Kendari, Mata4.com — Pemerintah Kota Kendari terus menunjukkan komitmennya dalam pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal melalui pembangunan Museum Kota Kendari. Menariknya, upaya ini tidak hanya melibatkan sumber daya dan inisiatif lokal, tetapi juga didukung melalui kolaborasi dengan berbagai mitra internasional dari sektor kebudayaan, pendidikan, dan pengelolaan warisan sejarah.
Proyek pembangunan museum ini menjadi salah satu agenda strategis dalam pengembangan kawasan kota berbasis budaya. Pemerintah Kota Kendari menyebut museum tersebut akan difungsikan sebagai pusat dokumentasi, edukasi, serta promosi sejarah dan warisan budaya Kendari dan sekitarnya.
“Pembangunan museum ini bukan hanya untuk menampilkan artefak, tapi untuk mendorong dialog budaya, pembelajaran lintas generasi, dan juga memperkuat diplomasi antarbangsa,” kata Wali Kota Kendari, dalam keterangan pers yang diberikan kepada media, Rabu (8/10).
Sejarah dan Identitas dalam Satu Atap
Museum Kota Kendari dirancang untuk merekam perjalanan panjang kota yang merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, wilayah yang dikenal memiliki keberagaman etnis dan budaya yang kaya, mulai dari suku Tolaki, Muna, Buton, Moronene, hingga Bajo. Dalam museum ini, pengunjung akan dapat mengenal sejarah peradaban masyarakat lokal, jalur perdagangan maritim di masa lalu, peran Kendari dalam kemerdekaan Indonesia, hingga transformasi kota di era modern.
Pemerintah juga menggandeng sejarawan dan antropolog lokal untuk memastikan narasi sejarah yang disajikan tidak hanya faktual, tetapi juga inklusif, menggambarkan identitas masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Kami sedang membentuk tim kuratorial lintas disiplin. Ini penting agar museum tidak menjadi ruang yang kaku, tapi bisa berkembang secara dinamis dengan mengakomodasi beragam perspektif,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari, saat dihubungi secara terpisah.
Kolaborasi Internasional: Bentuk Dukungan Global terhadap Budaya Lokal
Salah satu aspek menonjol dari proyek ini adalah dukungan dari berbagai lembaga internasional. Sejumlah negara, terutama dari Asia Tenggara dan Eropa, telah menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan, baik dalam bentuk pelatihan tenaga ahli, bantuan digitalisasi koleksi, hingga potensi pertukaran artefak dan penyelenggaraan pameran lintas negara.
Pihak Pemerintah Kota Kendari menyebut telah menjalin komunikasi awal dengan beberapa lembaga kebudayaan dan organisasi internasional yang memiliki fokus pada pelestarian warisan budaya.
“Kami melihat adanya minat dari mitra luar negeri yang tertarik berkolaborasi. Ini menunjukkan bahwa warisan budaya lokal kita juga memiliki nilai universal yang dihargai secara global,” tambah Wali Kota Kendari.
Museum Modern Berbasis Teknologi
Sebagai bagian dari konsep modernisasi, Museum Kota Kendari tidak hanya akan menampilkan koleksi secara fisik, tetapi juga akan mengadopsi teknologi digital seperti augmented reality (AR), virtual tour, dan pendekatan interaktif lainnya untuk memberikan pengalaman edukatif yang menarik bagi pengunjung, khususnya generasi muda.
Fitur-fitur digital ini diharapkan dapat menjadikan museum sebagai ruang belajar yang aktif, bukan sekadar tempat menyimpan benda sejarah. Selain itu, museum juga akan dirancang dengan prinsip aksesibilitas untuk semua kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Mendukung Pariwisata dan Pendidikan Daerah
Pembangunan museum ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan sektor pariwisata edukatif di Kendari. Sebagai kota yang berada di pesisir dan memiliki potensi budaya yang besar, Kendari dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan destinasi wisata berbasis warisan budaya, selain wisata alam.
Pemerintah menargetkan museum ini tidak hanya dikunjungi oleh warga lokal, tetapi juga menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama dari kawasan ASEAN yang memiliki koneksi sejarah dan budaya dengan wilayah Sulawesi.
Tantangan dan Upaya Penguatan
Meski menuai dukungan, pembangunan Museum Kota Kendari tidak lepas dari sejumlah tantangan. Keterbatasan anggaran, proses pengumpulan artefak yang valid, hingga kebutuhan tenaga ahli kuratorial menjadi beberapa kendala yang saat ini dihadapi.
Namun demikian, Pemkot Kendari menyatakan telah menyiapkan skema pembiayaan multiyear serta membuka peluang partisipasi publik, baik melalui donasi koleksi, penyediaan dokumentasi sejarah, maupun dukungan komunitas budaya.
“Kita ingin museum ini menjadi milik bersama. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat sangat penting agar konten dan semangat museum ini benar-benar merefleksikan jati diri daerah,” ujar La Ode Malik, budayawan Kendari.
Penutup: Museum Sebagai Jembatan Masa Lalu dan Masa Depan
Museum Kota Kendari diharapkan bukan hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda masa lalu, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan sejarah dengan masa kini dan masa depan. Melalui pendekatan kolaboratif—baik lokal maupun internasional—museum ini dapat menjadi simbol kemajuan kota yang tidak melupakan akar budayanya.

