Jakarta, Mata4.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa nilai impor Indonesia pada Agustus 2025 mengalami penurunan signifikan sebesar 6,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Data ini menjadi sorotan karena bukan hanya menunjukkan penurunan aktivitas perdagangan internasional, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap laju pertumbuhan sektor industri dan manufaktur nasional.
Dalam konferensi pers rutin bulanan, Plt. Kepala BPS, Ir. Yulia Wulandari, menyampaikan bahwa nilai total impor Indonesia pada Agustus 2025 tercatat sebesar USD 18,3 miliar, turun dari USD 19,6 miliar pada Juli 2025.
“Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya impor barang konsumsi dan bahan baku/penolong. Sementara untuk barang modal, meski turun, kontribusinya terhadap total impor tetap signifikan,” jelas Yulia di Jakarta, Selasa (1/10/2025).
Rincian Jenis Barang yang Turun
- Barang konsumsi: turun 4,2%
- Bahan baku/penolong: turun 7,1%
- Barang modal: turun 6,3%
Penurunan terbesar terjadi pada kategori bahan baku dan penolong, yang selama ini mendominasi lebih dari 70% total impor Indonesia. Kategori ini sangat penting untuk mendukung kegiatan industri, khususnya manufaktur, tekstil, makanan-minuman, dan otomotif.
Apa Penyebabnya?
Berbagai analis menyebutkan bahwa penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik:
- Pelemahan Permintaan Industri Domestik
Banyak pelaku industri menahan pembelian bahan baku akibat perlambatan produksi serta menurunnya permintaan dari konsumen dalam negeri. - Fluktuasi Nilai Tukar dan Harga Komoditas
Meski Rupiah sempat menguat terhadap Dolar AS pada awal Agustus, harga bahan baku impor dari beberapa negara, seperti minyak dan kimia dasar, justru meningkat. - Kebijakan Pengendalian Impor oleh Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan mengatur ulang izin impor untuk barang-barang tertentu guna mendorong substitusi produk lokal dan menjaga neraca perdagangan.
Dampak Terhadap Dunia Usaha
Pelaku usaha menyampaikan kekhawatiran terkait kelanjutan pasokan bahan baku jika tren penurunan impor ini terus berlanjut. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebutkan bahwa meski tujuan jangka panjangnya baik, dalam jangka pendek industri manufaktur berisiko mengalami perlambatan.
“Kami mengapresiasi upaya pemerintah untuk menyeimbangkan neraca perdagangan, tetapi perlu diantisipasi dampak terhadap produksi dalam negeri, terutama bagi industri yang 80–90% bahan bakunya masih impor,” ujar Ketua Apindo, Hariyadi Sukamdani.
Sektor manufaktur yang paling terdampak adalah tekstil, elektronik, otomotif, dan makanan olahan.
Langkah Pemerintah dan Strategi Lanjutan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebutkan bahwa pemerintah telah menyiapkan beberapa kebijakan lanjutan, di antaranya:
- Insentif untuk substitusi impor melalui peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.
- Peningkatan daya saing industri melalui penguatan riset dan teknologi.
- Percepatan implementasi kebijakan hilirisasi, terutama di sektor mineral dan pertanian.
“Kami mendorong agar penurunan impor ini tidak mengganggu jalannya industri. Pemerintah akan menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan kemandirian nasional,” ujar Airlangga.
Pandangan Ekonom
Ekonom senior Bank Mandiri Institute, Dr. Andi Widjajanto, menilai penurunan ini dapat menjadi sinyal positif jika diiringi peningkatan produksi dalam negeri. Namun, ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru menekan impor tanpa kesiapan sektor produksi domestik.
“Kalau penurunan impor ini karena efisiensi dan penguatan produk lokal, tentu baik. Tapi jika karena lemahnya permintaan dan perlambatan industri, itu justru sinyal yang perlu diwaspadai,” kata Andi.
Neraca Perdagangan Tetap Surplus
Meski impor turun, ekspor Indonesia pada Agustus 2025 tercatat naik tipis 1,8% menjadi USD 22,1 miliar, sehingga neraca perdagangan masih mengalami surplus sebesar USD 3,8 miliar. Ini menandai surplus neraca perdagangan Indonesia selama 40 bulan berturut-turut.
Namun surplus ini disebut belum mencerminkan kekuatan ekonomi struktural jika penurunan impor disebabkan oleh lesunya produksi domestik.
Kesimpulan
Penurunan impor Indonesia pada Agustus 2025 sebesar 6,56% mencerminkan dinamika ekonomi global dan domestik yang saling memengaruhi. Di tengah upaya pemerintah mendorong substitusi impor dan menjaga neraca dagang, penting untuk tetap mengamankan pasokan bahan baku industri agar kegiatan produksi tidak terganggu.
Ke depan, keseimbangan antara efisiensi perdagangan dan keberlangsungan industri dalam negeri menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil, inklusif, dan berkelanjutan.

