Donetsk, Mata4com – Situasi di Ukraina timur kembali memanas. Pasukan Rusia dilaporkan terus melakukan penetrasi ke wilayah Donetsk dengan kemajuan bertahap. Meski tidak berlangsung cepat, langkah ini dinilai strategis karena Rusia mencoba mengintip kelemahan pertahanan Ukraina di sejumlah titik.
Serangan Bertahap di Donetsk
Salah satu kemajuan signifikan terjadi di sekitar kota Dobropillya, Donetsk utara. Pasukan Rusia dilaporkan bergerak maju melalui dua jalur serangan yang digambarkan menyerupai “telinga kelinci”, menandakan adanya upaya mengepung wilayah pertahanan Ukraina dari dua sisi.
Bentrokan sengit di kawasan ini menyebabkan kerugian besar bagi kedua belah pihak. Laporan dari lapangan menyebut lebih dari 120 ribu prajurit Ukraina telah gugur sejak invasi berlangsung, meski angka ini masih diperdebatkan karena sulit diverifikasi secara independen.
Ukraina Bertahan di Tengah Tekanan
Meski menghadapi tekanan besar, pasukan Ukraina tetap berusaha mempertahankan posisi mereka. Pertahanan berlapis yang dibangun sejak awal invasi menjadi benteng utama menghadapi gempuran Moskow. Namun, analis militer memperingatkan bahwa kelelahan personel dan keterbatasan logistik bisa melemahkan daya tahan Ukraina dalam jangka panjang.
“Pertahanan Ukraina masih solid, tetapi ada tanda-tanda keretakan. Rusia mencoba memanfaatkan celah itu dengan serangan bertahap, bukan frontal,” kata seorang analis keamanan Eropa.
Peran Amerika Serikat
Di tengah pertempuran yang terus berlangsung, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah berupaya menengahi kesepakatan damai antara Moskow dan Kiev. Langkah diplomasi ini muncul setelah serangkaian pertemuan dengan perwakilan Eropa dan NATO.
Namun, peluang perdamaian masih jauh dari kepastian. Ukraina tetap menegaskan tidak akan menyerahkan wilayahnya, sementara Rusia menginginkan pengakuan atas kendali di beberapa daerah yang sudah diduduki.
Risiko Jangka Panjang
Kemajuan Rusia di Donetsk menimbulkan kekhawatiran akan semakin panjangnya konflik. Selain menelan banyak korban jiwa, pertempuran juga menghancurkan infrastruktur penting, memicu krisis kemanusiaan, dan memperburuk stabilitas keamanan regional.
PBB mencatat ribuan warga sipil harus mengungsi dari Donetsk dan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir. Mereka terpaksa meninggalkan rumah karena khawatir serangan akan terus meluas ke wilayah pemukiman.
Harapan Solusi Damai
Sejumlah pihak menyerukan gencatan senjata segera agar dialog damai bisa dimulai kembali. Namun, situasi di lapangan menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih sama-sama fokus pada perhitungan militer ketimbang politik.
“Selama kedua negara masih percaya bahwa kemenangan bisa dicapai di medan perang, jalan diplomasi akan sulit ditempuh,” ujar seorang pengamat hubungan internasional di Kyiv.
