Jakarta, Mata4.com — Dalam upaya mendukung percepatan target Program Tiga Juta Rumah yang menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah di sektor perumahan rakyat, Lippo Group melalui inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) mengumumkan komitmennya untuk melakukan renovasi terhadap 1.500 unit rumah tidak layak huni yang tersebar di sejumlah wilayah pedesaan di Indonesia.
Langkah ini dianggap sebagai bentuk nyata dukungan sektor swasta terhadap pembangunan nasional yang berkeadilan, khususnya dalam pemenuhan hak dasar masyarakat atas hunian yang layak, aman, dan sehat.
Komitmen Swasta untuk Mendukung Kebijakan Pemerintah
CEO Lippo Group, James Riady, menjelaskan bahwa program renovasi rumah ini bukan sekadar bagian dari CSR, melainkan juga panggilan moral perusahaan untuk berkontribusi langsung dalam menurunkan angka kemiskinan ekstrem dan kesenjangan kualitas hidup di perdesaan.
“Kami menyadari bahwa pembangunan tidak bisa hanya bergantung pada negara. Dunia usaha memiliki tanggung jawab sosial untuk turut serta. Renovasi 1.500 rumah ini adalah langkah awal dari kontribusi jangka panjang kami,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta.
Program ini secara khusus menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang tinggal di rumah tidak layak huni di berbagai wilayah, termasuk di Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Pemerintah Sambut Kolaborasi dengan Sektor Swasta
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyambut baik langkah Lippo Group, menyebutnya sebagai contoh kolaborasi yang ideal antara pemerintah dan sektor swasta dalam mempercepat penyediaan hunian yang layak.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, menyampaikan bahwa hingga pertengahan 2025, realisasi Program Tiga Juta Rumah telah mencapai sekitar 1,9 juta unit, namun diperlukan percepatan melalui sinergi lintas sektor agar target dapat tercapai sepenuhnya sebelum 2027.
“Kami menyambut baik kontribusi Lippo Group. Kolaborasi semacam ini sangat kami harapkan, terutama dalam menjangkau wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh program-program subsidi konvensional,” ujarnya melalui siaran pers resmi.
Teknis Renovasi: Dari Atap Hingga Sanitasi
Renovasi yang dilakukan oleh Lippo Group tidak terbatas pada perbaikan kosmetik rumah, melainkan mencakup perbaikan struktur utama bangunan, atap bocor, lantai rusak, dinding yang rapuh, serta penyediaan akses sanitasi dasar dan air bersih. Dalam pelaksanaannya, Lippo menggandeng kontraktor lokal dan melibatkan warga setempat guna memberdayakan ekonomi lokal.
Koordinator CSR Lippo Group, Agus Riyanto, menyatakan bahwa pelaksanaan renovasi dilakukan melalui proses pendataan dan verifikasi bersama pemerintah daerah dan dinas perumahan setempat, guna memastikan bantuan tepat sasaran.
“Kami bekerja sama dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat untuk menentukan rumah mana saja yang benar-benar membutuhkan bantuan renovasi. Kami ingin program ini transparan dan berkelanjutan,” jelas Agus.
Pandangan Akademisi: Contoh Sinergi Pembangunan Inklusif
Pakar tata kota dan kebijakan publik dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Laila Nurfatimah, menilai langkah Lippo Group sebagai contoh baik keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya di sektor perumahan rakyat.
“Bila dunia usaha bisa mengambil peran dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti ini, tentu beban pemerintah akan berkurang, dan manfaat langsung ke masyarakat akan lebih cepat dirasakan,” kata Dr. Laila saat diwawancarai secara terpisah.
Ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan dan akuntabilitas dalam program semacam ini, agar tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial atau proyek jangka pendek.
Lebih dari Sekadar Rumah: Membangun Harapan Baru
Sejumlah warga di desa penerima manfaat mengaku sangat terbantu oleh adanya program ini. Salah satu warga di Kabupaten Lombok Tengah, Siti Rohmah, mengatakan rumahnya yang sebelumnya bocor dan hampir roboh kini sudah layak dihuni kembali setelah direnovasi.
“Dulu kalau hujan kami harus pakai ember di kamar. Sekarang atapnya sudah bagus, ada kamar mandi juga. Terima kasih banyak,” ucapnya.
Program ini juga disebut membuka lapangan kerja sementara bagi masyarakat setempat karena proses renovasi memprioritaskan penggunaan tenaga kerja lokal, termasuk tukang bangunan, pengrajin, dan penyedia material di desa.
Penutup
Langkah Lippo Group merenovasi 1.500 rumah di desa-desa Indonesia menjadi wujud nyata kontribusi sektor swasta dalam membantu mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Tidak hanya memperbaiki tempat tinggal, program ini juga berkontribusi pada pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat secara luas.
Pemerintah berharap program ini menjadi pemicu bagi perusahaan-perusahaan lain untuk turut serta dalam agenda pembangunan yang bersifat inklusif, berkelanjutan, dan pro-rakyat.

