Bekasi, Mata4com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak langsung pada kenaikan harga bahan pokok impor, salah satunya kedelai. Kondisi ini kini dirasakan para pengrajin tahu dan tempe di Kota Bekasi yang bergantung pada pasokan kedelai impor sebagai bahan baku utama produksi.
Berdasarkan hasil monitoring Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi melalui bidang perdagangan, harga kedelai kuning mengalami kenaikan signifikan. Sebelumnya, harga kedelai berada di kisaran Rp9.800 per kilogram, namun kini melonjak menjadi Rp10.800 per kilogram. Kenaikan ini dinilai berada di luar perhitungan biaya produksi para pelaku usaha.
Kepala Disdagperin Kota Bekasi, Ika Indah Yarti menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap harga dan ketersediaan kedelai di pasar. Selain itu, laporan perkembangan harga juga rutin disampaikan kepada Kementerian Perdagangan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).
“Kami terus memonitor harga kedelai di lapangan dan melaporkannya secara berkala melalui SP2KP. Harga ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar dolar,” ujar Ika, Senin (25/5).
Ketergantungan tinggi terhadap kedelai impor membuat harga komoditas ini sangat sensitif terhadap perubahan kurs. Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat dan berdampak pada harga jual di tingkat pedagang maupun produsen.
Di sisi lain, para pengrajin tahu dan tempe di wilayah Margahayu Bekasi Timur mengaku berada dalam posisi sulit. Mereka menghadapi dilema antara menaikkan harga jual atau mempertahankan daya beli konsumen. Salah satu pengrajin mengungkapkan bahwa menaikkan harga bukanlah pilihan mudah.
“Kalau harga dinaikkan, kami khawatir pembeli akan berkurang. Tapi kalau tidak dinaikkan, biaya produksi terus naik,” keluhnya.
Sebagai solusi sementara, banyak produsen memilih untuk mengurangi ukuran produk tanpa mengubah harga jual. Fenomena ini mulai dirasakan oleh masyarakat, di mana ukuran tempe yang beredar di pasaran terlihat lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
Langkah ini diambil untuk menekan biaya produksi agar tetap seimbang dengan harga jual, sekaligus menjaga agar produk tetap terjangkau bagi konsumen. Namun, kondisi ini tentu tidak bisa berlangsung lama jika harga kedelai terus mengalami kenaikan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat mencari solusi jangka panjang, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap impor kedelai serta memperkuat produksi kedelai lokal. Dengan demikian, stabilitas harga dapat lebih terjaga dan pelaku usaha kecil seperti pengrajin tahu dan tempe tidak terus-menerus tertekan oleh fluktuasi global.
Kenaikan harga kedelai ini menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi makro, khususnya nilai tukar rupiah, memiliki dampak nyata hingga ke sektor usaha kecil dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
