Jakarta, Mata4.com — Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya nutrisi dan pendidikan bagi tumbuh kembang anak, ancaman dari faktor lingkungan seperti polusi udara dan asap rokok masih kerap diabaikan. Padahal, para ahli kesehatan anak menegaskan bahwa dua hal ini dapat memberi dampak serius terhadap perkembangan fisik, mental, dan kognitif anak, terutama dalam masa-masa awal pertumbuhan mereka.
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa lebih dari 90 persen anak-anak di dunia menghirup udara yang melebihi ambang batas aman kualitas udara. Di Indonesia, masalah ini semakin kompleks karena diperparah oleh tingginya angka perokok aktif, termasuk di lingkungan rumah tangga.
Dr. Sinta Mariani, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan paru, menjelaskan bahwa sistem pernapasan anak yang masih dalam tahap pertumbuhan membuat mereka jauh lebih rentan terhadap zat-zat berbahaya di udara. “Anak-anak menghirup lebih banyak udara dibandingkan orang dewasa dalam satuan berat tubuh. Artinya, jika udara yang dihirup tercemar, dampaknya terhadap tubuh mereka akan jauh lebih besar,” kata dr. Sinta dalam seminar kesehatan anak yang diselenggarakan di Jakarta, pekan ini.
Dampak Tidak Langsung yang Sering Terlewat
Tidak sedikit orang tua menganggap polusi dan asap rokok hanya berdampak pada saluran pernapasan. Padahal, menurut dr. Sinta, paparan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan yang jauh lebih luas, seperti:
- Pertumbuhan paru-paru yang terhambat
- Meningkatnya risiko asma dan bronkitis kronis
- Penurunan daya tahan tubuh
- Keterlambatan bicara dan kognitif
- Gangguan tidur dan konsentrasi
- Potensi meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular di masa depan
“Anak-anak yang terpapar polusi dan asap rokok secara rutin, apalagi sejak bayi, bisa mengalami keterlambatan tumbuh kembang, termasuk dalam aspek berat badan, tinggi badan, hingga perkembangan otak,” jelas dr. Sinta.
Ia menambahkan bahwa efek polusi tidak selalu muncul dalam gejala yang jelas. Dalam banyak kasus, gejala bisa samar seperti mudah lelah, batuk ringan terus-menerus, atau anak menjadi kurang aktif.
Asap Rokok di Rumah: Ancaman Nyata dan Tak Terlihat
Salah satu sumber polusi yang sering kali luput dari perhatian adalah asap rokok di dalam rumah. Paparan asap rokok terhadap anak tidak hanya terjadi ketika seseorang merokok di dekat mereka, tetapi juga melalui asap sisa yang menempel pada pakaian, rambut, sofa, karpet, atau bahkan kulit. Fenomena ini disebut thirdhand smoke.
“Banyak orang tua merasa sudah bertanggung jawab karena merokok di luar ruangan, padahal residu rokok tetap terbawa masuk ke dalam rumah dan terhirup oleh anak,” ungkap dr. Sinta. “Anak-anak yang terpapar asap rokok pasif dan thirdhand smoke memiliki risiko dua kali lipat mengalami infeksi saluran pernapasan dibandingkan anak yang tinggal di lingkungan bebas rokok.”
Data yang Mengkhawatirkan
Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023, sekitar 28% anak Indonesia hidup dalam rumah tangga dengan anggota keluarga perokok. Angka ini belum termasuk anak-anak yang terpapar polusi udara dari luar rumah, seperti asap kendaraan, industri, dan pembakaran sampah.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, kualitas udara sering kali berada pada kategori tidak sehat, dengan kadar partikel PM2.5 yang melebihi batas aman. Jika tidak ada tindakan perlindungan, maka paparan ini dapat berlangsung secara terus-menerus dan berdampak kumulatif terhadap tumbuh kembang anak.
Langkah Pencegahan: Kecil Tapi Bermakna
Dr. Sinta menekankan bahwa perlindungan anak dari paparan polusi dan asap rokok sebenarnya dapat dimulai dari lingkungan rumah. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Tidak merokok di rumah, balkon, atau kendaraan.
- Menghindari penggunaan bahan bakar padat di dalam rumah.
- Memastikan sirkulasi udara baik dengan membuka jendela atau menggunakan ventilasi silang.
- Memanfaatkan air purifier jika tinggal di daerah dengan polusi tinggi.
- Tidak membawa anak keluar rumah pada jam-jam dengan polusi tinggi (misalnya pagi hari di dekat jalan raya).
- Memberikan nutrisi seimbang yang kaya antioksidan untuk membantu tubuh anak melawan radikal bebas.
“Langkah-langkah ini terlihat sederhana, tapi sangat efektif. Yang paling penting adalah kesadaran bahwa anak-anak tidak bisa memilih lingkungan mereka, sehingga kitalah yang harus menjaga,” tegas dr. Sinta.
Kebijakan Publik Harus Mendukung
Selain upaya dari individu dan keluarga, para ahli kesehatan mendorong pemerintah untuk lebih aktif melindungi kelompok rentan seperti anak-anak dari dampak polusi dan asap rokok. Kebijakan seperti kawasan tanpa rokok, pembatasan emisi kendaraan, dan peningkatan ruang terbuka hijau dinilai krusial untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak secara optimal.
Beberapa daerah di Indonesia telah menerapkan peraturan daerah (perda) kawasan tanpa rokok. Namun implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal pengawasan dan kesadaran masyarakat.
“Tanpa dukungan kebijakan yang kuat dan edukasi berkelanjutan, akan sulit melindungi anak-anak dari bahaya lingkungan yang mereka hadapi setiap hari,” ujar dr. Sinta.
Kesimpulan
Tumbuh kembang anak tidak hanya ditentukan oleh makanan bergizi dan pendidikan yang baik. Lingkungan tempat anak tinggal, belajar, dan bermain juga memainkan peran besar dalam membentuk kesehatan mereka di masa depan.
Paparan polusi udara dan asap rokok adalah dua ancaman nyata yang kerap tak disadari. Padahal, dampaknya bisa memengaruhi anak seumur hidup.
Oleh karena itu, perlindungan terhadap anak harus dimulai dari kesadaran orang tua, didukung oleh komunitas, serta diperkuat oleh kebijakan publik yang berpihak pada hak anak atas lingkungan sehat dan aman.

