JAKARTA: Bulan lalu, Fitriyenni beserta keluarganya harus meninggalkan rumah beratap seng berkarat di gang sempit Jakarta Barat dan pindah ke rumah mertua yang hanya terpaut beberapa meter.
“Atapnya bocor, jadi kami memutuskan pindah ke rumah mertua yang atapnya lebih baik,” kata perempuan berusia 41 tahun ini.
Ditinggali empat orang anggota keluarganya, rumah kecil dua lantai yang sebagian dindingnya dari seng itu sudah tidak layak ditinggali. Kepada CNA, Fitriyenni mengatakan keterbatasan biaya membuat dia belum bisa memperbaiki atap rumah.
Karena itulah, rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menggantikan seluruh rumah beratapkan seng dengan genteng tanah liat menjadi berita gembira bagi Fitriyenni.
“Kalau gratis, alhamdulillah. Rasanya seperti mendapat (hadiah) renovasi rumah,” kata dia.
Pada awal bulan ini, Prabowo mengatakan program yang dinamakan “gentengisasi” ini ditargetkan rampung dalam waktu tiga tahun. Tujuannya, kata Prabowo, untuk membuat rumah lebih sejuk dan indah.
“Saya lihat, semua kota, kecamatan, hampir semua desa kita sekarang, maaf ya, terlalu banyak genteng dari seng,” kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah (Rakornas) di Bogor, Jawa Barat, pada 2 Februari 2026.
“Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat. Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” kata dia.
Prabowo mengatakan, menggantikan atap seng dengan genteng tanah liat akan membuat lingkungan lebih bersih, sehingga akan menarik wisatawan.
“Turis dari luar, untuk apa dia datang melihat seng berkarat? Karat itu lambang degenerasi. Saya berharap dalam 2-3 tahun Indonesia tidak akan kelihatan karat,” kata Prabowo.
“Indonesia bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah, rakyat kita harus bahagia,” ujarnya, menegaskan kembali pesan tersebut pada 13 Februari dalam sebuah acara di Jakarta mengenai prospek ekonomi Indonesia tahun 2026.
Gentengisasi adalah bagian dari gerakan pemerintah yang diumumkan juga di acara yang sama pada 2 Februari lalu untuk mendorong kebersihan lingkungan. Gerakan tersebut dinamakan ASRI, singkatan dari aman, sehat, resik, indah.
Meski rincian pendanaan program belum diungkapkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan anggaran gentengisasi tidak akan melebihi Rp1 triliun karena hanya menyasar rumah beratap seng, bukan seluruh rumah di Indonesia.
“Ini masih perkiraan kasar, tetapi angkanya bisa dikendalikan,” ujar Purbaya kepada wartawan pada 3 Februari.
Dalam acara pada 2 Februari itu, Prabowo mengatakan koperasi Merah Putih akan bekerja sama dengan pabrik genteng.
Namun, para pakar mempertanyakan urgensi dari program penggantian atap ini, potensi biayanya, serta apakah benar-benar lebih ramah lingkungan.
“Ada berbagai pertimbangan lingkungan yang perlu diperhitungkan. Sebagian rumah sudah memiliki suhu yang nyaman, sementara yang lain terasa panas,” ujar Mahawan Karuniasa, pakar lingkungan dari Universitas Indonesia.
Pakar kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menyatakan kekhawatirannya terkait anggaran.
“Setelah ini menjadi kebijakan, saya kira biayanya akan lebih dari Rp1 triliun karena mencakup seluruh Indonesia yang sangat luas,” ujarnya.
Para analis menilai program penggantian atap ini berisiko mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan struktural yang lebih mendalam terkait tata kelola perumahan, penggunaan lahan, dan lingkungan di Indonesia.

LEBIH BERKELANJUTAN?
Menurut Prabowo, genteng memiliki empat keunggulan dibandingkan atap seng.
Genteng dinilai lebih indah secara estetika dan dapat merepresentasikan identitas arsitektur Indonesia, ujarnya.
Atap genteng disebut lebih sesuai dengan iklim tropis Indonesia, memberikan kenyamanan termal yang lebih baik bagi penghuni, serta meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Penggantian atap juga akan mendorong industri genteng dalam negeri, menciptakan lapangan kerja dan nilai ekonomi, kata Prabowo.
Dalam acara tersebut, presiden menampilkan di layar besar gambaran lanskap Indonesia setelah seluruh atap seng diganti.
Berdasarkan gambar yang ditunjukkan, genteng tersedia dalam warna biru langit, biru tua, hijau, abu-abu, dan terakota.
Atapnya dapat menggunakan campuran abu terbang (fly ash) dari limbah batu bara dengan tanah liat, sehingga meningkatkan kekuatan dan daya tahan genteng sekaligus mengurangi bobotnya, kata Menteri Koperasi Ferry Juliantono pada 7 Februari.
Bulan lalu, Prabowo juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap atap seng saat meninjau hunian sementara bagi korban banjir di Aceh.
Ia menilai rumah-rumah tersebut dibangun dengan seng yang membuat bagian dalam terasa panas.
“Saya tanya, bagaimana ini seng panas. Coba dipikirkan, kalau bisa kita kasih apa solusi,” ujar Prabowo dalam pertemuan dengan sejumlah menteri di Aceh Tamiang pada 1 Januari.
Dalam kacamata keberlanjutan, para ahli mengatakan bahwa yang lebih utama ialah dampak bahan sepanjang daur hidupnya.
Genteng tanah liat memang tahan lama dan dapat bertahan puluhan tahun, tetapi memerlukan penambangan tanah liat — termasuk dari lahan pertanian — serta proses pembakaran yang intensif energi, menghasilkan emisi karbon.
Produksi genteng untuk program ini akan mengubah rantai pasok, meningkatkan penambangan tanah liat, menambah emisi transportasi antarpulau, serta berpotensi memerlukan penguatan struktur rumah untuk menahan beban yang lebih berat dibandingkan atap seng.
Sejumlah studi siklus hidup telah dilakukan di berbagai negara terhadap beragam material atap.
Sebuah studi pada 2018 di Australia Barat mengenai dampak lingkungan dari atap lembaran logam, genteng beton, dan genteng tanah liat menemukan bahwa atap lembaran logam memiliki jejak karbon tertinggi, terutama dari proses perolehan bahan baku. Genteng tanah liat memiliki jejak karbon terendah—kurang dari separuh jejak atap logam—yang sebagian besar berasal dari proses manufaktur.
Namun, dengan daur ulang, jejak karbon atap logam dapat dikurangi hingga 73 persen, sementara penurunan pada genteng tanah liat tergolong kecil karena limbahnya dihancurkan untuk digunakan pada aplikasi lain, demikian temuan studi tersebut.
