Jakarta, Mata4.com — Insiden penjarahan rumah pribadi Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, di tengah situasi demonstrasi yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini, menyisakan berbagai spekulasi dan narasi liar di ruang digital. Salah satu klaim yang paling mencuri perhatian publik adalah mengenai hilangnya sebuah flashdisk putih yang disebut-sebut berisi “data penting”.
Klaim tersebut menyebar cepat di media sosial, khususnya di platform X (sebelumnya Twitter), dan memicu perdebatan serta rasa penasaran netizen. Namun, setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata narasi tersebut tidak berasal dari sumber resmi, dan akun yang menyebarkannya dipastikan palsu.
Berikut penelusuran lengkap mengenai isu yang menjadi perbincangan hangat ini.
Viralnya Klaim Flashdisk: Bermula dari Akun Palsu
Isu tentang flashdisk putih mencuat setelah sebuah unggahan dari akun X bernama @SahroniNasDem dengan nama tampilan “Sahroni Berdikari” mengklaim bahwa Ahmad Sahroni kehilangan tas selempang Louis Vuitton yang berisi barang-barang pribadi, termasuk flashdisk putih dengan data penting. Dalam unggahan tersebut, akun itu menawarkan hadiah bagi siapa saja yang menemukan dan mengembalikannya.
Unggahan ini menyebar dalam bentuk tangkapan layar, baik di media sosial seperti Facebook maupun di aplikasi percakapan seperti WhatsApp dan Telegram. Banyak yang mengira akun tersebut benar-benar milik Ahmad Sahroni, mengingat tampilannya menggunakan foto profil politisi tersebut dan centang biru yang selama ini identik dengan akun resmi.
Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan keabsahan informasi tersebut, apalagi ketika unggahan itu tidak diikuti oleh pernyataan resmi dari pihak yang bersangkutan.
Fakta: Akun Palsu dan Disinformasi
Setelah ditelusuri oleh berbagai media dan pemeriksa fakta independen, termasuk Liputan6.com, TurnBackHoax, dan Jawa Pos, ditemukan bahwa akun @SahroniNasDem bukan merupakan akun resmi Ahmad Sahroni. Akun tersebut juga baru dibuat dan tidak memiliki riwayat aktivitas yang kredibel sebelumnya.
Pihak Fraksi Partai NasDem DPR RI melalui Ketua Fraksi, Viktor Bungtilu Laiskodat, telah mengeluarkan pernyataan tegas yang membantah klaim tersebut. Ia menyatakan bahwa unggahan itu berasal dari akun palsu dan merupakan bentuk disinformasi yang merugikan baik secara pribadi maupun kelembagaan.
“Itu akun palsu. Sama sekali bukan milik atau dikelola oleh Ahmad Sahroni maupun timnya. Kami menduga ini merupakan bentuk upaya pembunuhan karakter dan manipulasi opini publik yang sangat berbahaya,” ujar Viktor dalam keterangan tertulis, Kamis (4/9/2025).
Ia menambahkan bahwa pihak Fraksi NasDem mendorong aparat penegak hukum untuk mengusut akun tersebut dan memberikan sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku.
Ahli Siber: Waspadai Modus Manipulasi dan Scam Digital
Pengamat keamanan siber Alfons Tanujaya menjelaskan bahwa situasi ini mencerminkan makin canggihnya modus manipulasi di dunia digital. Ia menyebut, sejak platform X mengubah kebijakan verifikasi akun, centang biru tidak lagi menandakan akun terverifikasi secara identitas, melainkan bisa dibeli melalui layanan berlangganan X Premium.
“Masyarakat masih banyak yang mengira centang biru itu jaminan akun resmi. Padahal sekarang tidak lagi. Akun palsu bisa membeli centang biru dan menyamar sebagai tokoh publik untuk menyebarkan hoaks atau bahkan melakukan penipuan,” katanya.
Alfons mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi silang, mengecek ke media arus utama atau situs resmi, serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang berasal dari akun tidak kredibel.
Spekulasi dan Dampaknya di Masyarakat
Munculnya isu flashdisk putih yang diklaim berisi “data penting” memunculkan banyak spekulasi liar. Beberapa warganet bahkan mengaitkannya dengan teori konspirasi, video pribadi, dokumen politik rahasia, hingga tuduhan korupsi. Padahal, tidak ada satu pun bukti valid yang mendukung narasi tersebut.
Narasi ini justru memperkeruh suasana di tengah kondisi sosial-politik yang sedang memanas. Bahkan, muncul beberapa tautan mencurigakan yang menjanjikan “isi flashdisk” dalam bentuk video atau dokumen, padahal itu merupakan scam atau upaya penyebaran malware.
Dalam konteks ini, disinformasi bukan hanya merugikan tokoh publik yang dicatut namanya, tetapi juga mengancam masyarakat luas karena bisa menjadi pintu masuk kejahatan siber dan manipulasi opini.
Pentingnya Verifikasi dan Keberimbangan
Sebagai bagian dari upaya memberikan informasi yang benar, media harus tunduk pada Kode Etik Jurnalistik. Dalam melaporkan isu ini, redaksi mengedepankan prinsip:
- Independensi dan kebenaran informasi (Pasal 1),
- Uji informasi dan verifikasi data (Pasal 3),
- Tidak mencampurkan opini yang menghakimi dalam pemberitaan (Pasal 4),
- Tidak menyebarkan berita bohong (hoaks) (Pasal 5).
Dalam hal ini, redaksi menegaskan bahwa tidak ada konfirmasi resmi dari Ahmad Sahroni atau timnya mengenai keberadaan flashdisk, apalagi isi di dalamnya. Semua informasi yang menyebar berasal dari sumber tidak dapat dipercaya dan belum terverifikasi.
Penutup: Hati-Hati dan Jangan Mudah Percaya
Masyarakat Indonesia dihadapkan pada tantangan besar dalam menyaring informasi di era digital. Kabar mengenai flashdisk putih Ahmad Sahroni adalah contoh nyata bagaimana sebuah kebohongan bisa menjadi viral, bahkan menimbulkan keresahan massal.
Penting bagi pengguna media sosial untuk:
Mendukung media yang memverifikasi dan menyajikan informasi dengan integritas jurnalistik.
Selalu memeriksa keaslian akun,
Tidak mudah membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya,
Melaporkan akun-akun mencurigakan kepada platform terkait,

