Bekasi, Mata4com – Keberadaan kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di lingkungan warga kembali menjadi perhatian dalam ajang lomba kinerja. Salah satunya terlihat di kawasan Jalan Naragong Megah 8, di mana kebun TOGA Pipit Nari 21, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu itu dinilai memiliki potensi besar untuk meraih prestasi.
Tanaman Obat Keluarga atau TOGA sendiri merupakan tanaman yang dibudidayakan di pekarangan dan dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk kebutuhan kesehatan sehari-hari masyarakat.
Dalam penilaian yang dilakukan, Lurah Pengasinan, Rama Angkasa menyampaikan bahwa seluruh jenis tanaman obat yang ada di lokasi menjadi bagian penting yang dinilai. Menurutnya, keberadaan tanaman tersebut tidak hanya sebagai penghijauan, tetapi juga memiliki manfaat langsung bagi warga sekitar.
“Semua tanaman obat yang bisa digunakan oleh masyarakat menjadi poin penting. Ini benar-benar bisa dimanfaatkan langsung oleh warga,” ujarnya Rama kepada media ini, Jumat (12/6).
Di kebun TOGA Pipit Nari 21 sendiri, tercatat terdapat sekitar 50 jenis tanaman obat yang tumbuh subur. Keanekaragaman ini menjadi nilai tambah dalam penilaian lomba, sekaligus menunjukkan keseriusan pengelola dalam mengembangkan kebun tersebut.

Selain jumlah tanaman, kondisi kebun yang asri dan tertata rapi juga menjadi faktor utama yang membuat pihak kelurahan optimistis meraih kemenangan.
“Yang paling penting adalah tanaman TOGA yang subur dan kebunnya terlihat asri. Itu yang menjadi kekuatan utama kami dalam lomba kinerja ini,” tambahnya.
Pengelolaan kebun TOGA ini sepenuhnya dilakukan oleh ibu-ibu kader Posyandu Pipit, yang secara rutin merawat dan menjaga tanaman agar tetap tumbuh dengan baik. Peran aktif kader ini dinilai sangat vital dalam keberlangsungan kebun TOGA di lingkungan tersebut.
Dalam praktiknya, kegiatan di kebun TOGA berjalan dengan baik dan terorganisir. Perawatan dilakukan secara rutin, mulai dari penyiraman, pemupukan, hingga pemanfaatan hasil tanaman untuk kebutuhan kesehatan warga.
Meski memiliki peluang besar untuk menang, pihak pengelola tidak memasang target berlebihan. Harapan utama mereka cukup sederhana, yakni menjaga keberlangsungan kebun yang sudah ada.
“Tidak banyak harapan, yang penting kami bisa mempertahankan kebun TOGA Pipit Nari 21 ini agar tetap ada dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya.
Keberadaan kebun TOGA ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang lomba semata, tetapi juga menjadi contoh nyata pemberdayaan masyarakat dalam memanfaatkan potensi lingkungan untuk kesehatan dan kesejahteraan bersama.
Adapun terciptanya Kebon itu juga pada Kegiatan kerja bakti (K3) dengan melibatkan linmas, kader TP PKK Kelurahan Pengasinan dan kader RW 021 yang telah berjibaku merapikan halaman rumah warga yang kosong sehingga biva dimanfaatkan sebagai kebun tanaman toga
