Jakarta, Mata4.com — Indonesia kini semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi pusat dekarbonisasi dunia. Hal ini menjadi relevan di tengah upaya global dalam mengurangi emisi karbon serta percepatan transisi menuju energi bersih dan pembangunan berkelanjutan. Berbagai langkah strategis yang diambil oleh pemerintah bersama sektor swasta, serta dukungan komunitas internasional, menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam mencapai target net-zero emission pada tahun 2060.
Dekarbonisasi, yang berarti pengurangan emisi karbon dioksida (CO2) dari berbagai sektor ekonomi dan aktivitas manusia, adalah salah satu kunci utama dalam mengatasi perubahan iklim global yang telah menimbulkan berbagai bencana alam, gangguan kesehatan, dan ketidakstabilan ekonomi. Indonesia, sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah dan letak geografis strategis, berpotensi menjadi penggerak utama transformasi energi hijau di kawasan Asia Tenggara dan dunia.
Potensi Energi Terbarukan yang Melimpah
Salah satu modal utama Indonesia dalam dekarbonisasi adalah kekayaan sumber daya energi terbarukan yang sangat melimpah. Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa potensi energi surya di Indonesia mencapai sekitar 207,8 gigawatt (GW), sementara potensi panas bumi diperkirakan lebih dari 29 GW, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia. Selain itu, sumber energi lain seperti tenaga angin, biomassa, dan hidroelektrik juga memiliki kapasitas yang signifikan.
Pemanfaatan energi surya misalnya, sudah mulai dikembangkan melalui proyek-proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) baik dalam skala besar (PLTS atap dan PLTS terpusat) yang tersebar di berbagai daerah, termasuk pulau-pulau kecil yang sebelumnya sulit dijangkau oleh jaringan listrik konvensional. Pemerintah juga mengembangkan proyek panas bumi di wilayah seperti Sumatera, Jawa, dan Sulawesi, yang secara alami kaya akan sumber daya tersebut.
Kebijakan Nasional dan Komitmen Global
Untuk mewujudkan visi dekarbonisasi, pemerintah Indonesia telah menetapkan berbagai kebijakan dan regulasi yang mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menetapkan target porsi EBT sebesar 23% dari total bauran energi nasional pada 2025, dengan target ambisius meningkat secara progresif hingga mencapai net-zero emission pada tahun 2060.
Selain itu, Indonesia juga berkomitmen dalam perjanjian internasional, termasuk Paris Agreement, yang mengamanatkan pengurangan emisi gas rumah kaca secara signifikan. Dalam forum-forum global seperti COP (Conference of Parties) dan G20, Indonesia secara aktif berpartisipasi dan menunjukkan komitmen dalam memperkuat aksi iklim melalui berbagai inisiatif.
Peran Strategis Sektor Swasta dan Investasi
Sektor swasta merupakan katalis penting dalam akselerasi dekarbonisasi di Indonesia. Perusahaan nasional maupun multinasional semakin aktif berinvestasi dalam proyek energi hijau, teknologi efisiensi energi, serta inovasi berkelanjutan yang dapat mengurangi jejak karbon mereka. Contoh nyata termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya skala besar, pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), dan penerapan teknologi carbon capture and storage (CCS).
Investasi asing juga semakin meningkat, dengan banyak investor global melihat Indonesia sebagai pasar potensial untuk energi bersih. Pemerintah mendorong masuknya investasi ini melalui berbagai insentif fiskal dan non-fiskal, kemudahan perizinan, serta penguatan kerangka regulasi yang kondusif.
Dukungan dan Kerjasama Internasional
Indonesia mendapatkan dukungan signifikan dari lembaga internasional dan negara mitra melalui program pendanaan, transfer teknologi, dan pelatihan sumber daya manusia. Green Climate Fund (GCF), Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), dan lembaga lain menjadi mitra strategis dalam mempercepat pembangunan proyek energi hijau dan mitigasi perubahan iklim.
Kerja sama bilateral dengan negara-negara maju juga mendorong pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas, dan akses teknologi mutakhir yang sangat dibutuhkan untuk memperkuat program dekarbonisasi nasional.
Tantangan dalam Proses Transisi Energi
Walaupun potensi dan dukungan melimpah, Indonesia menghadapi sejumlah tantangan dalam implementasi dekarbonisasi secara menyeluruh. Investasi besar dibutuhkan untuk membangun infrastruktur energi terbarukan yang andal dan tersebar merata. Selain itu, modernisasi jaringan listrik (grid) agar mampu mengakomodasi energi terbarukan yang bersifat intermittent menjadi tantangan teknis utama.
Secara sosial, transformasi ini harus dilakukan secara adil agar tidak meninggalkan kelompok masyarakat tertentu, terutama yang selama ini bergantung pada industri berbasis bahan bakar fosil. Pemerintah dan pemangku kepentingan harus memastikan adanya program pelatihan ulang (reskilling) dan pendampingan bagi tenaga kerja terdampak.
Peluang Ekonomi dan Sosial dari Dekarbonisasi
Dekarbonisasi juga menghadirkan berbagai peluang ekonomi dan sosial yang besar. Pengembangan energi bersih diprediksi dapat menciptakan jutaan lapangan kerja hijau (green jobs) di sektor manufaktur, konstruksi, pemeliharaan, dan layanan terkait. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang inklusif.
Selain itu, pengurangan emisi karbon berdampak positif pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat, mengurangi biaya sosial akibat polusi dan penyakit terkait lingkungan. Indonesia juga berpotensi menjadi eksportir teknologi dan jasa hijau ke negara-negara lain, meningkatkan daya saing di pasar global yang semakin peduli pada isu keberlanjutan.
Peran Masyarakat dan Edukasi
Keberhasilan dekarbonisasi juga sangat bergantung pada peran serta masyarakat luas. Edukasi dan sosialisasi penting untuk membangun kesadaran akan pentingnya perubahan gaya hidup ramah lingkungan, penghematan energi, serta penggunaan produk dan teknologi hijau.
Berbagai program kampanye dan pelibatan komunitas di berbagai daerah menjadi bagian dari strategi pemerintah dan organisasi non-pemerintah untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Kesimpulan
Dengan segala potensi yang dimiliki, kebijakan yang progresif, dukungan sektor swasta, serta kerja sama internasional yang kuat, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menjadi pusat dekarbonisasi dunia. Transisi ini tidak hanya berkontribusi dalam upaya global mengatasi perubahan iklim, tetapi juga membuka jalan bagi pembangunan berkelanjutan yang adil dan produktif.

