Bekasi – Bulan Agustus 2025 menjadi mimpi buruk bagi pelaku usaha hotel di Kota Bekasi. Tingkat hunian kamar yang biasanya menjadi nafas utama bisnis perhotelan justru terjun bebas. Angka okupansi bahkan tak mampu menembus 20%, sementara sebagian hotel hanya mencatatkan angka di bawah 10%.
Situasi ini bukan sekadar catatan penurunan angka, tetapi menjadi alarm serius bagi keberlangsungan industri perhotelan di Kota Bekasi. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan hanya hotel yang terpukul, tetapi juga kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor hotel dan restoran akan ikut terganggu.
Di tengah suasana suram itu, BPC PHRI Kota Bekasi menggelar Rapat Pengurus sekaligus Kopdar ke-4 di Hotel Merapi Merbabu. Pertemuan ini menjadi ruang penting bagi para General Manager dan perwakilan hotel untuk duduk bersama, berbagi realita pahit, sekaligus menyatukan tekad menghadapi badai.
Ketua PHRI Kota Bekasi, Yogi Kurniawan, menekankan pentingnya persatuan. “Ketika okupansi jatuh di titik terendah, kita tidak boleh berjalan sendiri. Kebersamaan adalah kunci agar perhotelan di Bekasi tetap bertahan,” ungkapnya.
Senada, Sekretaris PHRI Kota Bekasi, Wahyudi Yuka, menyebut Kopdar kali ini lebih dari sekadar forum koordinasi. “Di sinilah kita menyatukan langkah, memperjuangkan aspirasi bersama, dan mengingatkan semua pihak bahwa industri perhotelan adalah bagian vital ekonomi Bekasi,” ujarnya.
Meski situasi berat membayangi, semangat kebersamaan justru semakin menguat. Para anggota PHRI Kota Bekasi sepakat untuk tetap solid, saling menopang, dan bergerak kolektif agar dunia perhotelan tidak tenggelam di tengah tekanan.
Kopdar ke-4 ini pun menorehkan pesan penting: di tengah gelapnya angka okupansi, solidaritas menjadi cahaya yang menuntun perhotelan Kota Bekasi menuju harapan baru.
