MATA 4, KOTA BEKASI – Gerbong kepemimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Bekasi resmi berganti. Lewat Keputusan Wali Kota, lima wajah baru dipastikan memegang kemudi BAZNAS untuk periode 2026–2031.
Kelima figur tersebut—Dr. Mulyadi, S.Ag, M.A; Umri Yasa, SE, M.M; Drs. Sudarsono, M.Si; Ahmad Tasori, S.Kom; dan Moh. Nurcholiq, S.Pd.I—kini resmi menggeser estafet dari kepengurusan era H. Nurul Akmal. Namun, euforia pelantikan ini tak dibiarkan lewat begitu saja. Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kota Bekasi langsung merespons dengan apresiasi yang disisipi ‘tantangan’ tajam.
Bagi Pemuda ICMI, lima wajah baru ini bukan sekadar pergantian nama di papan struktur, melainkan momentum emas untuk merombak total cara kerja BAZNAS agar lebih relevan dengan zaman.
“Jangan Cuma Melanjutkan, Harus Ada Lompatan!”
Kepala Divisi Pendidikan, Pelatihan & Riset Pemuda ICMI Kota Bekasi, Hanan Mukaffa, menegaskan bahwa publik menaruh ekspektasi raksasa pada kepengurusan baru ini.
“Kami menyambut baik lahirnya kepengurusan BAZNAS yang sepenuhnya baru ini. Tapi ingat, ini peluang emas untuk melakukan lompatan—bukan sekadar melanjutkan, tapi bertransformasi. Digitalisasi layanan dan beasiswa perguruan tinggi itu harga mati, tidak boleh ditunda,” tembak Hanan.
Zakat Era Digital: Transparansi Adalah Kunci
Dengan populasi yang nyaris menyentuh tiga juta jiwa, potensi zakat di Kota Patriot ini sebenarnya sangat masif, namun angka yang terhimpun kerap dinilai belum mencapai titik maksimal. Menurut Hanan, solusinya cuma satu: Digitalisasi.
Pemuda ICMI menuntut BAZNAS untuk tidak lagi bekerja dengan cara konvensional. Mereka mendorong optimalisasi platform digital—mulai dari donasi online dengan integrasi payment gateway, aplikasi mobile untuk para muzakki (wajib zakat), hingga yang paling krusial: Dashboard Transparansi Publik.
“Masyarakat harus bisa pantau secara real-time. Berapa duit yang masuk? Siapa yang terima? Apa dampaknya? Kalau transparansi jalan, kepercayaan publik otomatis naik. Digitalisasi itu bukan lagi pilihan, tapi keniscayaan,” tegasnya.
Investasi Masa Depan: Jangan Biarkan Pemuda Bekasi Putus Kuliah
Selain urusan teknologi, Pemuda ICMI juga menyoroti ke mana dana umat itu akan bermuara. Mereka mendesak agar BAZNAS merancang skema beasiswa perguruan tinggi yang lebih agresif dan terukur.
Faktanya, masih banyak anak muda Bekasi yang otaknya encer tapi terpaksa gigit jari karena mentok di biaya kuliah.
“Zakat untuk pendidikan itu investasi paling rasional. Satu mahasiswa yang kita bantu hari ini, besok bisa jadi penggerak ekonomi yang bayar zakatnya berlipat ganda. Kami minta skema beasiswa ini jangan cuma jadi seremoni bagi-bagi dana, tapi harus ada pendampingan akademiknya,” tambah Hanan.
Sinergi Tanpa Basa-basi
Menutup pernyataannya, Pemuda ICMI menegaskan posisi mereka bukan sekadar penonton dari bangku tribun. Ketua Pemuda ICMI Kota Bekasi, H. Imamuddin, S.Pd.I, secara terbuka menyatakan kesiapan organisasinya untuk ‘turun gunung’ bersinergi dengan BAZNAS.
Imamuddin juga mengapresiasi legacy program BAZNAS sebelumnya seperti Bekasi Cerdas, Bekasi Sehat, hingga pemberdayaan UMKM yang sudah memberikan efek domino positif.
“Kami siap jadi mitra strategis. Pemuda Bekasi ingin melihat BAZNAS itu benar-benar bernapas di tengah masyarakat, bukan cuma sibuk pas bulan Ramadan saja. Pengurus baru punya modal wajah segar dan kepercayaan penuh—jangan sampai modal itu hangus sia-sia,” pungkasnya.

Kini, bola ada di tangan lima pimpinan baru BAZNAS Kota Bekasi. Warga menanti, akankah kepengurusan 2026-2031 ini berani mengambil langkah radikal, atau hanya akan berjalan di zona nyaman? Kita tunggu gebrakan perdananya!
