Semarang,, Mata4.com — Jelang pelaksanaan Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dinamika internal partai mulai menghangat. Salah satu perkembangan terbaru datang dari Provinsi Jawa Tengah, di mana sejumlah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP secara terbuka menyampaikan dukungan kepada Muhammad Mardiono untuk kembali menjabat sebagai Ketua Umum.
Dukungan ini disampaikan dalam forum konsolidasi yang diselenggarakan di Kota Semarang, akhir pekan lalu. Kegiatan tersebut dihadiri oleh puluhan pengurus cabang PPP dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah, yang hadir untuk menyuarakan pandangan mereka terkait arah kepemimpinan partai ke depan.
Forum konsolidasi tersebut juga menjadi ajang evaluasi internal menyikapi hasil Pemilu 2024, di mana PPP tidak berhasil lolos ke parlemen setelah gagal memenuhi ambang batas parlementer sebesar 4 persen.
Aspirasi Akar Rumput: Mardiono Dianggap Punya Rekam Jejak dan Loyalitas
Ketua DPC PPP Kabupaten Kendal, Ahmad Zainudin, dalam keterangannya menyatakan bahwa dukungan terhadap Mardiono didasarkan pada pertimbangan rekam jejak, loyalitas, dan kedekatan Mardiono dengan struktur partai hingga ke tingkat bawah.
“Pak Mardiono adalah kader murni yang tidak muncul secara tiba-tiba. Beliau memahami kultur PPP, paham proses kaderisasi, dan mampu menjaga stabilitas internal saat partai menghadapi tantangan besar,” kata Zainudin kepada wartawan usai pertemuan.
Ia menambahkan bahwa sejak Mardiono menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Umum, dan kemudian menjadi Ketua Umum definitif, komunikasi antara DPP dan DPC disebutnya menjadi lebih terbuka dan responsif. “Kami di daerah merasa lebih didengar, dan ini penting untuk menjaga semangat pengurus di akar rumput,” tambahnya.
Ketua DPC Banyumas: “Ketua Umum Harus Lahir dari Proses Kaderisasi”
Pernyataan serupa datang dari Ketua DPC PPP Kabupaten Banyumas, Sriyanto, yang menyoroti pentingnya sosok Ketua Umum yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuh partai. Menurutnya, hanya kader internal yang memahami secara menyeluruh nilai, sejarah, dan ideologi partai.
“Ketua umum bukan hanya soal elektabilitas. Ini soal kepemimpinan ideologis dan loyalitas terhadap prinsip partai. Kami menolak figur luar yang hanya muncul saat momentum muktamar. Ketua umum harus lahir dari proses kaderisasi, dan Mardiono memenuhi kriteria itu,” tegas Sriyanto.
Dia menambahkan bahwa figur seperti Mardiono juga dinilai mampu menjaga soliditas partai di tengah kondisi politik nasional yang sangat dinamis. “Beliau tidak hanya memahami struktur, tetapi juga punya jaringan luas untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap PPP,” lanjutnya.
Belum Ada Deklarasi Resmi dari Mardiono
Meski dukungan dari sejumlah DPC mulai menguat, hingga kini Muhammad Mardiono belum memberikan pernyataan resmi terkait kesediaannya untuk kembali maju sebagai calon Ketua Umum. Tim media dari DPP PPP saat dihubungi, belum memberikan jawaban tegas mengenai sikap politik Mardiono jelang Muktamar X.
Sejumlah sumber internal menyebut bahwa Mardiono saat ini masih fokus menjalankan tugasnya sebagai Ketua Umum, termasuk dalam proses evaluasi pasca-Pemilu 2024 dan penyusunan peta jalan partai menuju Pemilu 2029.
Seorang pengurus harian PPP yang enggan disebutkan namanya menyebut bahwa kemungkinan Mardiono akan menyatakan sikap setelah forum Rapimnas digelar dalam waktu dekat. “Pak Ketua masih fokus pada konsolidasi. Soal maju lagi atau tidak, nanti akan disampaikan sendiri oleh beliau dalam forum resmi,” ujarnya singkat.
Perspektif Pengamat: Dukungan Akar Rumput Penting, Tapi Mekanisme Demokratis Harus Dijaga
Menanggapi dinamika ini, pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Dr. Dedi Susanto, menyampaikan bahwa dukungan dari DPC merupakan hal yang wajar dan merupakan bagian dari proses demokrasi internal. Namun ia mengingatkan bahwa semua proses harus tetap berjalan sesuai konstitusi partai, yakni AD/ART PPP.
“Dukungan politik merupakan bagian dari artikulasi aspirasi. Tapi harus diingat bahwa Muktamar adalah forum tertinggi partai yang mengatur mekanisme pemilihan. Semua kandidat harus mengikuti proses demokratis yang sudah diatur,” jelas Dedi saat dihubungi, Senin (22/9).
Ia juga menyebut bahwa salah satu tantangan berat yang akan dihadapi Ketua Umum PPP ke depan adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan publik dan memperbaiki posisi partai secara nasional, pasca tidak lolos ke DPR RI dalam Pemilu 2024.
“Partai ini butuh pemimpin yang tidak hanya kuat secara ideologis, tetapi juga mampu membaca peta politik nasional. Figur seperti Mardiono tentu punya kelebihan, tapi partai juga harus membuka ruang kompetisi yang sehat agar regenerasi bisa berjalan,” tambahnya.
Muktamar X PPP: Momentum Kritis untuk Reposisi Partai
Muktamar X PPP diperkirakan akan digelar antara akhir 2025 atau awal 2026, meski jadwal pastinya masih menunggu keputusan resmi DPP. Forum ini akan menjadi tonggak penting dalam menentukan arah kebijakan partai, termasuk pemilihan Ketua Umum, penyesuaian strategi politik nasional, serta konsolidasi organisasi pasca hasil Pemilu 2024 yang dinilai mengecewakan oleh sebagian kalangan internal.
Berdasarkan AD/ART PPP, Muktamar merupakan forum tertinggi pengambilan keputusan partai, yang dihadiri oleh utusan DPP, DPW, DPC, serta perwakilan organisasi sayap dan badan otonom partai.
Sejumlah sumber menyebut bahwa selain Mardiono, ada kemungkinan munculnya figur-figur alternatif yang berasal dari internal maupun eksternal partai. Namun hingga kini belum ada deklarasi resmi dari tokoh-tokoh lain yang berniat mencalonkan diri.

