Brasilia, Mata4.com — Operasi besar-besaran yang dilakukan pasukan gabungan polisi dan tentara Brasil di kawasan favela Penha dan Complexo do Alemão, Rio de Janeiro, berujung tragis. Sedikitnya 132 orang tewas dalam penggerebekan terhadap jaringan narkoba pada Selasa (28/10/2025), yang kemudian memicu gelombang protes dan kecaman atas dugaan penggunaan kekuatan berlebihan.
Melansir Associated Press (AP), sekitar 2.500 personel diterjunkan dalam operasi tersebut. Aksi ini disebut sebagai salah satu operasi terbesar dalam sejarah Rio, dengan tujuan menumpas geng narkoba yang diduga mendalangi berbagai aksi kriminal di wilayah tersebut. Namun, jumlah korban yang tinggi membuat warga setempat menyebut operasi itu sebagai “pembantaian”.

Sejumlah video dan foto yang beredar di media sosial menunjukkan jenazah bergelimpangan di jalanan, sementara keluarga korban menangis di dekat lokasi. Warga juga menuduh aparat menembak tanpa pandang bulu dan melakukan pelanggaran HAM selama operasi berlangsung.
Pemerintah negara bagian Rio, melalui Gubernur Claudio Castro, membela operasi itu. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya memberantas kejahatan terorganisir yang telah lama menguasai wilayah miskin di kota tersebut. Namun, protes publik dan seruan agar gubernur mundur terus bermunculan, terutama dari kelompok hak asasi manusia dan tokoh oposisi.
Pihak Kementerian Kehakiman Brasil menyatakan akan melakukan penyelidikan independen untuk memastikan apakah terjadi pelanggaran prosedur dan penyalahgunaan kekuasaan dalam operasi itu. Sementara itu, kantor Komisioner HAM PBB (OHCHR) juga menyampaikan keprihatinan dan meminta Brasil menjamin transparansi serta akuntabilitas aparat penegak hukum.
