Bandung, Mata4.com – Dari seorang insinyur yang sempat kesulitan mencari pekerjaan, Otto Toto Sugiri kini menjelma menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Ia dikenal luas sebagai pelopor teknologi informasi sekaligus “Bill Gates-nya Indonesia” berkat perannya membangun infrastruktur digital yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Melalui perusahaan yang ia dirikan, PT DCI Indonesia Tbk (DCII), Otto menghadirkan pusat data berskala internasional yang menjadi tulang punggung ribuan layanan penting, mulai dari perbankan, e-commerce, hingga telekomunikasi.
Kini, menurut Forbes, Otto Toto Sugiri menempati peringkat ke-7 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai Rp202,1 triliun.
Awal Karier: Dari Jerman ke Indonesia
Otto menyelesaikan pendidikan di RWTH Aachen University, Jerman, pada 1980 dengan gelar Sarjana Teknik Elektro dan Magister Teknik Komputer. Meski berpeluang besar berkarier di luar negeri, ia memilih pulang ke Indonesia demi merawat ibunya.
Pada awal 1980-an, pekerjaan untuk programmer masih sangat terbatas. Otto bahkan mengaku, “Tahun 1981–1982 sangat sulit. Cari kerja programmer hampir tidak ada.” Namun, masa sulit itu justru menjadi titik awal ia menemukan panggilan hidupnya: memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah nyata masyarakat.
Proyek awalnya termasuk membuat perangkat lunak bagi nelayan untuk membeli peralatan secara kredit. Ia juga sempat bergabung di Bank Bali, membangun sistem IT internal untuk akuntansi dan data nasabah.
Sigma, Indonet, hingga BaliCamp
Pada 1989, Otto mendirikan Sigma Cipta Caraka, perusahaan IT lokal yang fokus menyediakan solusi digital untuk sektor perbankan. Momentum itu tepat, sebab jumlah bank di Indonesia melonjak drastis. Sigma tumbuh cepat, meraup keuntungan hingga US$1,2 juta dalam setahun.

Tidak berhenti di situ, Otto mendirikan Indonet pada 1994 sebagai salah satu penyedia layanan internet pertama di Indonesia. Ia juga mendirikan BaliCamp, pusat pengembangan software sekaligus pelatihan talenta IT. Meski BaliCamp berhenti beroperasi pasca Bom Bali 2002, kontribusinya melahirkan ekosistem teknologi lokal tetap dikenang.
Pada 2008, Otto menjual sebagian besar saham Sigma ke PT Telkom Indonesia senilai US$35 juta, dan dua tahun kemudian melepas kepemilikannya.
Mendirikan DCI Indonesia
Belum lama berselang, Otto kembali berinovasi. Pada 2011, ia mendirikan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang fokus pada pusat data berstandar global. DCI menjadi perusahaan pertama di Asia Tenggara yang memperoleh sertifikasi Tier IV pada 2014, standar tertinggi untuk keandalan data center.
Baca Juga:
mensos gus ipul tegas soal pkh
Sertifikasi ini berarti DCI mampu menjaga stabilitas layanan hingga tingkat 99,995% uptime, atau downtime hanya sekitar 26 menit per tahun. Bagi industri perbankan, fintech, dan e-commerce, hal ini menjadi faktor krusial karena setiap jam gangguan bisa menyebabkan kerugian besar.
Kini, DCI melayani lebih dari 40 perusahaan telekomunikasi dan 120 institusi keuangan di Indonesia.
Kekayaan dan Pengakuan Global
Kesuksesan DCI mencapai puncaknya pada 2021, saat resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai kapitalisasi dan kinerja perusahaan terus meningkat, mendorong kekayaan Otto melesat ke jajaran elite dunia.
Per 7 Oktober 2025, kekayaannya tercatat US$12,2 miliar atau setara Rp202,1 triliun. Forbes menempatkannya di posisi ke-7 orang terkaya Indonesia dan peringkat ke-235 dunia.
Kisah Otto Toto Sugiri menjadi bukti nyata bahwa ketekunan, inovasi, dan keberanian mengambil risiko mampu mengubah bukan hanya kehidupan pribadi, tetapi juga wajah ekonomi digital Indonesia.
