Jakarta, Mata4.com — Harga emas dunia kembali menguat setelah pernyataan terbaru dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, mengenai rencana kebijakan ekonomi jika terpilih kembali dalam pemilu mendatang. Pasar global merespons dengan antusias terhadap sinyal kebijakan pemotongan pajak dan deregulasi sektor keuangan yang ia sampaikan, mendorong kenaikan signifikan pada harga logam mulia, termasuk emas.
Berdasarkan data perdagangan internasional, harga emas di pasar spot tercatat naik sebesar 1,8 persen, mencapai level USD 1.945 per troy ounce, sementara harga emas berjangka Amerika Serikat juga naik ke angka USD 1.950 per troy ounce. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, yang biasanya diminati saat terjadi ketidakpastian ekonomi atau politik.
Dalam pidatonya di sebuah forum ekonomi di Houston, Texas, pada Rabu (8/10), Trump menyatakan bahwa salah satu prioritas utamanya adalah memangkas pajak korporasi secara signifikan, serta mendorong deregulasi terhadap industri keuangan dan energi. Ia berargumen bahwa langkah-langkah tersebut bertujuan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi nasional dan menarik investasi asing ke Amerika Serikat.
“Kita akan membuat pajak lebih ringan bagi pengusaha, membuka lebih banyak lapangan pekerjaan, dan menghapus regulasi yang membebani bisnis Amerika,” kata Trump dalam pidatonya yang disiarkan secara langsung oleh beberapa media nasional AS.
Respons Pasar dan Pelaku Industri
Kebijakan ini langsung mendapat respons dari pasar komoditas global. Investor menilai bahwa pelonggaran fiskal yang diusulkan Trump berpotensi melemahkan nilai tukar dolar AS dalam jangka menengah, yang pada gilirannya membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor internasional.
Analis pasar dari Goldstone Capital, Linda Hartono, menjelaskan bahwa emas sering kali menjadi pilihan utama investor ketika terjadi ketidakpastian atau potensi inflasi. “Kebijakan Trump, jika benar-benar dijalankan, bisa memperbesar defisit anggaran AS. Hal ini membuat pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan peningkatan inflasi, yang secara historis mendorong harga emas naik,” ujarnya saat diwawancarai oleh media.
Menurut Linda, logam mulia juga menjadi pilihan strategis di tengah masih berlangsungnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok yang belum sepenuhnya mereda. Situasi ini menambah urgensi bagi investor untuk mengalihkan sebagian aset mereka ke instrumen yang lebih stabil.
Sementara itu, Chief Market Strategist dari Global Futures Inc., Michael Warren, mengatakan bahwa lonjakan harga emas kali ini tidak semata-mata karena faktor Trump, tetapi juga karena lemahnya data tenaga kerja AS pekan ini dan meningkatnya ekspektasi bahwa The Federal Reserve mungkin menunda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
“Ini adalah kombinasi dari banyak faktor, tetapi pernyataan Trump menjadi katalis utama dalam beberapa hari terakhir,” ujar Warren.
Kritik dan Kehati-hatian dari Sejumlah Ekonom
Meskipun ada sentimen positif dari sebagian pelaku pasar, sejumlah ekonom mengingatkan agar kebijakan ekonomi yang bersifat ekspansif tidak dilakukan tanpa perhitungan matang. Profesor Richard Evans, ekonom dari Universitas Chicago, menyatakan bahwa pemotongan pajak tanpa diimbangi dengan reformasi belanja pemerintah berisiko memperburuk posisi fiskal negara.
“Kita harus berhati-hati. Pemotongan pajak besar-besaran di masa lalu pernah meningkatkan pertumbuhan, tetapi juga memperlebar defisit. Dalam kondisi ekonomi global yang tidak pasti, ruang fiskal kita terbatas,” katanya.
Kritikus juga mempertanyakan efektivitas deregulasi sektor keuangan, mengingat potensi risiko sistemik yang dapat timbul apabila pengawasan terhadap lembaga keuangan dilemahkan. Mereka mengingatkan bahwa kebijakan serupa pernah berkontribusi terhadap krisis keuangan 2008.
Belum Ada Tanggapan Resmi dari Federal Reserve
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Federal Reserve terkait arah kebijakan moneter pasca pernyataan Trump. Namun sejumlah analis memperkirakan bahwa bank sentral AS akan terus memantau perkembangan inflasi dan stabilitas ekonomi secara ketat sebelum mengambil langkah apapun terhadap suku bunga acuan.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, harga emas diperkirakan tetap berada dalam tren menguat, meskipun fluktuasi masih mungkin terjadi tergantung pada dinamika politik AS menjelang pemilu, serta perkembangan ekonomi global secara keseluruhan.

