Bekasi, Mata4.com – Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Haris Bobihoe, memaknai Idul Fitri tidak hanya sebagai momentum ibadah tahunan, tetapi juga sebagai ruang mempererat silaturahmi bersama keluarga dan kerabat.
Menurutnya, esensi Lebaran terletak pada saling memaafkan antar sesama manusia, sekaligus memperkuat hubungan sosial yang kerap terpisah oleh kesibukan sehari-hari.
“Ibadah ini datang setiap tahun, namun nilai silaturahmi dan kebersamaan yang dibangun menjadi hal utama,” ujarnya.
Sebagai putra daerah asal Gorontalo, Bobihoe memiliki kenangan kuat terhadap tradisi khas yang mewarnai perayaan Idul Fitri di kampung halamannya. Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Tumbilotohe, yang dilaksanakan pada tiga malam terakhir Ramadan dengan menyalakan lampu di halaman rumah dan sepanjang jalan. Tradisi ini menjadi simbol penerangan dan harapan menjelang hari kemenangan.
Selain itu, masyarakat Gorontalo juga mengenal perayaan Lebaran Ketupat yang berlangsung pada 7 Syawal, atau sepekan setelah Idul Fitri. Perayaan ini identik dengan suasana kebersamaan, di mana warga menyediakan makanan secara gratis bagi siapa saja yang datang berkunjung. Tradisi tersebut banyak dijumpai di kawasan perkampungan Jawa Tondano, seperti Yosonegoro, yang menjadi pusat perayaan.
“Setiap rumah terbuka, siapa saja boleh datang dan makan bersama. Ini mencerminkan nilai kekeluargaan dan persatuan yang sangat kuat,” kata Bobihoe, yang juga terlihat penyayang kucing itu, di Kota Bekasi, Selasa (17/3).
Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat Gorontalo mengenal konsep “dua kali Lebaran”. Setelah Idul Fitri, sebagian warga melanjutkan puasa Syawal, kemudian kembali merayakan Lebaran Ketupat di hari ketujuh. Bahkan, menurutnya, suasana pada Lebaran kedua tersebut kerap lebih meriah karena seluruh keluarga besar berkumpul kembali.
Tradisi kuliner juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan, salah satunya melalui sajian khas seperti Kue Karawo yang memiliki motif unik menyerupai sulaman, mencerminkan kekayaan budaya lokal.
Dalam kehidupan pribadinya, Bobihoe mengaku bahwa kebiasaan pulang kampung ke Gorontalo kini telah berubah sejak kedua orang tuanya wafat. Ia kini merayakan Lebaran bersama keluarga di kediaman mertua di kawasan Cinere, serta di rumahnya sendiri di Bekasi.
Momentum Idul Fitri juga dimanfaatkannya untuk menggelar open house pada hari pertama dan kedua Lebaran sebagai sarana menjalin silaturahmi dengan masyarakat dan berbagai elemen.
Tahun 2026 menjadi momen istimewa bagi Bobihoe, karena untuk kedua kalinya ia merayakan Idul Fitri dalam kapasitasnya sebagai Wakil Wali Kota Bekasi. Ia menilai, pengalaman tersebut memberikan makna tersendiri sebagai ajang refleksi diri atas perjalanan selama satu tahun terakhir.
“Maknanya sangat banyak, terutama untuk refleksi diri dan memperbaiki ke depan,” ujarnya.
Ia berharap, semangat kebersamaan yang tercermin dalam tradisi Lebaran dapat terus terjaga di Kota Bekasi. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga kondusivitas serta memperkuat persatuan.
“Ke depan, kami berharap Kota Bekasi semakin solid dengan kolaborasi yang terus terjalin di berbagai elemen masyarakat,” kata Bobihoe. (Nugie)
