Jakarta, Mata4.com – PT Remala Abadi Tbk (kode saham: REMA), perusahaan nasional yang bergerak di bidang layanan infrastruktur dan teknologi telekomunikasi, membukukan kinerja positif pada kuartal pertama (Q1) tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan yang telah disampaikan ke publik dan otoritas pasar modal, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 86,395 miliar.
Capaian ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Peningkatan pendapatan ini terutama ditopang oleh perkembangan layanan Fiber to the Home (FTTH) yang menjadi andalan baru perusahaan dalam menghadapi kompetisi di industri digital dan telekomunikasi nasional.
FTTH Berikan Kontribusi Terbesar
Teknologi FTTH merupakan sistem koneksi internet melalui jaringan serat optik langsung ke rumah pelanggan, yang memungkinkan layanan internet lebih stabil, cepat, dan efisien dibandingkan koneksi berbasis tembaga atau wireless konvensional. Dalam laporan manajemen Remala Abadi, disebutkan bahwa FTTH menyumbang lebih dari 70 persen terhadap total pendapatan perusahaan di kuartal pertama 2025.
Layanan ini berkembang pesat seiring dengan tingginya permintaan internet rumah tangga dan bisnis kecil menengah, terutama pasca-pandemi dan tren kerja jarak jauh (remote working) yang terus berlanjut.
“Dalam dua tahun terakhir, kami melihat lonjakan kebutuhan akan koneksi yang andal, baik untuk keperluan profesional, pendidikan, hingga hiburan digital. FTTH menjadi solusi utama untuk memenuhi ekspektasi tersebut,” jelas pernyataan resmi manajemen Remala Abadi.
Ekspansi Jaringan dan Peningkatan Infrastruktur
Selama kuartal pertama 2025, Remala telah menambah cakupan jaringan FTTH ke sejumlah wilayah baru di Pulau Jawa, Bali, dan sebagian Sumatra. Hingga akhir Maret 2025, perusahaan telah menjangkau lebih dari 180.000 home-pass, dan menargetkan untuk mencapai 500.000 home-pass hingga akhir tahun.
Langkah ekspansi ini juga didukung dengan pembangunan jaringan backhaul serat optik yang lebih luas, serta peningkatan kapasitas pusat data (data center) di beberapa kota besar seperti Semarang, Surabaya, dan Makassar.
Perusahaan juga menjalin kemitraan strategis dengan beberapa pengembang properti untuk integrasi layanan FTTH ke dalam proyek perumahan baru. Model ini dinilai efektif untuk mempercepat akuisisi pelanggan tanpa biaya pemasaran yang besar.
Performa Keuangan Tetap Sehat di Tengah Investasi Agresif
Meskipun perusahaan tengah melakukan ekspansi jaringan secara masif, Remala Abadi menyatakan struktur keuangannya tetap berada dalam kondisi sehat. Belanja modal (capital expenditure/capex) untuk tahun ini dialokasikan sekitar Rp 250 miliar, yang digunakan untuk penguatan infrastruktur jaringan dan teknologi digital.
Manajemen menyebutkan bahwa neraca perusahaan tetap kuat dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) yang terkendali dan arus kas operasional yang stabil.
“Kami menjalankan ekspansi dengan prinsip kehati-hatian. Pengembangan jaringan kami lakukan berdasarkan potensi pasar riil, dengan pengelolaan risiko finansial yang terukur,” ungkap manajemen.
Diversifikasi Layanan dan Inovasi Produk
Tak hanya fokus pada infrastruktur, Remala Abadi juga mulai mengembangkan berbagai layanan nilai tambah (value-added services), seperti bundling internet dengan TV interaktif, layanan cloud storage, serta sistem keamanan berbasis IoT (Internet of Things) untuk segmen rumah tangga dan UMKM.
Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai pelanggan dan mendorong loyalitas jangka panjang. Selain itu, perusahaan juga mulai menyasar segmen korporat dan institusi pendidikan dengan solusi jaringan privat (private network) dan layanan terintegrasi berbasis cloud.
Langkah diversifikasi ini dinilai penting untuk memperkuat posisi Remala di pasar telekomunikasi digital yang semakin kompetitif, sekaligus membuka aliran pendapatan baru di luar sektor rumah tangga.
Respon Positif dari Analis dan Pelaku Pasar
Kinerja positif Remala Abadi dalam tiga bulan pertama tahun ini mendapat sambutan baik dari pelaku pasar dan analis industri. Menurut pengamat telekomunikasi dari Institute of Digital Economy (IDE), Rizal Hanafiah, strategi Remala cukup tepat sasaran.
“Remala menunjukkan pemahaman yang baik terhadap tren pasar dan kebutuhan digital masyarakat. FTTH akan terus menjadi tulang punggung pertumbuhan sektor telekomunikasi di masa mendatang,” ujarnya.
Rizal juga menambahkan bahwa tantangan utama ke depan adalah mempertahankan kualitas layanan seiring dengan ekspansi cepat dan peningkatan jumlah pelanggan.
Penutup: Optimisme Menghadapi Kuartal Selanjutnya
Dengan hasil yang dicapai pada kuartal pertama, PT Remala Abadi Tbk menyatakan optimismenya untuk terus mendorong pertumbuhan pendapatan dan perluasan pasar. Target pertumbuhan pendapatan dua digit di tahun 2025 dinilai masih realistis, seiring dengan tingginya permintaan layanan internet cepat dan meningkatnya ketergantungan masyarakat pada teknologi digital.
Remala juga berkomitmen untuk terus mendukung agenda transformasi digital nasional dengan membangun infrastruktur telekomunikasi yang andal, terjangkau, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Kami percaya bahwa konektivitas adalah hak dasar masyarakat modern. Misi kami adalah menjadikan jaringan fiber optik sebagai tulang punggung kehidupan digital yang lebih baik di Indonesia,” tutup manajemen Remala.

