Jakarta, Mata4.com — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melaksanakan misi diplomatik penting dalam kunjungan singkat ke Beijing, Tiongkok, pada awal September 2025. Meskipun hanya berada di ibu kota Tiongkok selama kurang dari delapan jam, Presiden Prabowo menjalani agenda padat yang mencakup dua pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin, di sela-sela peringatan 80 tahun kemenangan Tiongkok atas agresi Jepang.
Kunjungan ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di panggung diplomasi global, serta menunjukkan kemampuan negara ini menjaga keseimbangan dalam hubungan dengan kekuatan dunia, di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks.
Kehadiran Indonesia dalam Parade Militer Bersejarah
Presiden Prabowo hadir di Beijing atas undangan resmi dari Presiden Xi Jinping untuk menghadiri parade militer besar yang digelar dalam rangka memperingati kemenangan Tiongkok dalam Perang Dunia II. Parade tersebut diikuti oleh puluhan ribu pasukan dan menampilkan kekuatan militer terbaru Tiongkok, sebagai simbol kekuatan nasional dan pengaruh global negara tersebut.
Dalam parade itu, Presiden Prabowo duduk berdampingan dengan Presiden Xi dan Presiden Putin di podium utama — suatu penghormatan diplomatik yang menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis oleh kedua negara tersebut.
Kehadiran Indonesia dalam forum tersebut tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga mencerminkan peran aktif Indonesia dalam menjalin kerja sama regional dan global yang inklusif, tanpa harus memihak blok tertentu.
Pertemuan Bilateral dengan Presiden Xi Jinping
Usai mengikuti parade militer, Presiden Prabowo menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Xi Jinping di Great Hall of the People, gedung pusat kenegaraan Tiongkok yang menjadi tempat penyelenggaraan agenda diplomasi resmi tingkat tinggi.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membahas sejumlah isu penting yang menyangkut:
- Penguatan hubungan perdagangan bilateral
- Investasi di bidang infrastruktur dan teknologi hijau
- Kerja sama pertahanan dan pendidikan
- Dukungan terhadap stabilitas politik dan ekonomi di kawasan
Presiden Xi Jinping menyatakan komitmennya untuk terus mendukung Indonesia dalam masa transisi pemerintahan dan pemulihan ekonomi. Ia juga menegaskan bahwa Tiongkok siap menjadi mitra utama Indonesia dalam pembangunan jangka panjang.
“Indonesia adalah mitra strategis penting Tiongkok di Asia Tenggara. Kami mendukung penuh upaya Presiden Prabowo dalam menjaga stabilitas dan pembangunan nasional,” ujar Xi seperti dikutip dari pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok.
Dialog Strategis dengan Presiden Rusia Vladimir Putin
Selain dengan Xi, Presiden Prabowo juga menyempatkan diri bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan ini menjadi kelanjutan dari pembicaraan bilateral sebelumnya yang membahas penguatan hubungan kerja sama ekonomi dan teknologi.
Fokus utama pertemuan antara Prabowo dan Putin meliputi:
- Kerja sama energi, termasuk investasi di sektor gas dan pembangkit listrik
- Pengembangan industri pertahanan strategis
- Pertukaran teknologi dan sumber daya manusia
- Isu keamanan kawasan dan ketahanan global
Presiden Putin menegaskan bahwa Rusia menghormati sikap Indonesia yang tetap menjaga independensi dalam politik luar negeri, dan siap bekerja sama dalam kerangka kemitraan yang setara.
Pertemuan ini memperkuat hubungan bilateral yang telah terjalin sejak lama, serta membuka ruang bagi kolaborasi baru dalam menghadapi tantangan global bersama.
Strategi Bebas Aktif dalam Diplomasi Global
Kunjungan diplomatik Presiden Prabowo ini dipandang sebagai implementasi nyata dari politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia sejak era kemerdekaan. Di tengah polarisasi dunia yang kian tajam—terutama antara Barat dan blok Eurasia—Indonesia memilih jalur strategis untuk tetap menjalin hubungan dengan semua pihak berdasarkan kepentingan nasional dan prinsip saling menghormati.
Menurut sejumlah analis, kehadiran Prabowo dalam pertemuan dengan Xi dan Putin, tanpa meninggalkan kerja sama dengan negara-negara Barat, menunjukkan upaya Indonesia untuk menjadi kekuatan penyeimbang (balancer) dalam tatanan global yang dinamis.
“Diplomasi Prabowo di Beijing menunjukkan arah bahwa Indonesia tetap ingin menjadi jembatan antara kekuatan global, dan tidak terjebak dalam konflik kepentingan global,” ujar Dr. Nurhadi Satria, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia.
Manfaat Jangka Pendek dan Panjang bagi Indonesia
Meskipun kunjungan tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, dampaknya diprediksi akan terasa dalam jangka menengah hingga panjang. Beberapa manfaat potensial antara lain:
- Masuknya investasi strategis dari Tiongkok dan Rusia di sektor infrastruktur dan energi.
- Penguatan hubungan perdagangan bilateral yang dapat mengurangi ketergantungan pada mitra tertentu.
- Akses terhadap transfer teknologi dan pelatihan sumber daya manusia.
- Diplomasi yang membuka ruang lebih luas bagi peran Indonesia dalam forum-forum internasional.
Selain itu, dukungan moral dari dua kekuatan global ini terhadap upaya Indonesia menjaga stabilitas dalam negeri pasca pemilu juga memberikan sinyal positif terhadap kepercayaan internasional.
Kesimpulan
Diplomasi 8 jam Presiden Prabowo Subianto di Beijing bukan sekadar kunjungan simbolik. Di tengah situasi global yang terus berubah dan menuntut ketangkasan diplomatik, langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia siap memainkan peran lebih besar di kancah internasional.
Melalui pertemuan dengan Presiden Xi Jinping dan Presiden Vladimir Putin, Indonesia mengukuhkan posisinya sebagai negara dengan kebijakan luar negeri yang berdaulat, dinamis, dan strategis, demi kemaslahatan nasional dan stabilitas kawasan.

