuan rumah dengan tenang mengarahkan bola ke pojok bawah gawang, membuat skor berubah menjadi 1-0.
Setelah kebobolan, Indonesia mulai keluar dari tekanan dan bermain lebih terbuka. Masuknya pemain seperti Ramadhan Sananta dan Witan Sulaeman diharapkan bisa menambah daya dobrak. Namun, hingga peluit akhir, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Korea Selatan tetap solid menjaga keunggulan, sementara Indonesia kesulitan menciptakan peluang bersih di kotak penalti lawan.
Klasemen Akhir dan Posisi Indonesia
Kekalahan ini membuat Indonesia hanya mengoleksi 3 poin dari 3 pertandingan (1 menang, 0 imbang, 2 kalah). Mereka menutup kualifikasi di peringkat ketiga grup, di bawah Korea Selatan yang tampil sempurna dengan 9 poin dan Yordania yang mengoleksi 6 poin.
Dengan format kompetisi yang hanya meloloskan juara grup dan empat runner-up terbaik dari 11 grup, posisi Indonesia secara matematis tak memungkinkan untuk masuk ke daftar runner-up terbaik. Hasil ini sekaligus memastikan Garuda Muda absen dari Piala Asia U23 2026 yang akan digelar di Arab Saudi.
Komentar Pelatih: “Kami Sudah Berusaha Maksimal”
Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, pelatih Timnas Indonesia U23, Shin Tae-yong, mengakui bahwa timnya kalah dari lawan yang lebih siap secara kolektif. Meski demikian, ia tetap mengapresiasi semangat juang anak asuhnya.
“Kami menghadapi tim kuat dan bermain di kandangnya. Pemain sudah berusaha maksimal, tapi hasil belum berpihak. Ini harus dijadikan pelajaran penting,” ujar Shin kepada wartawan.
Pelatih asal Korea Selatan itu juga menyebutkan bahwa beberapa pemain muda menunjukkan perkembangan yang baik, namun masih butuh waktu dan pengalaman di level tinggi untuk bisa bersaing di pentas Asia.
Respons PSSI dan Evaluasi Sistem Pembinaan
PSSI melalui Ketua Umum Erick Thohir belum memberikan pernyataan resmi, namun beberapa sumber internal menyebutkan bahwa evaluasi total akan segera dilakukan terhadap sistem pembinaan tim kelompok usia.
Sejumlah pengamat menilai bahwa hasil ini menunjukkan perlunya perbaikan serius dalam struktur pembinaan sepak bola usia muda di Tanah Air, termasuk kompetisi reguler usia muda, distribusi pelatih berkualitas, serta keberlanjutan program Elite Pro Academy yang sempat vakum.
“Tanpa pembinaan yang terarah dan berkelanjutan, kita akan terus tertinggal. Talenta kita banyak, tapi pembinaannya yang belum maksimal,” kata Fakhri Husaini, mantan pelatih Timnas U19, dalam wawancara dengan salah satu media nasional.
Suara Publik: Bangga Meski Gagal
Kendati kecewa, mayoritas publik Indonesia tetap memberikan dukungan moril kepada para pemain. Di media sosial, tagar seperti ramai digunakan sebagai bentuk dukungan atas perjuangan tim.
“Kami tetap bangga. Mereka sudah berjuang, dan ini bukan akhir. Masih banyak ajang ke depan,” tulis akun/
Beberapa pihak juga menilai bahwa kegagalan ini tidak boleh hanya dilihat dari sisi teknis pertandingan, tetapi sebagai momentum untuk introspeksi menyeluruh terhadap arah pembangunan sepak bola nasional.
Langkah Selanjutnya: Fokus ke SEA Games dan Asian Games
Meski gagal tampil di Piala Asia U23, agenda internasional Garuda Muda belum selesai. Tim ini diperkirakan akan kembali dibentuk untuk menghadapi SEA Games 2025 di Thailand dan persiapan awal menuju Asian Games 2026.
Proyeksi tim muda ini masih menjadi perhatian PSSI, terlebih mengingat sebagian besar pemain U23 saat ini juga menjadi bagian dari skuad senior yang sedang dipersiapkan untuk kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia senior.
Pelatih Shin Tae-yong diperkirakan masih akan diberikan kepercayaan untuk menyiapkan tim, meskipun desakan evaluasi dari publik tetap mengemuka.
Kesimpulan
Kekalahan 0-1 dari Korea Selatan di laga terakhir kualifikasi Piala Asia U23 2026 menandai kegagalan Timnas Indonesia U23 melangkah ke putaran final. Meski perjuangan para pemain patut diapresiasi, hasil ini membuka ruang besar untuk evaluasi dan perbaikan sistem pembinaan usia muda di Indonesia.
Garuda Muda mungkin kalah di Seoul, namun semangat untuk bangkit harus tetap dinyalakan. Karena dalam sepak bola, kekalahan hari ini bisa jadi awal dari kemenangan yang lebih besar di masa depan—jika dijalani dengan refleksi dan pembenahan serius.

