Jakarta, Mata4.com — Penggunaan kata “Shalom” dalam pidato Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, saat Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 di New York, Amerika Serikat, menjadi perhatian media Israel dan sejumlah pengamat internasional. Kata “Shalom” yang berasal dari bahasa Ibrani, berarti damai dan kesejahteraan, menjadi simbol penting dalam pidato Prabowo yang diangkat sebagai wujud diplomasi budaya dan diplomasi multilateral Indonesia di forum global.
Konteks Pidato dan Signifikansi Kata “Shalom”
Pidato Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang disampaikan pada Senin (23/9) di hadapan perwakilan negara-negara anggota PBB menandai salah satu momen diplomasi Indonesia yang mendapat sorotan internasional. Dalam pembukaan pidatonya, Prabowo memilih mengucapkan “Shalom” sebagai salam pembuka, yang secara budaya dan linguistik merupakan simbol perdamaian dan keselamatan dalam tradisi Yahudi.
Pilihan kata ini bukan hanya sekadar sapaan formal, melainkan sebuah pesan simbolik yang menunjukkan sikap terbuka Indonesia dalam memperjuangkan perdamaian dan kerjasama antarbangsa. Hal ini menjadi berita utama di sejumlah media Israel seperti Haaretz, The Times of Israel, dan Jerusalem Post. Media-media ini memandang penggunaan kata “Shalom” sebagai isyarat diplomasi yang jarang dilakukan oleh pejabat tinggi Indonesia mengingat sejarah hubungan kedua negara.
Pandangan Media Israel dan Internasional
Haaretz menulis, “Penggunaan kata ‘Shalom’ oleh Menteri Pertahanan Indonesia yang berasal dari negara dengan populasi Muslim terbesar dunia adalah tanda hormat dan harapan akan perdamaian.” The Times of Israel menambahkan bahwa pidato Prabowo memberikan sinyal positif dalam konteks hubungan bilateral yang selama ini kurang berkembang secara resmi. Jerusalem Post juga menyoroti sikap inklusif Indonesia yang berupaya membangun dialog lintas budaya dan agama di forum global.
Selain media Israel, sejumlah pengamat dan lembaga internasional menilai langkah ini sebagai bagian dari diplomasi multilateral yang menggunakan simbol dan bahasa sebagai alat soft power. Bahasa yang inklusif dan simbol damai dapat menjadi kunci membangun jembatan komunikasi yang kuat di tengah situasi geopolitik yang kompleks dan dinamis.
Analisis Pengamat Hubungan Internasional
Dr. Ratna Sari Dewi, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa penggunaan kata “Shalom” merupakan salah satu bentuk diplomasi budaya yang strategis. “Dalam forum multilateral seperti PBB, kata-kata dan simbol yang digunakan pejabat negara bukan sekadar retorika, tapi mengandung makna diplomasi yang mendalam. ‘Shalom’ adalah pesan universal yang menekankan perdamaian dan penghormatan terhadap keberagaman budaya,” jelasnya.
Menurut Dr. Ratna, langkah ini juga mencerminkan sikap Indonesia yang selama ini konsisten dalam mendukung penyelesaian konflik melalui jalur damai dan dialog. “Meskipun Indonesia belum menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Israel, penggunaan simbol seperti ini menunjukkan niat baik dan keterbukaan terhadap semua pihak di panggung dunia,” tambahnya.
Prof. Ahmad Haris, pakar diplomasi internasional dari Universitas Gadjah Mada, menilai bahwa simbolisme tersebut dapat memperhalus citra Indonesia di mata dunia dan berfungsi sebagai alat diplomasi lunak (soft diplomacy). “Dalam hubungan internasional, bahasa simbolik bisa mengurangi ketegangan dan membuka peluang dialog yang konstruktif, tanpa harus mengubah kebijakan resmi secara langsung,” tuturnya.
