Semarang, Mata4.com – Semangat pelestarian budaya dan kebersamaan masyarakat kembali menggema di jantung kota Semarang. Festival Kota Lama Semarang 2025, yang menjadi salah satu agenda budaya tahunan paling dinantikan, resmi dibuka pada Senin malam, 9 September 2025, di kawasan Kota Lama — wilayah bersejarah yang menjadi saksi bisu peradaban kolonial dan akar perkembangan kota.
Dengan tema “Harmoni dalam Warisan”, festival tahun ini menghadirkan lebih dari sekadar hiburan dan kemeriahan. Ia menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, pelaku seni, komunitas budaya, pemerintah, dan sektor swasta untuk bersama-sama merawat warisan sejarah sembari mendorong perkembangan sektor ekonomi kreatif.
Pembukaan festival ditandai dengan parade budaya yang spektakuler, menampilkan tarian tradisional dari berbagai daerah, musik etnik, hingga instalasi seni visual di tengah arsitektur bangunan kuno yang telah direvitalisasi. Ribuan warga dan wisatawan memadati area sekitar Jalan Garuda, Taman Srigunting, dan Gedung Marba — titik-titik ikonik di Kota Lama.
Wali Kota Semarang: Festival Sebagai Simbol Persatuan
Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, menyampaikan bahwa Festival Kota Lama bukan hanya tentang selebrasi budaya, tetapi juga simbol kolaborasi lintas sektor dan lintas generasi.
“Festival ini adalah cerminan nilai kebersamaan warga Kota Semarang. Bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga bagaimana kita merancang masa depan dengan tetap berpijak pada akar budaya,” ujarnya.
Hevearita juga menegaskan pentingnya pelibatan generasi muda dalam kegiatan budaya. Menurutnya, festival ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus ruang ekspresi, di mana anak-anak muda bisa mengenal sejarah kotanya dengan cara yang menyenangkan dan kontekstual.
Kota Lama sebagai Panggung Hidup Budaya
Kawasan Kota Lama, yang juga dikenal sebagai “Little Netherland” karena arsitekturnya yang khas, menjadi panggung terbuka selama sepekan penuh, dari 9 hingga 15 September 2025. Festival ini dirancang sebagai pengalaman budaya menyeluruh, dengan sejumlah kegiatan yang mencakup:
- Parade Budaya Nusantara
Diikuti oleh puluhan komunitas dari berbagai provinsi di Indonesia, parade ini menampilkan ragam busana adat, tari-tarian tradisional, dan musik daerah dalam bentuk arak-arakan di jalan utama Kota Lama. - Pameran Produk Lokal dan UMKM
Stand-stand yang menjajakan kerajinan tangan, batik Semarangan, makanan khas daerah, hingga produk eco-friendly buatan lokal, ramai dikunjungi pengunjung yang ingin mencicipi dan membeli karya anak bangsa. - Pentas Musik dan Teater Jalanan
Panggung-panggung kecil tersebar di berbagai sudut kawasan menghadirkan pertunjukan live dari musisi lokal, komunitas teater, serta seniman independen. Pertunjukan dikemas dalam suasana santai namun sarat pesan budaya. - Workshop dan Kelas Publik
Mulai dari lokakarya membatik, membuat wayang, hingga pelatihan fotografi arsitektur heritage — semuanya terbuka untuk umum dan digelar secara gratis. - Tur Wisata Sejarah (Heritage Walk)
Diselenggarakan oleh komunitas sejarah lokal, tur ini mengajak peserta menelusuri jejak sejarah Kota Lama, lengkap dengan penjelasan arsitektural dan kisah-kisah masa lalu yang tersembunyi.
Antusiasme Pengunjung dan Wisatawan
Tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari padatnya arus pengunjung sejak hari pertama. Menurut data panitia, lebih dari 20.000 orang hadir pada malam pembukaan. Tidak hanya warga lokal, wisatawan dari luar daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya hingga mancanegara ikut meramaikan festival.
Pengunjung juga menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan yang dinilai semakin matang dari tahun ke tahun. Salah satunya adalah Daniel (40), wisatawan asal Belanda, yang mengatakan bahwa festival ini memberikan pengalaman unik karena menyatukan sejarah dan budaya lokal dengan cara modern.
“Saya sangat terkesan. Bangunan kolonial ini seperti panggung seni. Kota Lama Semarang berhasil menghidupkan warisan masa lalu secara relevan,” katanya.
Dampak Ekonomi dan Penguatan Identitas Kota
Festival ini tak hanya berdampak pada aspek budaya dan pariwisata, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal. Ribuan pelaku UMKM, pedagang kaki lima, dan pelaku industri kreatif mendapat ruang promosi sekaligus peningkatan pendapatan selama festival berlangsung.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, menyatakan bahwa festival ini adalah salah satu program prioritas dalam pengembangan ekonomi kreatif dan city branding.
“Kota Lama adalah wajah sejarah kita. Dengan festival ini, kami ingin memperkenalkan Semarang sebagai kota kreatif berbasis budaya. Ini adalah upaya menjadikan sejarah sebagai sumber inspirasi pembangunan,” ujarnya.
Revitalisasi Kota Lama: Dari Kawasan Tua Menjadi Destinasi Wisata Budaya
Selama beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Semarang telah melakukan revitalisasi besar-besaran di kawasan Kota Lama. Infrastruktur diperbaiki, bangunan tua direstorasi, dan fasilitas umum ditingkatkan agar kawasan ini tidak hanya layak dikunjungi, tetapi juga nyaman untuk kegiatan warga.
Pemerintah bekerja sama dengan arsitek pelestari, komunitas sejarah, serta berbagai organisasi internasional seperti UNESCO dalam merancang pelestarian yang berkelanjutan. Festival ini menjadi cara strategis untuk mengaktifkan kawasan Kota Lama secara sosial dan ekonomis, tanpa menghilangkan karakter historisnya.
Penutupan: Merawat Warisan, Menyulam Masa Depan
Festival Kota Lama Semarang 2025 menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan beriringan dengan kemajuan kota. Dengan semangat kolaboratif dan partisipatif, festival ini berhasil menjadi ruang hidup bagi identitas budaya yang tak lekang oleh waktu.
Pemerintah Kota Semarang berharap festival ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk membentuk warga kota yang bangga akan sejarah dan budayanya.
Wali Kota Hevearita menutup sambutannya dengan pesan:
“Warisan bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah amanah yang harus kita jaga, rawat, dan terus hidupkan bersama. Mari rayakan warisan kita dengan semangat, rasa syukur, dan cinta terhadap Indonesia.”

