Jakarta, Mata4.com — Ketahanan energi menjadi pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan nasional. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi domestik, serta tantangan global terkait pasokan energi dan transisi ke energi bersih, pemerintah Indonesia menekankan perlunya modernisasi sektor hilir migas, khususnya kilang minyak.
Kilang-kilang minyak milik negara yang telah beroperasi selama puluhan tahun dinilai tidak lagi efisien secara operasional maupun teknologi. Karena itu, peremajaan dan pembangunan kilang baru menjadi bagian penting dari strategi ketahanan energi nasional.
Kilang Tua, Beban Baru untuk Energi Nasional
Hingga saat ini, sebagian besar kilang minyak yang beroperasi di Indonesia dibangun pada periode 1970-an hingga awal 1990-an, antara lain kilang di Balikpapan (1972), Cilacap (1976), Plaju, dan Dumai. Meskipun masih aktif memproduksi bahan bakar minyak (BBM), kapasitas dan efisiensi kilang-kilang tersebut dinilai sudah tidak mampu mengikuti perkembangan kebutuhan energi dan standar lingkungan saat ini.
Teknologi yang sudah usang menyebabkan tingkat pengolahan (refining capacity) rendah dan keterbatasan dalam mengolah jenis minyak mentah tertentu. Selain itu, banyak produk BBM dari kilang tersebut masih belum memenuhi standar emisi global seperti Euro IV dan Euro V, yang menjadi syarat penting dalam perdagangan internasional dan perlindungan lingkungan.
“Kalau kilang kita tidak diperbarui, maka produksi BBM akan tetap rendah dan kualitasnya tertinggal. Dampaknya, kita harus impor terus, dan ini sangat membebani neraca perdagangan,” ujar Tutuka Ariadji, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, saat memberi keterangan di Jakarta, Selasa (8/10).
Peremajaan Lewat RDMP dan GRR: Jalan Menuju Efisiensi dan Kemandirian
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) telah meluncurkan dua program utama:
1. RDMP (Refinery Development Master Plan)
Merupakan proyek peningkatan kapasitas dan kualitas kilang eksisting. Proyek ini mencakup kilang Balikpapan, Cilacap, Plaju, dan Dumai.
Kilang Balikpapan, misalnya, akan ditingkatkan kapasitasnya dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari, sekaligus mengadopsi teknologi terbaru agar dapat menghasilkan BBM dengan kualitas lebih tinggi dan ramah lingkungan.
2. GRR (Grass Root Refinery)
Merupakan pembangunan kilang baru dari nol. Proyek GRR Tuban di Jawa Timur adalah salah satunya, dikerjakan oleh Pertamina bersama mitra asing, dan ditargetkan memiliki kapasitas produksi 300 ribu barel per hari.
Melalui kedua proyek ini, Indonesia menargetkan untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM, meningkatkan cadangan energi nasional, dan menurunkan emisi karbon dari sektor energi.
Manfaat Strategis Modernisasi Kilang
Peremajaan kilang tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi BBM. Secara luas, modernisasi kilang akan:
- Mengurangi ketergantungan pada impor BBM dan memperkuat kemandirian energi.
- Meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, dengan menghasilkan produk petrokimia dan BBM berkualitas ekspor.
- Mendukung transisi energi bersih dengan mengurangi emisi dan memproduksi BBM sesuai standar lingkungan global.
- Meningkatkan daya saing industri nasional, terutama di sektor transportasi, manufaktur, dan logistik.
- Menciptakan lapangan kerja baru dalam konstruksi, teknologi, dan pengoperasian kilang modern.
Dukungan Investasi dan Regulasi Jadi Kunci Keberhasilan
Pembangunan dan peremajaan kilang membutuhkan investasi besar, mencapai puluhan triliun rupiah per proyek. Pemerintah telah memberikan kemudahan perizinan dan insentif fiskal bagi mitra yang ingin berinvestasi di sektor hilir migas.
Selain itu, pembenahan regulasi, percepatan lahan, serta penguatan tata kelola menjadi hal penting agar proyek kilang dapat berjalan tepat waktu.
Menurut Ekonom Energi UGM, Fahmy Radhi, keberhasilan proyek kilang akan sangat tergantung pada konsistensi kebijakan pemerintah dan transparansi dalam pelaksanaan proyek.
“Kalau proyek ini tepat sasaran, maka kita bisa hemat devisa dari impor dan punya posisi tawar lebih kuat di pasar energi global,” tegasnya.
Tantangan: Bukan Sekadar Teknis, Tapi Juga Politik dan Ekonomi
Meskipun peremajaan kilang memiliki banyak manfaat, tantangan tetap ada. Beberapa hambatan yang kerap dihadapi antara lain:
- Biaya investasi tinggi dan jangka waktu pembangunan yang lama (5–10 tahun).
- Ketergantungan pada teknologi luar negeri.
- Isu sosial dan lingkungan hidup terkait pembangunan di lokasi baru.
- Ketidakpastian geopolitik dan tren global menuju energi terbarukan yang dapat memengaruhi prospek kilang dalam jangka panjang.
Pemerintah menegaskan bahwa proyek kilang tetap relevan, meskipun dunia mengarah ke transisi energi. Penguatan sektor minyak dan gas tetap diperlukan sebagai jembatan menuju energi terbarukan, terutama untuk kebutuhan transportasi dan industri berat.
Penutup: Ketahanan Energi Dimulai dari Hilir yang Kuat
Kilang minyak adalah jantung dari sektor hilir energi nasional. Tanpa infrastruktur kilang yang modern dan andal, Indonesia akan terus bergantung pada impor BBM dan rentan terhadap tekanan ekonomi global.
Oleh karena itu, peremajaan kilang bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan bagian dari strategi nasional untuk memastikan bahwa energi tersedia, terjangkau, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