Reaksi di Dalam Negeri: Ragam Pendapat dan Sensitivitas Politik
Respons masyarakat Indonesia terhadap penggunaan kata “Shalom” dalam pidato Prabowo cukup beragam. Sebagian kalangan mengapresiasi sebagai bentuk diplomasi modern yang mengedepankan perdamaian dan inklusivitas. Beberapa tokoh masyarakat dan aktivis perdamaian menganggap langkah ini sebagai cara yang tepat untuk menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
Namun, ada pula yang mengingatkan agar pemerintah tetap menjaga sensitivitas politik dan sejarah panjang dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina. Beberapa kelompok masyarakat dan organisasi keagamaan menganggap penggunaan kata ini harus dilihat secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bahwa Indonesia mengubah sikap resmi terhadap Israel.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia menegaskan dalam konferensi pers bahwa penggunaan kata “Shalom” dalam pidato bukanlah indikasi perubahan kebijakan luar negeri. “Indonesia tetap konsisten mendukung penyelesaian damai dan berkeadilan sesuai resolusi PBB, serta menghormati kedaulatan negara-negara yang bersangkutan,” ujarnya. Pemerintah menekankan pentingnya menjaga prinsip-prinsip perdamaian dan dialog dalam diplomasi internasional.
Sejarah dan Dinamika Hubungan Indonesia-Israel
Sejak kemerdekaan Indonesia, negara ini belum menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Israel, meskipun pernah ada komunikasi informal dan kerja sama terbatas di bidang ekonomi dan budaya. Sikap Indonesia didasarkan pada solidaritas terhadap rakyat Palestina dan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan bangsa.
Dinamika hubungan Indonesia dan Israel terus berkembang, terutama dalam konteks diplomasi tidak resmi dan kerja sama lintas sektor. Beberapa dekade terakhir menunjukkan adanya peningkatan komunikasi informal, yang meskipun belum membawa kepada normalisasi hubungan, memperlihatkan adanya ruang dialog yang terus bertumbuh.
Penggunaan kata “Shalom” oleh Menteri Pertahanan Indonesia menjadi simbol dari dinamika tersebut, memperlihatkan upaya diplomasi multilateral yang inklusif, di mana bahasa dan simbol digunakan sebagai alat untuk membangun pengertian dan meredam ketegangan.
Diplomasi Multilateral dan Peran Bahasa Simbolik
Forum PBB merupakan arena diplomasi multilateral yang memungkinkan negara-negara menyampaikan visi dan kebijakan mereka di hadapan komunitas internasional. Bahasa dan simbol dalam pidato menjadi alat penting untuk menyampaikan pesan secara efektif dan menyentuh nilai-nilai universal seperti perdamaian, hak asasi manusia, dan kerjasama global.
Menurut Dr. Maya Kusuma, pakar komunikasi politik dari Universitas Airlangga, “Bahasa simbolik seperti ‘Shalom’ berfungsi sebagai alat soft power yang dapat membangun jembatan emosional dan intelektual antarnegara. Hal ini membantu menciptakan suasana dialog yang kondusif di tengah kompleksitas geopolitik.”
Dalam konteks Sidang Umum PBB ke-80, pesan perdamaian melalui bahasa yang inklusif menjadi semakin relevan mengingat berbagai tantangan global yang dihadapi, mulai dari konflik bersenjata, perubahan iklim, hingga krisis kemanusiaan yang membutuhkan kerja sama kolektif.
Komitmen Media dalam Melaporkan Berita dengan Etika Jurnalistik
Dalam penulisan berita ini, kami berkomitmen untuk menjaga akurasi, keberimbangan, dan objektivitas sesuai dengan kode etik jurnalistik. Informasi diperoleh dari sumber resmi, pernyataan langsung, media terpercaya, dan pendapat para ahli yang kredibel. Kami menghindari penyebaran spekulasi atau informasi yang belum terverifikasi guna menjaga integritas dan kepercayaan publik.
Berita ini disajikan untuk memberikan gambaran utuh dan berimbang mengenai penggunaan kata “Shalom” dalam pidato Menteri Pertahanan Indonesia, dengan mempertimbangkan konteks politik, budaya, dan diplomasi internasional.

