Bekasi, Mata4com – Ketua FPIPPWK, Dr. Prabawa Eka Soesanta, menegaskan pentingnya pendidikan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan sebagai fondasi utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di tengah dinamika masyarakat urban seperti Kota Bekasi.
Menurutnya, Indonesia sejak awal berdiri bukan karena kesamaan latar belakang, melainkan kesepakatan untuk hidup bersama dalam keberagaman dengan berlandaskan Pancasila.
“Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi juga perekat keberagaman bangsa,” ujarnya, Sabtu (9/5).
Ia menilai, di tengah arus globalisasi dan perkembangan digital yang pesat, pendidikan Pancasila tidak cukup hanya bersifat formal dan teoritis. Nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, musyawarah, dan keadilan sosial harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, Prabawa mengakui masih terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah belum terinternalisasinya nilai-nilai Pancasila secara utuh, terutama di kalangan generasi muda. Selain itu, derasnya arus informasi di media sosial turut memicu penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial.
“Kita menghadapi tantangan besar di ruang digital. Generasi muda sangat rentan terhadap pengaruh informasi yang tidak sehat,” katanya.
Ia juga menyoroti perubahan pola hidup masyarakat perkotaan yang cenderung individualistis, sehingga nilai kepedulian sosial dan gotong royong mulai melemah.
Dalam konteks Kota Bekasi, Prabawa menyebut wilayah ini sebagai miniatur Indonesia karena tingkat keberagamannya yang tinggi. Dengan jumlah penduduk lebih dari 2,5 juta jiwa dan dominasi usia produktif, Bekasi memiliki potensi besar sekaligus tantangan sosial yang kompleks.
“Urbanisasi, persaingan kerja, hingga tekanan ekonomi menjadi tantangan yang harus diimbangi dengan penguatan karakter kebangsaan,” jelasnya.
Ke depan, FPIPPWK berencana mendorong penguatan ideologi Pancasila melalui pendekatan yang lebih relevan dengan generasi muda. Program tersebut meliputi edukasi berbasis digital, forum diskusi, kolaborasi lintas elemen masyarakat, hingga penguatan melalui jalur seni dan budaya.
Selain itu, literasi digital juga menjadi fokus untuk menangkal penyebaran informasi negatif serta memperkuat konten-konten positif yang mendorong persatuan.
Prabawa berharap seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, peran keluarga, hingga komunitas pemuda, dapat terlibat aktif dalam gerakan penguatan nilai-nilai Pancasila, yang juga diikuti oleh peran Pers.
“Menjaga Pancasila berarti menjaga masa depan Indonesia. Ini bukan tugas satu pihak, tetapi tanggung jawab bersama,” pungkasnya.
Penulis: Nugie
